Loading...

PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI PTT-KEDELAI

PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI PTT-KEDELAI
Kebutuhan kedelai yang semakin meningkat disisi lain komoditi ini semakin menurun produksinya. Berdasarkan data dari BPS produksi kedelai selama 20 tahun terakhir terus menurun dari 1,870-juta ton pada tahun 1992 turun menjadi 807-ribu ton pada tahun 2013 (ARAM II BPS) atau turun rata-rata 2,97%. Kedelai merupakan salah satu bahan baku makanan favorit masyarakat Indonesia secara turun temurun khususnya tahu dan tempe karena murah dan bergizi tinggi (dalam 100 gram kedelai mengandung 34,9%), Namun ironisnya sampai saat ini kita belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, Indonesia harus impor, yang kian lama cenderung makin meningkat. Dengan nilai ekonomi, gizi dan sosial yang tinggi Pemerintah menggolongkan kedelai sebagai komoditi strategis. Untuk meningkatkan produksi kedelai pemerintah telah meluncurkan program upaya khusus swasembada padi, jagung dan kedelai tahun 2017 melalui berbagai strategi diantaranya perluasan areal tanam, inovasi teknologi pertanian, gerakan penerapan pengelolaan tananam terpadu (GP-PTT) kedelai, optimasi lahan, penyediaan sarana produksi (alat mesin pertanian, benih dan pupuk), perbaikan jaringan irigasi, demfarm serta pengawalan dan pendampingan. Selain itu, Kementerian Pertanian telah menghasilkan berbagai varietas tanaman kedelai dengan berbagai keunggulan seperti produktivitas tinggi, tahan cekaman biotik dan abiotik serta beragam varietas sesuai kebutuhan. Dari berbagai varietas kedelai tersebut, 80% telah diadopsi oleh petani. Di daerah sentra kedelai, umumnya petani telah mengusahakan kedelai di lahan sawah dengan pola padi-padi-kedelai, dimana kedelai umumnya dibudidayakan pada saat akhir musim penghujan, agar pada fase reproduktif tidak mengalami kekeringan. Karena pada kondisi kekurangan air, kedelai tidak berproduksi optimal bahkan bila tidak mendapat pengairan dapat menyebabkan gagal panen. Peningkatan produksi dengan PTT Terkait dengan upaya khusus percepatan swasembada kedelai tahun 2017, kita menyambut baik dengan diluncurkannya GP-PTT (Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu) Kedelai oleh Kementerian Pertanian. Pengelolaan tanaman (PTT) adalah pendekatan untuk menghasilkan rakitan teknologi dalam pengelolaan lahan, air, tanaman dan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya produksi kedelai, pendapatan petani meningkat sekaligus terjaminnya kelestarian lingkungan. PTT diterapkan secara lokal spesifik baik lokasi, lingkungan fisik, bio fisik, iklim serta kondisi sosial ekonomi petani setempat. Hal-hal penting dalam menerapkan PTT kedelai meliputi: 1) Menanam tepat waktu, kedelai yang ditanam di lahan sawah sebaiknya antara bulan Maret-April (MK I) atau Juni s/d Juli untuk MK II disesuaikan dengan keadaan daerah setempat. Sedang di lahan tegal ditanam pada bulan Oktober-November pada MH I dan Februari-Maret untuk MH II atau disesuaikan dengan keadaan daerah setempat; 2) Penyiapan lahan, lahan dibersihkan dari gulma, kemudian dibuat saluran drainase dengan jarak 3-4 m sehingga membentuk bedengan. Pada saat pengolahan tanah diberikan pupuk kandang sebanyak 3-5 ton/ha. Pengolahan dapat menggunakan cangkul, bajak atau garu; 3) Menggunakan benih varietas unggul, berdasarkan