Loading...

Pentingnya Penyakit Busuk Batang Kacang Tanah

Pentingnya Penyakit Busuk Batang Kacang Tanah
Produksi kacang tanah di Indonesia masih belum optimal karena teknik produksinya yang belum memadai dan minimnya penggunaan bibit unggul. Dampaknya kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat tidak dapat terpenuhi, sehingga impor kacang tanah menjadi tinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai bentuk usaha untuk meningkatkan produksi kacang tanah di Indonesia. Produktivitas kacang tanah dapat ditingkatkan, antara lain dengan penanaman varietas unggul dan benih bermutu, perbaikan cara budidaya, serta penanganan pasca panen yang lebih baik. Akan tetapi, pengembangan budidaya kacang tanah mengalami banyak hambatan ketika di lapangan. Adanya serangan hama dan patogen yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan.Tanaman kacang tanah selama pertumbuhannya tidak terlepas dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), baik hama maupun penyakit. Salah satu OPT penting yang menyerang kacang tanah adalah jamur Sclerotium rolfsii S. yang dapat menyebabkan penyakit busuk batang. Busuk batang ini juga dikenal sebagai jamur putih, white mold, southern stem rot, atau southern blight, dan dijumpai pada hampir semua daerah penanaman kacang tanah di dunia. Serangan S.rolfsii dapat menyebabkan penurunan hasil dan mutu benih kacang tanah. Serangan ini dapat menyebabkan gagal panen kacang tanah sebesar 25 – 50 %. penggunaan fungisida tidak hanya menekan penyakit namun juga menekan perkembangan organisme lain yang menguntungkan. Dampak negatif lain dari penggunaan bahan kimia yaitu dapat memunculkan hama-hama sekunder, musnahnya spesies yang bermanfaat, timbulnya strain hama dan penyakit yang lebih resisten, pencemaran lingkungan, serta terbentuknya residu bahan kimia yang tinggi pada lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan beberapa jenis mikroorganisme yang mampu memberikan ketahanan tanaman, mampu beradaptasi dengan lingkungan, dan meningkatkan perkembangan tanaman. Mikroorganisme ramah lingkungan tersebut adalah mikoriza (mycorrhiza). Penggunaan mikoriza dari beberapa hasil penelitian terbukti mampu menekan perkembangan penyakit yang disebabkan beberapa patogen tular tanah, seperti Rhizoctonia solani, Phytophthora fragariae, dan Fusarium oxysporum. Beberapa hasil penelitian yang ada memberikan hasil positif. Salah satunya terlihat pada pengaruh mikoriza pada akar tanaman tomat yang menunjukkan perubahan morfologi atau anatomi, yaitu terbentuknya lignin pada bagian endodermis dari akar sehingga dapat menjadi penghalang terhadap penetrasi patogen. Terbentuknya lignin membuat tanaman tomat lebih tahan terhadap serangan F.oxysporum. Selain perubahan morfologi juga terjadi perubahan fisiologi, yaitu infeksi mikoriza dapat meningkatkan konsentrasi kitinase dalam akar tanaman. Mikoriza Glomus mosseae mampu menurunkan intensitas serangan penyakit rebah kecambah oleh patogen Rhizoctonia. Beberapa jenis bioteknologi yang telah digunakan di luar negeri dalam pemberian pupuk hayati mikoriza di lapangan adalah berupa inokulum campuran, kapsul, tablet, granuler, dan cair, yang semuanya memberikan hasil positif terhadap pertumbuhan tanaman. Namun di Indonesia, sangat sedikit sekali informasi mengenai penggunaan bioteknologi mikoriza. Oleh karena itu, perlu dikembangkan lebih lanjut mengenai bentuk – bentuk bioteknologi pupuk hayati mikoriza dan pengaplikasiannya pada tanaman. Mikoriza adalah asosiasi mutualistik antara fungi dan akar tanaman yang membentuk struktur simbiotik. BUSUK BATANG SCLEROTIUMPenyakit tersebar luas dan ditemukan pada lebih dari 200 spesies tanamanGejala PenyakitGejala mula-mula timbul pada batang atau daun dekat permukaan tanah. Biasanya pada bagian ini terdapat kumpulan miselium putih dan sklerotium. Sclerotium rolfsii menghasilkan oxalic acid, suatu phytotoxin penyebab warna ungu pada polong dan klorosis atau nekrosis pada daun. Pada kondisi lingkungan optimum, miselium tumbuh dengan cepat bahkan dapat sampai ke tanaman di sebelahnya. Sklerotium (0,5-2,0 mm) yang dibentuk pada mulanya berwarna putih kemudian menjadi coklat gelap. Sklerotium yang tertanam di dalam tanah dapat bertahan sampai satu tahun, tetapi bila di atas permukaan tanah dapat sampai beberapa tahun.Pengendalian Penyakit- Pengendalian harus dimulai dengan pencegahan penimbunan inoculum. Pengendalian gulma efektif menekan insiden penyakit ini karena gulma dapat menciptakan lingkungan yang lembab dan dapat menjadi inang alternative. Trichoderma harzianum adalah agen pengendali hayati yang efektif. Fungisida triazole efektif menekan perkembangan penyakit, tetapi benomyl memperparah penyakit karena menekan populasi T. harzianum- Pengendalian penyakit dengan cara mencabut tanaman sakit belum menjamin lahan kita terbebas dan penyakit (terutama soil born) apalagi tanaman yang dicabut hanya dibuang disekitar lahan karena inokulum patogenya dapat berkembang dan menyebar disekitar area lahan. Tanaman yang dicabut juga tidak dianjurkan untuk dibenamkan apalagi untuk dijadikan pupuk organik sebelum dilakukan penanganan terhadap inokulum patogen yang terbawa. Sebaiknya sisa-sisa tanaman sakit dimusnahkan (dibakar) atau diberi perlakuan solarisasi jika hendak digunakan sebagai bahan pupuk organik. Penggunaan bahan kimia dalam pengendalian penyakit sebaiknya dijadikan alternatif terakhir karena berdampak negatif terhadap lingkungan. Petani kita rata-rata berpendidikan SLP ke bawah sehingga saat ini tidak punya pemahaman yang baik tentang obat-obat pertanian berbahan kimia- Sundari, SST (BBP2TP)- Sumber : Menuju Pertanian Tangguh. Yayasan Pengembangan Sinar Tani. Edisi 5.