Loading...

PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TANAMAN PADI MELALUI TEKNOLOGI HAZTON

PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TANAMAN PADI MELALUI TEKNOLOGI HAZTON
Teknologi Hazton merupakan cara budidaya tanaman padi menggunakan bibit padat yaitu 20-30 bibit perlubang tanam dan umur bibit 25-35 Hari setelah semai.Perbedaan yang paling mendasar ketika menggunakan teknologi ini jika dibandingkan dengan cara konvensional adalah dari segi jumlah bibit dan umur semaian. Sebagian besar sarana dalam teknologi hazton adalah agensi hayati yang dapat memperbaiki struktur tanah dan menyumbang nutrisi pada tanaman padi. Diantara sarana yang digunakan petani dalam penerapan teknologi hazton adalah dekomposer dan Pupuk organik cair. Selain itu, juga terdapat pupuk kimia seperti MKP dan KNO3. Pupuk kimia tersebut sangat efektif dalam hal menambah nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman padi.Menanam padi dengan bibit padat diharapkan agar seluruh bibit yang ditanam dapat menghasilkan gabah semuanya dan dapat meningkatkan produktifitas tanaman padi.Hal ini sangat relefan dengan tujuan yang ingin di capai dari penerapan teknologi ini yaitu untuk meningkatkan produktifitas tanaman. Karenanya dengan jumlah bibit 20-30 bibit perlubang diharapkan mampu menghasilkan malai disetiap batangnya. Dengan demikian jumlah malai yang dihasilkan juga akan semakin banyak dan berpengaruh pada peningkatan produksi. Didalam teknologi hazton, umur semaian yang dilakukan relatif lama. Umur semaian 25-35 hari diharapkan dapat mempercepat masa panen sehingga dapat meminimalisir serangan hama dan penyakit tanaman padi. Selain itu juga, dengan lamanya masa semai ini ( yaitu 25-35 HSS ), diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) yang semulanya 2,0 menjadi 2,5 – 3,0.Penanaman padi dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo 2x1 atau 4x1. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan populasi tanaman yang banyak serta mempermudah perawatan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Keuntungan lain dari sistem tanam ini adalah untuk mengkondisikan tanaman padi yang benar-benar baik pertumbuhannya karena dengan sistem tanam jajar legowo posisi tanaman seolah-olah berada di pinggir sehingga tidak ada persaingan dalam mendapatkan unsur hara antara tanaman satu dengan lainnya.Teknologi hazton mulai diperkenalkan di Kabupaten Sambas pada tahun 2016. Pada awalnya, penerapan teknologi ini hanya dilakukan oleh sebagian kecil petani yang mau melakukannya. Ini disebabkan karena teknologi ini masih baru dan petani masih belum yakin akan keberhasilan teknologi ini dalam meningkatkan produktifitas tanaman padi.Kebiasaan budidaya secara konvensional juga merupakan faktor penyebab tidak diterapkannya teknologi ini oleh petani. Kendala lain yang juga dihadapi oleh petani dalam menerapkan teknologi ini adalah luasnya lahan yang harus dipersiapkan sebagai tempat persemaian. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah benih yang harus di tanam yaitu sekitar 100 kg/ha. Seperti tanaman lainnya, penerapan teknologi hazton juga tidak terlepas dari adanya serangan hama dan penyakit. Adanya serangan hama dan penyakit tanaman, terutama penyakit blast, mengharuskan para petani untuk bekerja ekstra terutama dalam hal pengawalan dan pengamatan tanaman terhadap penyakit tersebut. Penyakit ini muncul dikarenakan rimbunnya tanaman padi sehingga menyebabkan tanaman terserang jamur.Keserempakan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman yang dilakukan oleh petani merupakan langkah efektif di dalam melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengawalan dan pengamatan terhadap hama dan penyakit tanaman dilakukan di tiap hamparan kelompok tani dan dilakukan secara terus menerus. Kegiatan ini dilakukan dari awal tanam sampai saat panen tiba. Dengan demikian, penurunan produktifitas yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit dapat ditekan.Dari hasil penerapan teknologi hazton pada tahun 2016 tersebut, ternyata berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan produktifitas tanaman padi. Peningkatan ini sangat drastis dari 3,1 ton/Ha menjadi 4,2 ton/ha. Melihat hasil peningkatan produktifitas tersebut, menyebabkan petani yang sebelumnya belum menerapkan teknologi hazton menjadi tertarik untuk mencoba menerapkan teknologi hazton pada lahan pertaniannya. Sehingga pada akhirnya, teknologi ini dapat diterapkan oleh sebagian besar petani yang ada di Kabupaten Sambas.Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya teknologi hazton yang diterapkan oleh petani sangat bermanfaat terutama dalam peningkatan produksi tanaman padi.hal ini telah dibuktikan oleh petani di tingkat lapangan. Penemuan-penemuan terbaru sangat diharapkan agar kegiatan pertanian akan semakin berkembang dan dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat tani di Indonesia. Penulis Artikel Agus Manto, S.ST PPL Kec. Selakau