umur, varietas unggul kedelai yaitu benih genjah (berumur kurang dari 80 hari seperti lawu, grobogan, gepak kuning dan gepak ijo), berumur sedang (umur 81-89 hari seperti wilis, pangrango, argomulyo, bromo, burangrang, tanggamus, sibayak, kaba, sinabung, anjasmoro, mahameru, ijen, panderman, rajabasa, gumitir dan argopuro) dan kedelai berumur dalam (umur lebih dari 90 hari seperti kedelai kipas putih, nanti, merubetiri, seulawah dan ratai); 4) Cara tanam, dapat dilakukan dengan cara di tugal atau disebar. Dengan cara tugal dengan kedalaman 2-3 cm, jarak tanam 40 cm x 10-15 cm, dengan 2 biji/lubang dengan kebutuhan benih sekitar 40 kg/ha. Sedang dengan cara sebar, benih disebar mengikuti alur, dengan jarak tanam 40 cm 10-15 cm dengan kebutuhan benih sekitar 40 kg/ha, Alur tanam kedelai ditutup dengan pupuk organik/puouk kandang; 5) Pemupukan NPK, dilakukan bersamaan pada saat tanam atau pada saat tanaman berumur 7-10 hari setelah tanam (HST) dengan menempatkan sekitar 5-7 cm disamping barisan tanaman; 6) Penyiangan dan pembubunan, dapat dilakukan secara bersamaan. Selain untuk mengendalikan gulma, pembubunan bertujuan untuk menggemburkan tanah sehingga mendorong perkembangan akar kedelai sehingga tanaman tidak akan rebah; 7) Pengairan, dilakukan sebanyak 4-5 kali yaitu pada saat tanaman berumur 15-21 HST, saat berbunga, umur 23-35 HST, saat pengisian polong umur 45-55 HST dan saat polong masak umur 65-75 HST; 8) Pengendalian hama dan penyakit, dilakukan dengan mengikuti prinsip pengendalian hama terpadu; dan 9) Panen dan pasca panen, ditentukan oleh varietas, musim tanam dan perlakuan budidayanya. Meningkatkan produktivitas dengan varietas baruSelain upaya tersebut diatas, dapat pula dilkukan adalah meningkatkan produktivitas dengan menggunakan varietas unggul baik rakitan dari benih lokal maupun benih introduksi. Pulau Jawa merupakan sentra produksi kedelai masih menggunakan benih lokal dan varietas unggul yang dilepas sekitar tahun 1974 (Orba), tahun 1981 (Galunggung) dan tahun 1983 (Willis). Di Jawa Timur petani sebagian besar masih menggunakan varietas unggul Wilis dan Galunggung; di Jawa Tengah menggunakan varietas Willis dan varietas lokal; di DI Yogyakarta petani umumnya menggunakan varietas Galunggung sedang provinsi Jawa Barat selain varietas lokal petani juga menggunakan varietas Orba dan Davros. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan umbi-umbian, pada tahun 2013, telah berhasil melepas varietas baru yang diberi nama Detam 4 prida (Kedelai Hitam Program Insentif Riset Dasar) dengan rata-rata hasil 2,54 ton per Ha (dengan potensi hasil 2,89 ton per Ha). Ada beberapa varietas unggul lokal yang tetap produktif disaat kekeringan seperti varietas Gepak Kuning, Gepak Hijau, Grobogan dan Seulawah. Selain itu masih banyak varietas lokal lainnya yang dapat dikembangkan sesuai kondisi lokal seperti varetas Ratai, Rajabasa, Gumitir,Argopuro, Arjasari, Malika, Kipas Merah Bireuen, Mitani, Mutiara 1, Gema dan Dering 1. Kedelai lokal ada yang hanya menghasilkan 2,4 ton per ha. dengan menggunakan varietas unggul dapat meningkatkan potensi hasil produksi hingga mencapai 3,5 ton per ha. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber :1) Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 4965/Kpts/SR.120/12/2013 tanggal 6 Desember 2013; 4) Dihimpun dari berbagai sumber.