Pada tahun 2017 di negeri ini ditargetkan swasembada padi, jagung dan kedelai. Pada tahun 2015, kedelai dengan sasaran produktivitas minimal sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas sebesar 0,2 ton/ha pada areal yang telah ditanami kedelai (existing). Peningkatan produktivitas kedelai dapat dicapai dengan penerapan teknologi yang bersifat spesifik lokasi pada masing-masing agroekologi (sawah, lahan kering, lahan pasang surut, dan lahan rawa lebak. Cara budidaya kedelai pada lahan sawah sebagai berikut: Waktu TanamDi lahan sawah, kedelai dapat ditanam pada musim kemarau pertama (MK I) setelah panen padi pertama atau pada musim kemarau kedua (MK II) setelah panen padi kedua. Selain itu, tanam kedelai dapat dilakukan pada awal musim hujan sebelum tanam padi. Kedelai pada MK I masa tanamnya antara Februari – Juni, kedelai MK II antara Juni – September dan kedelai awal musim hujan antara Oktober – Januari. Penyiapan LahanBudidaya kedelai pada lahan sawah untuk MK I (Februari – Juni) dan MK II (Juni – Agustus) dilakukan dengan penyiapan lahan tanpa olah lahan. Setelah panen padi, jerami padi dipotong dekat dengan permukaan tanah. Jerami padi yang dibakar merupakan salah satu sumber hara K. Lalu dibuat saluran drainase dengan jarak antar saluran 1,5 – 5 m, bervariasi tergantung pada kemiringan lereng lahan dan tekstur tanah, makin datar dan/atau halus tekstur tanah semakin sempit antar saluran drainase. Saluran drainase berukuran lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. BenihDalam rangka meningkatkan produktivitas kedelai, gunakan benih varietas unggul yang dianjurkan. Kedelai yang ditanam pada awal musim hujan (Oktober – Januari) gunakan varietas yang berumur genjah 80 hari atau kurang, yaitu: 1) Varietas berbiji besar: Agromulyo, Baluran, Grobogan, Lokal; 2) Varietas berbiji sedang: Malabar, Gepak Ijo, GepakKuning. Sedangkan kedelai yang ditanam pada MK I (Februari – Juni) yang biasanya masih tersedia air hujan, gunakan: 1) Varietas berbiji besar: Anjasmoro, Argopuro, Gumitir, Detam 1 dan Detam 2; 2) Varietas berbiji sedang: Wilis, Kaba, Ijen, Sinabung, Arjasari dan Malika. Kemudian kedelai yang ditanam pada MK II (Juni – September) yang umumnya ketersediaan air air hujan sudah terbatas, gunakan: 1) Varietas berbiji besar: Argomulyo, Burangrang dan Baluran; 2) Varietas berbiji sedang: Malabar, Ijen, Arjasari dan Malika. Penggunaan benih varietas unggul tersebut, harus juga berkualitas, yaitu bernas dengan daya tumbuh >85%, murni, sehat dan bersih. Perlakuan benih dengan carbosulfan atau fipronil untuk mengendalikan lalat bibit dan hama lain. Sedangkan perlakuan benih dengan pupuk hayati sumber rhizobium bagi lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, dengan menggunakan 20 gr sumber rhizobium/kg benih. PenanamanKedelai yang ditanam pada awal musim hujan, penanaman dilaksanakan setelah hujan cukup membasahi tanah untuk mendukung perkecambahan benih kedelai. Bagi kedelai yang ditanam setelah padi (MK I dan MK II), hendaknya segera ditanam 2 – 4 hari setelah padi dipanen. Hal ini untuk memanfaatkan air/lengas tanah dan mengurangi gangguan gulma, hama dan penyakit. Jumlah tanaman antara 350.000 – 500.000 per hektar, dengan pengaturan jarak tanam berturut-turut 40 x 15 cm dan 40 x 10 cm dan ditanam dua biji per lubang. Kebutuhan benih antara 40 – 60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji, makin besar ukuran biji makin banyak benih yang digunakan. PemupukanJenis dan takaran pupuk dapat berbeda tergantung pada konsidi atau tingkat kesuburan tanah berdasarkan hasil analisis tanah yang dapat ditanyakan kepada penyuluh pertanian setempat. Penggunaan pupuk organik atau pupuk kandang dianjurkan sekitar 2 ton/ha. PengairanPemberian air diperlukan jika kelembaban tanah tidak mencukupi, terutama pada stadium awal pertumbuhan, saat berbunga dan saat pengisian polong. Pengendalian Gulma, Hama dan PenyakitPengendalian gulma berdasarkan pemantauan, dapat secara mekanis atau manual dengan penyiangan menggunakan cangkul atau dicabut. Selain itu juga dapat secara kimia dengan menyemprotkan herbisida pra dan/atau pasca tumbuh. Penyemprotan herbisida pra tumbuh sebaiknya dilakukan satu minggu sebelum tanam, sedang penyemprotan herbisida pasca tumbuh dilakukan secara hati-hati menggunakan tudung nozzle agar tidak mengenai daun tanaman kedelai. Untuk pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pemantauan populasi atau kerusakan tanaman. PanenTanaman kedelai siap dipanen apabila daun sudah luruh (daun berguguran karena sudah waktunya panen) dan 95% polong sudah berwarna kuning kecoklatan atau coklat kehitaman (tergantung varietas). Panen dilakukan secara konvensional atau tradisional dengan disabit atau dicabut. Kemudian pembijian kedelai dilakukan secara manual (sistem geblok) ataupun secara mekanis dengan menggunakan mesin perontok. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani untuk mencapai swasembada kedelai tahun 2017.(Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Permentan No: 03/Permentan/OT.140/2/2015 tentang Pedoman Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung da Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015.2. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2015. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Januari 2015.3. Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 2013.