PENINJAUAN PERTANAMAN PADI KELOMPOK TANI BUKIT ORO KELURAHAN GANTARANGKEKE
Rabu 5 Februari 2020 dilaksanakan kegiatan peninjauan dan pengamatan pertanaman padi di wilayah kelompok tani Bukit Oro Kelurahan Gantarangkeke. Kegiatan peninjauan yang merupakan kunjungan rutin ke kelompok tani ini bertujuan untuk meninjau dan mengawal kegiatan budidaya yang dilakukan. Lewat kegiatan ini diharapkan masalah dan kendala yang dihadapi oleh petani terkait pertanaman padinya dapat segera diketahui dan dicari pemecahan masalahnya.Pertanaman padi yang ada di kelompok tani Bukit Oro saat ini mulai memasuki umur 10-25 HST. Di beberapa wilayah poktan Bukit Oro yang terletak dibagian bawah area hamparan pertanaman saat ini masih melakukan pengolahan tanah dan penyemaian benih. Adanya ketidak serempakan menanam disebabkan oleh keterbatasan alat pengolah lahan berupa traktor. Selain itu intensitas hujan yang masih sedikit menyebabkan debit air di saluran irigasi belum mampu mengcover keseluruhan hamparan pertanaman di poktan Bukit Oro sehingga petani melakukan pergiliran waktu memasukkan air di petakan mereka. Memasuki minggu I Februari dari 23 Ha luasan lahan sawah di poktan Bukit Oro 80% telah melakukan penanaman baik itu secara tapin maupun tabela, 15% masih dalam tahap pengolahan tanah dan sisa 5% lainnya masih menunggu. Diperkirakan akhir minggu ini keseluruhan wilayah sawah di Bukit Oro telah rampung melakukan pengolahan tanah. Untuk mengantisipasi munculnya serangan OPT maka PPL Kel.Gantarangkeke Andi Reski Mulya Utami, SP bersama-sama dengan Petugas POPT Nur Melia, SP, mulai melakukan pengamatan di pertanaman padi yang telah memasuki fase awal vegetatifnya. Pengamatan dilakukan secara langsung disertai diskusi dengan petani. Pada beberapa petakan mulai muncul gejala kresek yang membuat tanaman menjadi layu dan mati. Oleh karena itu untuk petakan yang belum melakukan penanam kami menyarankan untuk mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat untuk menjaga kelembaban dan mengurangi resiko penularan pathogen dan melakukan perlakuan benih sebelum tanam untuk mencegah penyakit yang terbawa oleh benih. Sementara untuk petakan yang telah ditanami kami menyarankan melakukan sistem pengairan secara berselang dan secara rutin melakukan sanitasi. Selain itu kami menyarankan untuk tidak menggunakan pupuk N dengan dosis tinggi. Untuk hama keong kami menyarankan untuk melakukan tindakan pencegahan dengan menghancurkan telur keong yang saat ini mulai tampak di pinggir pematang dan sela bebatuan. Dengan tindakan pencegahan ini diharapkan dapat memutus siklus hidup hama keong yang kadang meresahkan petani di kelompok tani Bukit Oro. ANDI RESKI MULYA UTAMI,SP – PPL KELURAHAN GANTARANGKEKE