Loading...

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI PADA LAHAN KERING

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI PADA LAHAN KERING
Swasembada kedelai ditargetkan pada pada tahun 2017 dengan indikator yang mudah dipahami, yaitu tidak ada impor lagi. Pada tahun 2015, berbagai upaya dilakukan Pemerintah untuk mencapai sasaran produktivitas kedelai minimal sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas sebesar 0,2 ton/ha pada areal yang telah ditanami kedelai (existing). Peningkatan produktivitas kedelai dapat dicapai dengan penerapan teknologi yang bersifat spesifik lokasi pada lahan kering. Cara budidaya kedelai dengan teknologi spesifik lokasi pada lahan kering sebagai berikut: 1. Persiapan Lahan Menjelang musim hujan, dilakukan persiapan dengan mengolah tanah sampai gembur. Caranya, tanah dibajak 1 - 2 kali kemudian digaruk 1 kali dengan alat garu dan diratakan. Lalu dibuat saluran drainase dengan jarak antar saluran 3 - 5 m, lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. Untuk tanah bertekstur halus (tanah berat) dan lahan yang bertopografi datar, jarak antar saluran perlu lebih diperapat menjadi 2 - 3 m. 2. BenihBenih kedelai yang digunakan harus berkualitas, antara lain: bernas, memiliki daya tumbuh >85%, murni, sehat, dan bersih. Kebutuhan benih antara 40 - 60 kg/ha, makin besar ukuran biji makin banyak benih yang dibutuhkan. Untuk menjaga benih sehat perlu dilakukan perlakuan benih dengan carbosulfan atau fipronil untuk mengendalikan lalat bibit dan insekta lain. Untuk lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, perlu perlakuan benih dengan pupuk hayati rhizobium, yaitu dengan menggunakan 20 gram sumber rhizobium untuk setiap 1 kg benih kedelai. Selain itu, perlu diperhatikan kemasaman lahan dan varietas kedelai yang akan digunakan. Lahan kering dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu lahan kering masam dan lahan kering tidak masam. Budidaya kedelai pada lahan kering masam untuk pertanaman MH I (Oktober - Januari) maupun pertanaman MH II (Februari – Mei) sebaiknya menggunakan varietas berbiji besar dan berbiji sedang. Varietas berbiji besar, antara lain Anjasmoro dan Rajabasa, sedangkan varietas berbiji sedang, antra lain Slamet, Tanggamus, Nanti, Sibayak, Ratai dan Sinabung. Budidaya kedelai pada lahan kering tidak masam untuk pertanaman MH I (Oktober – Januari) menggunakan varietas berbiji besar dan berbiji sedang. Varietas berbiji besar, antara lain: Anjasmoro, Baluran, Argopuro, Cumitir, Detam 1, dan Detam 2. Varietas berbiji sedang, antara lain: Willis, Kaba, Sinabung, Arjasari, dan Malika. Sedangkan Budidaya kedelai pada lahan kering tidak masam untuk pertanaman MH II (Februari – Mei) menggunakan varietas berbiji besar dan berbiji sedang. Varietas berbiji besar antara lain: Argomulyo, Burangrang, dan Baluran. Varietas berbiji sedang, antara lain: Malabar dan Ijen. 3. Jarak TanamPopulasi tanaman antara 350.000 – 500.000 per hektar, dengan dua tanaman per lubang. Pada tanah yang subur dan banyak hujan atau air cukup, jarak tanam 40 x 15 cm, sedangkan pada tanah yang kurang subur dan sedikit hujan atau air terbatas, jarak tanam 40 x 10 cm. 4. PupukPada lahan kering masam perlu digunakan ameliorant, secara teknis ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan aluminium (Al) dan hal ini memiliki hubungan kuat dengan tingkat kemasaman tanah (pH tanah). Jenis dan takaran pupuk dapat berbeda tergantung pada konsidi atau tingkat kesuburan tanah berdasarkan hasil analisis tanah. Penggunaan ameliorant dan pupuk untuk budidaya kedelai ini dapat ditanyakan kepada penyuluh pertanian setempat. Penggunaan pupuk organik atau pupuk kandang dianjurkan sekitar 2 ton per hektar. 5. PengairanPerlu pemberian air jika kelembaban tanah tidak mencukupi, terutama pada stadium awal pertumbuhan, saat berbunga, dan saat pengisian polong. Air dapat diperoleh antara lain dari: sumur, sungai, pompanisasi, atau irigasi. 6. Pengendalian Gulma, Hama dan PenyakitPengendalian gulma berdasarkan pemantauan yang baik, dapat secara mekanis konvensional/tradisional atau manual dengan penyiangan menggunakan cangkul atau dicabut. Selain itu juga dapat secara kimia dengan menyemprotkan herbisida pra dan/atau pasca tumbuh. Penyemprotan herbisida pra tumbuh sebaiknya dilakukan satu minggu sebelum tanam. Penyemprotan herbisida pasca tumbuh dilakukan secara hati-hati menggunakan tudung nozzle, agar tidak meracuni daun tanaman kedelai. Untuk pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pemantauan populasi atau kerusakan tanaman sesuai petunjuk teknis PHT (Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu). 7. PanenTanaman kedelai siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan atau coklat-kehitaman (tergantung varietas). Cara panen dilakukan secara konvensional, yaitu disabit atau dicabut. Selanjutnya pembijian kedelai dapat dilakukan secara manual digeblok dengan pemukul kayu maupun secara mekanis dengan mesin perontok. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani untuk mencapai swasembada kedelai tahun 2017(Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Permentan No: 03/Permentan/OT.140/2/2015 tentang Pedoman Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung da Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015.2. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2015. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Januari 2015.3. Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 2013.4. Berbagai sumber dari internet.