Upaya penigkatan produksi jgung masih terbuka lebar, baik melaui peningklatan produktivitas maupun perluasan areal pertanaman terutama di luar pulau Jawa. Meskipun produksi jagung hampir setiap tahun meningkat,namun hasil rata-rata jagung nasional dari areal panen sekitar 4,0 juta hektar baru mencapai 4,08 t/ha (BPS 2009).Upaya pengembangan jagung di Indonesia yaitu dengan memanfaatkan potensi lahan yang tersedia akan cepat berhasil sehingga petani akan akan memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan. Untuk itu diperlukan teknologi budidaya yang memberikan produktivitas yang tinggi per satuan luas lahan, biaya produksi efesien, dan kualitas produk tinggi agar jagung yang dihasilkan kompetitif.Upaya perluasan areal (ekstensifikasi) jagung secara horizontal nampaknya akan semakin sulit karena adanya kepentingan dari berbagai pihak, baik untuk pengembangan komoditas lain maupun bangunan, serta keterbatasan biaya dan tenaga. Salah satu peluang perluasan arela tanam untuk peningkatan produksi adalah melalui peningkatan indeks pertanaman (IP). Perluasan areal pertanaman jagung melalui peningkatan indeks pertanaman sudah mulai diterapkan oleh petani baru dua kali pada lahan sawah dalam satu tahun setelah padi maupun pada lahan kering, bergantung pada ketersediaan dan kecukupan air. Pada luasan terbatas terdapat areal yang mempunyai sumber air cukup untuk kebutuhan tanaman jagung sepanjang tahun dan berpeluang untuk dapat diusahakan untuk pertanaman jagubng lebih dari dua kali per tahun. Daerah yang secara spot-spot wilayahnya mempunyai potensi sumber air untuk pertanaman jagung sepanjang tahun berpeluang pula untuk dapat diusahakan bagi pertanaman jagung empat kali dalam setahun (IP 400 jagung)Teknologi ini dapat diterapkan petani dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi antara lain :1. Di lokasi penerapan IP 400 jagung harus cukup air terutama saat musim kemarau2. Lahan tidak mudah tergenang, jika tergenang air mudah diatur3. Tenaga kerja cukup tersedia4. Varietas jagung yang ditanam berumur ± 100 hariJika persyaratan tersebut dapat dipenuhi, maka peluang keberhasilan usahatani jagung ndengan IP 400 sangat besar sehingga produktivitas lahan akan meningkat.Penerapan IP 400 jagung di lahan kering dapat diupayakan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) 400 atau empat kali tanam dalam satu tahun (365( hari. Penamanam jagung dilakukan dengan cara sisip (relay planting), 15 hari sebelum panen pertanaman I. Varietas yang ditanam dapat dari jenis komposit atau hibrida yang umumnya ? 100 hari. Dalam penerapan (IP) 400 berarti penanaman dilakukan 4 kali dan panen dilakukan 4 kali, jika menggunakan varietas yang berumur > 100 hari berarti waktu yang diperlukan lebih dari 400 hari, sementara satu tahun terdiri atas 365 hari. Dengan cara tanam sisip 15 hari sebelum pertanaman I dipanen, maka waktu yang diperlukan berkisar 340-250 hari selama setahun. Penaman jagung dalam pola IP 400 dilakukan dengan cara tanam sistem jajar legowo, yaitu dengan pengaturan jarak tanam sempit (50 cm) untuk dua baris tanaman dan diikuti oleh jarak tanam lebar (100 cm) untuk barisan tanaman berikutnya. Sedangkan jarak tanam dalam barisan 20 cm, satu tanaman per lubang ditempatkan diantara dua tanaman sebelumnya. Penamanan dengan cara demikian populasi tanaman yang diperoleh yaitu 66.666 tanaman/ha sama dengan menggunakan jarak tanam 75 cm x 20 cm, satu tanaman/lubang. Pengaturan tanam dengan cara legowo dimaksudkan untuk memudahkan penanaman cara sisip pada pertanaman II. Selain itu juga untuk memudahkan pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida pada pertanaman I.Pada pertanaman II setelah benih tumbuh 7-10 HST, daun tanaman dari pertanaman I dipangkas pada bagian atas tongkolnya, untuk mempercepat pengeringan disamping memberikan peluang bagi pertanaman II yang baru tumbuh untuk mendapatkan sinar matahari penuh. Pemupukan I dilakukan sesaat setelah pemangkasan daun di bagian atas tongkol, sedangkan pemupukan II dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari dan kelobot pertanaman I telah mongering segera dilakukan panen dan pemangkasan batang. Pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi dan tanaman berpeluang tergenang, maka perlu dibuat saluran drainase diatara baris tanaman yang berjarak tanam lebar.Keuntungan Penerapan IP 400Kelebihan usahatani jagung dengan pola IP 400 pada lahan kering antara lain (1) produktivitas lahan secara kumulatif meningkat, dengan tingkat produktivitas ± 7 t/ha untuk jagung komposit (umur 90 hari), ± 10 t/ha untuk jagung hibrida (umur 100 hari) dan total produksi > 32 t/ha/tahun, (2) pengolahan tanah dilakukan cukup satu kali sebelum pertanaman I sehingga menghemat biaya, (3) berangkasan bekas tanaman I dapat digunakan sebagaim pakan ternak dan mulsa dan juga sebagai pupuk organik, (4) mulsa penutup tanah dapat mengurangi penguapan permukaan tanah dan mengurangi frekuansi pemberian air pada musim kemarau, (5) mulsa dapat mengurangi pertumbuhan gulma sehingga menghemat biaya penyiangan.Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Inovasi Teknologi Berbasis Ketahanan Pangan Berkelanjutan-Balitan Serealia, Puslitbang Tanaman Pangan 2010