Pemerintah Indonesia mempunyai cita-cita mulia, yaitu berswasembada berkelanjutan padi dan jagung, serta swasembada kedelai pada tahun 2015 - 2017. Pada tahun 2015, untuk padi diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) minimal 0,5 dan produktivitas meningkat minimal 0,3 ton per hektar GKP. Akhir-akhir ini terjadi perubahan iklim sering menimbulkan dampak negatif, seperti bencana banjir. Di Indonesia, daerah rawan banjir semakin meluas yang sering menyebabkan kerusakan tanaman dan menurunkan hasil. Data 2009, lebih dari 300 ribu ha lahan sawah terkena banjir dan 80 ribu ha diantaranya mangalami puso. Akibat banjir ini, petani menanggung resiko kerugian, bahkan dapat gagal panen (puso) dan tidak mampu menyediakan modal pengganti biaya usahatani padi. Kerugian ekonomi secara nasional, biaya usahatani padi (termasuk biaya sewa lahan dan tenaga keluarga dihitung sebagai pengeluaran) sebesar Rp 10 juta per hektar (biasanya biaya produksi mencapai 50%. Proporsi biaya untuk benih dan pengolahan lahan sampai siap tanam sekirat 30 – 35% (Badan Pusat statisti/BPS, 2008). Jika terjadi puso akibat banjir, maka petani harus menyediakan ulang biaya tersebut untuk membeli ulang benih, pupuk, pestisida dan pengolahan tanah sampai siap tanam. Selain secara ekonomi juga kemungkinan IP sulit mencapai 2. Salah satu cara mengurangi kerugian petani tersebut dengan menggunakan benih padi dengan varietas toleran genangan (submergence tolerant) yang tahan terendam hingga 7 – 14 hari. Namun kemauan dan kesadaran petani untuk menggunakan varietas toleran genangan masih relatif rendah, misalnya petani lahan rawa di Sulteng masih tetap menggunakan varietas padi lahan sawah irigasi atau varietas local yang produktivitasnya dibawah 2 ton/ha (rata-rata 1,2 ton/ha). Padahal jika menggunakan varietas padi toleran rendaman, potensi produktivitasnya bias mencapai 4,5 – 7,5 ton/ha. Menurut Badan Litbang (2012), penggunaan varietas padi toleran rendaman di daerah irigasi yang rawan banjir memiliki potensi produktivitas mencapai sekitar 9,5 ton/ha atau hasil lapangan 6,5 – 7,2 ton/ha. Selain itu padi varietas toleran genangan umurnya lebih genjah, sehingga dapat meningkatkan IP. Oleh karena itu, penyuluh pertanian harus melakukan penyuluhan kepada petani untuk mendorong agar petani di wilayah rawan banjir, lahan pasang surut dan lahan lebak mau penggunakan padi varietas toleran rendaman yang telah dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembagan Pertanian. Sejak tahun 2008 sampai 2014, Badan Penelitian dan Pengembagan Pertanian telah melepas 10 padi varietas unggul toleran rendaman berumur genjah untuk dipilih petani baik di wilayah lahan irigasi rawan banjir dengan varietas Inpari dan wilayah lahan rawa pasang surut maupun rawa lebak dengan varietas Invara, sebagai berikut: 1. Invari 29 mempunyai tekstur nasi pulen, dilepas pada tahun 2012, tahan banjir lebih dari 14 hari. Varietas ini rentan terhadap wereng dan hawar daun. Padi varietas ini berumur 110 hari dengan potensi produktivitas 9,5 ton/ha dan produktivitas di lapang 6,5 ton/ha. 2. Invari 30 Ciherang Sub 1 yang dilepas pada tahun 2012, tekstur nasinya pulen, dan agak rentan terhadap wereng serta hawar daun. Varietas ini tahan banjir lebih dari 15 hari, maka cocok ditanam di wilayah luapan sungai, cekungan dan rawan banjir. Umurnya 111 hari dengan potensi produktivitas 9,6 ton/ha dan produktivitas di lapang 7,2 ton/ha. 3. Inpara 1 yang dilepas pada tahun 2008 untuk ditanam di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Varietas ini tahan terhadap wereng dan hawar daun, serta toleran Fe dan