Loading...

PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG, ANTARA KENDALA DAN PELUANG

PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG, ANTARA KENDALA DAN PELUANG
Jagung merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum dan padi. Bagi sebagian penduduk Indonesia, jagung adalah pangan pokok, sebagaimana halnya pada beberapa penduduk di belahan dunia lain seperti Afrika maupun Amerika. Selain menjadi kebutuhan manusia, di masa kini jagung juga sudah menjadi komponen penting bahan pakan ternak. Penggunaan lainnya dari jagung adalah sebagai sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Beraneka macam produk turunan hasil jagung juga menjadi bahan baku berbagai produk industri. Beberapa di antaranya adalah bioenergi, industri kimia, kosmetika, dan farmasi. Di Indonesia saat ini, jagung termasuk salah satu komoditi yang diprogramkan harus ditingkatkan produksinya sebagaimana halnya padi dan kedelai. Program ini dikenal dengan Upaya Khusus (UPSUS)-Peningkatan produksi padi jagung dan kedele (pajale). Upaya peningkatan produksi pada jagung ini diarahkan untuk mencapai swasembada secara bekelanjutan. Namun demikian, dalam pelaksanaan di lapangan, tentu saja masih terdapat sejumlah kendala dan masalah yang perlu diselesaikan. Diantaranya adalah belum teradopsinya dengan baik sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di kalangan petani jagung. Beberapa masalah PTT tersebut antara lain adalah dalam hal : Penggunaan Benih Unggul. Penggunaan benih unggul merupakan kunci utama untuk peningkatan produktivitas jagung. Dalam kaitan ini pemerintah mendorong penggunaan benih jagung hibrida unggul karena memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Hingga saat ini, tingkat penggunaan benih jagung hibrida masih rendah yaitu baru sekitar 56% dari total pertanaman. Tingkat penggunaan benih unggul yang masih rendah ini antara lain disebabkan karena harga benih jagung hibrida relatif mahal sehingga tidak terjangkau oleh sebagaian besar petani. Selain masalah harga, distribusi benih unggul jagung hibrida yang belum meluas juga menjadi kendala bagi petani untuk menanam jagung varietas unggul tersebut Pemupukan Berimbang. Penerapan penggunaan pupuk berimbang juga belum sepenuhnya diterapkan oleh petani, sehingga masih menjadi kendala dalam pengembangan jagung. Saat ini, sebagian besar petani belum menerapkan prinsip pemupukan sesuai rekomendasi sehingga produktivitas hasil tidak maksimal sesuai potensi. Sejumlah kendala yang sering dihadapi petani jagung dalam kaitan dengan hal ini yaitu keterbatasan modal dan ketersediaan pupuk tepat waktu dan tepat jumlah. Terkait dengan permodalan, sebagian besar petani jagung masih menggunakan modal sendiri tanpa dukungan dari perbankan atau lembaga permodalan lainnya. Akibatnya, petani memupuk tanaman jaagungnya sesuai dengan kemampuan keuangannya. Sementara itu, di sejumlah daerah distribusi pupuk juga masih belum lancar sehingga sering terjadi pupuk tidak tersedia pada saat diperlukan. Kondisi di atas menyebabkan produktivitas jagung di tingkat petani masih terbilang rendah. Pasca Panen. Penanganan pasca panen sangat diperlukan mengingat hasil panen jagung mudah rusak jika tidak mendapat perlakuan pasca panen yang tepat. Sesuai aturan, sembilan jam setelah panen, jagung harus dikeringkan sampai kadar airnya mencapai 14-15%. Jika tidak maka jagung akan berjamur dan terkena aflatoxin. Kandungan aflatoxin yang tinggi bisa berbahaya bagi kesehatan. Misalnya saja, dapat menyebabkan keracunan pada unggas yang memakannya. Berdasarkan kenyataan di lapangan, sampai saat ini mayoritas petani belum melakukan penanganan pasca panen dengan baik dan benar. Setelah pemanenan, petani umumnya hanya mengeringkan di bawah sinar matahari. Pengeringan dengan cara ini sebenarnya cukup bisa menurunkan kadar air namun sulit untuk mencapai tingkat maksimum (15%). Selain itu, jika panen dilakukan pada musim hujan, pengeringan akan terkendala oleh cuaca yang kurang baik (mendung, hujan, dan lain-lain sebagainya). Untuk mengatasi hal tersebut di atas, seharusnya dilakukan pengeringan secara mekanis. Misalnya, dengan menggunakan alat pengering (dryer). Namun, ketersediaan dryer baik yang disediakan pemerintah maupun swasta masih sangat terbatas. Akibatnya kualitas jagung petani jarang mencapai tingkat terbaik (premium). Pengolahan pasca panen yang tidak maksimal ini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya susut hasil akibat kerusakan jagung. (Inang Sariati) Sumber:1. Pedoman Teknis GP-PTT Jagung 2015,Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian2. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung 3. https://www.google.com/search? =benih+padi