Loading...

PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI DENGAN PEMANFAATAN LAHAN LEBAK

PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI DENGAN PEMANFAATAN LAHAN LEBAK
Berkurangnya lahan subur untuk usaha pertanian, merupakan salah satu masalah dan tantangan dalam pembangunan pertanian. Salah satu alternatif pemecahan masalah, yaitu dengan memanfaatkan lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut sebagai areal produksi pertanian dimasa yang akan datang. Hal ini terlihat dari luasnya lahan rawa yang mencapai 13.316 juta hektar rawa lebak, belum termasuk rawa pasang surut. Lahan lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal sebulan) digenangi air hujan, baik di tem pat itu sendiri atau aliran air hujan dari daerah sekitarnya. Berdasarkan tinggi permukaan air dan lamanya genangan air, maka lahan lebak dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu: 1) Lahan lebak dangkal, tinggi permukaan air kurang dari 50 cm dan lama genangan air kurang dari 3 bulan. Rawa lebak dangkal umumnya mempunyai tingkat kesuburan tanah yang lebih tinggi, karena endapan lumpur yang dibawa air sungai; 2) Lahan lebak tengahan, tinggi permukaan air 50 – 100 cm dan lama genangan air 3 - 6 bulan, untuk pertanaman memerlukan waktu lama menunggunya; dan 3) Lahan lebak dalam, tinggi permukaan air lebih dari 100 cm dan lama genangan air lebih dari 6 bulan, baru bisa digunakan secara optimal untuk pertanaman pada saat kemarau panjang. Pada musim kemarau, genangan pada rawa lebak menjadi hilang dan rawa menjadi kering, pada saat itulah lahan lebak dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Lahan lebak yang dimanfaatkan untuk usaha pertanian masih relatif kecil dan belum diusahakan secara optimal. Padahal teknologi pemanfaatannya sudah tersedia yang ditunjukkan oleh petani lokal yang telah berhasil mengembangkan berbagai model usaha pertanian dibeberapa lokasi lahan lebak dengan menerapkan teknologi kearifan lokal. Dengan demikian lahan lebak dapat untuk mendukung swasembada kedelai yang ditargetkan pada tahun 2015 - 2017. Pada tahun 2015, dengan sasaran produktivitas kedelai minimal sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas sebesar 0,2 ton/ha pada areal yang telah ditanami kedelai (existing). Budidaya kedelai dapat dilakukan pada lahan lebak dangkal maupun lahan lebak tengahan dengan pola tanam padi – palawija. Cara budidaya kedelai pada lahan lebak sebagai berikut: 1. PersiapanLahan lebak untuk ditanami kedelai disiapkan tanpa olah tanah. Setelah padi dipanen, jerami dipotong dekat dengan permukaan tanah, jerami digunakan untuk pakan atau ditinggal di lahan dimanfaatkan untuk mulsa atau dibakar. Jerami yang dibakar sesuai untuk sumber hara kalium. Dibuat saluran drainase dengan jarak antar saluran 5 - 6 m dengan ukuran lebar sekitar 40 cm dan kedalaman sekitar 60 cm. 2. BenihBenih kedelai yang ditanam harus berkualitas, yaitu bernas, memiliki daya tumbuh >85%, murni, sehat dan bersih. Kebutuhan benih antara 40-60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji, makin besar ukuran biji makin banyak benih yang dibutuhkan. Varietas kedelai yang dianjurkan untuk varietas biji besar, yaitu: Anjasmoro, Baluran, Rajabasa, Burangrang, Argomulyo. Sedangkan untuk varietas biji sedang, yaitu: Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai, Seulawah, Slamet, Sinabung, Wilis, dan Ijen. Untuk menjaga benih kedelai sehat perlu dilakukan perlakuan benih dengan carbosulfan atau fipronil untuk mengendalikan lalat bibit dan insekta lain. Untuk lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, perlu perlakuan benih dengan pupuk hayati rhizobium, yaitu dengan menggunakan 20 gram sumber rhizobium untuk setiap 1 kg benih kedelai. 3. TanamPopulasi tanaman antara 350.000 – 500.000 per hektar, dengan dua tanaman per lubang. Pada tanah yang subur dan cukup air, jarak tanam 40 x 15 cm, sedangkan pada tanah yang kurang subur dan air terbatas, jarak tanam 40 x 10 cm. 4. PupukAmeliorasi (memperbaiki) tanah diperlukan untuk memperoleh lingkungan tumbuh tanaman kedelai dengan menggunakan kapur pertanian. Jenis dan takaran pupuk dapat berbeda tergantung pada konsidi atau tingkat kesuburan tanah berdasarkan hasil analisis tanah. Penggunaan ameliorant dan pupuk untuk budidaya kedelai ini dapat ditanyakan kepada penyuluh pertanian setempat. Penggunaan pupuk organik atau pupuk kandang dianjurkan sekitar 2 ton per hektar. 5. Pengendalian Gulma, Hama dan PenyakitPengendalian gulma dilakukan dengan pengamatan yang baik, dapat secara mekanis konvensional atau manual dengan penyiangan menggunakan cangkul atau dicabut. Selain itu juga dapat secara kimia dengan menyemprotkan herbisida pra maupun pasca tumbuh. Penyemprotan herbisida pra tumbuh sebaiknya dilakukan satu minggu sebelum tanam. Penyemprotan herbisida pasca tumbuh dilakukan secara hati-hati menggunakan tudung nozzle sprayer, supaya tidak membakar daun tanaman kedelai. Untuk pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan pengamatan kerusakan tanaman sesuai petunjuk teknis PHT (Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu). 6. PanenTanaman kedelai siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan atau coklat-kehitaman (tergantung varietas). Cara panen dilakukan secara konvensional/tradisional, yaitu disabit atau dicabut. Selanjutnya pembijian kedelai dapat dilakukan secara manual digeblok dengan pemukul kayu, atau secara mekanis dengan mesin perontok. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani untuk mencapai swasembada kedelai tahun 2017 (Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Permentan No: 03/Permentan/OT.140/2/2015 tentang Pedoman Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung da Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015.2. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2015. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Januari 2015.3. Berbagai sumber dari internet, antara lain: Wijaya Adhi. Budidaya Kedelai di Lahan Lebak.2000.