Al. Padi varietas ini berumur agak panjang, yaitu 131 hari dengan potensi produktivitas 6,7 ton/ha dan produktivitas di lapang 5,6 ton/ha, sedangkan tekstur nasinya pera.4. Inpara 3 yang dilepas pada tahun 2008 untuk ditanam di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak dengan toleran rendaman 6 hari. Varietas ini tahan terhadap wereng, blast, dan toleran Fe dan Al. Padi varietas ini berumur agak panjang, yaitu 127 hari dengan potensi produktivitas 5,6 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,6 ton/ha, sedangkan tekstur nasinya pulen.5. Inpara 4 yang dilepas pada tahun 2010 untuk ditanam di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak dengan toleran rendaman lebih dari 14 hari. Varietas ini agak tahan terhadap wereng coklat dan tahan hawar daun, blast, dan toleran Fe dan Al. Padi varietas ini berumur agak panjang, yaitu 135 hari dengan potensi produktivitas 7,6 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,7 ton/ha, sedangkan tekstur nasinya pera.6. Inpara 5 yang dilepas pada tahun 2010 untuk ditanam di lahan sawah rawan banjir dengan toleran rendaman lebih dari 14 hari. Varietas ini agak tahan terhadap wereng dan tahan hawar daun. Padi varietas ini berumur 115 hari dengan potensi produktivitas 7,2 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,5 ton/ha, sedangkan tekstur nasinya sedang (diantara pulen dengan pera).7. Inpara 6 yang dilepas pada tahun 2010 untuk ditanam di sawah pasang surut, sulfat masam, dan rawa lebak. Varietas ini agak tahan terhadap blast, toleran Fe, dan rentan wereng coklat. Padi varietas ini berumur 117 hari dengan potensi produktivitas 6,0 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,7 ton/ha, sedangkan tekstur nasinya pera sedang (diantara pulen dengan pera).8. Inpara 7 yang dilepas pada tahun 2012 untuk ditanam di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Varietas ini tahan terhadap blast dan keracunan Fe serta Al, namun rentan/peka terhadap hama wereng batang coklat. Padi varietas ini berumur 114 hari dengan potensi produktivitas 5,1 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,5 ton/ha, sedangkan tekstur nasinya pulen.9. Inpara 8 yang dilepas pada tahun 2014 untuk ditanam di lahan sawah pasang surut, lebak dangkal, dan lebak tengahan. Varietas ini tahan terhadap hawar daun dan keracunan Fe, namun rentan/peka terhadap hama wereng batang coklat. Padi varietas ini berumur 115 hari dengan potensi produktivitas 6 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,7 ton/ha, sedang tekstur nasinya pera.10. Inpara 9 yang dilepas pada tahun 2014 untuk ditanam di lahan sawah pasang surut, lebak dangkal, dan lebak tengahan. Varietas ini tahan terhadap hawar daun, tungro, dan keracunan Fe. Padi varietas ini berumur 114 hari dengan potensi produktivitas 5,6 ton/ha dan produktivitas di lapang 4,2 ton/ha, sedang tekstur nasinya sedang (diantara pulen dan pera). Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani padi di wilayah rawan banjir dan rawa, untuk mendukung peningkatan produksi padi agar mencapai swasembada padi tahun 2015 - 2017 (Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Permentan No: 03/Permentan/OT.140/2/2015 tentang Pedoman Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung da Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015.2. Adnyana dkk. Developing Submergence Tolerant Rice Varietas: Final Report Collaborative Reasearch of among FAO-IRRI-Japan No. DPPC2007-22.Indonesia. 2009.3. Herlina dkk. Sistem Komunikasi dalam Pemanfaatan Bibit Padi Toleran Rendaman sebagai Adaptasi Keluarga Tani Terhadap Perubahan Iklim. 2015.