Loading...

PENYAKIT BAKTERIOSIS PADA TANAMAN TEBU

PENYAKIT BAKTERIOSIS PADA TANAMAN TEBU
Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Bakteriosis adalah nama yang diberikan oleh Bolle (Handojo,1982) untuk berrnacam-macam pembusukan dalam batang tebu yang disertai dengan pewarnaan-pewarnaan tertentu, dan perubahan-perubahan yang menyebabkan bau yang berbeda-beda. Namun dari hasil penelitian Tjokrodirdjo (1991) pada pembusukan "bakteriosis" dijumpai lima mikroba penyebab pembusukan dengan urutan patogenitas, mulai dari yang paling utama berurutan ada1ah Pseudomonas aeruginosa Migu1a, Fusarium moniliforme Sheldon, Aspergillus fumigatus Fres, Bacillus sp, dan Enterobacter aerogenes Beijerinek. Dengan demikian apabi1a di dalam batang tebu terdapat lebih dari satu atau beberapa dari patogen tersebut, maka urutan patogenitasnya ada1ah seperti yang te1ah disebutkan tadi.Sebaran, cara penularan dan gejala. Sehubungan dengan berbagai jenis mikroba yang menyebabkan terjadinya pembusukan pada batang tebu, maka Tjokrodirdjo (1991) menyatakan bahwa penyakit bakteriosis tersebut lebih tepat dinamakan penyakit pembusukan. Penyakit ini terdapat di beberapa area pertanaman tebu antara lain di Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Jawa. Penyakit ini terutama dijumpai pada lahan-lahan dengan tanah yang ke1engasannya (kelembaban lanahnya) rendah (lebih keeil dari 0,2 bar). Karena timbulnya penyakit ini akibat pengaruh lingkungan tempat tumbuh, penularan lebih banyak terjadi di lapangan baik melalui bagian-bagian yang luka akibat fisik alau akibat lain-lain. Terjadinya pembusukan dipacu oleh kondisi kelembaban tanah yang cukup rendah. Pembusukan menyebabkan terjadinya penyumbatan pada berkas pembuluh kayumaupun berkas pembuluh tapis. Dengan demikian akan terjadi gangguan keseimbangan air di dalam tubuh tanaman (Handojo, 1982; Tjokrodirdjo, 1991). Tingkat keparahan pembusukan batang hingga 20 cm sampai ke pangkal batang, masih memperlihatkan daun yang hijau, tidak memperlihatkan gejala visual. Pembusukan mulai tampak mengganggu bila pembusukan telah meneapai 40 cm alau lebih, daun mulai tampak kuning, kemudian mengering (Tjokrodirdjo, 1991). Bi1a hanya terjadi pembusukan 5 sampai 6 ruas di permukaan tanah, gejala juga tidak tampak (Hardojo, 1982; Tjokrodirdjo, 1991). Bila sebagian besar batang membusuk, maka daun tajuk akan mengering. Jika se1uruh batang membusuk, batang akan berongga, kisut (mengerut), dan seluruh tanaman akan mengering (Tjokrodirdjo, 1991). Gejala umumnya penyakit bakteriosis, pada penampang membujur batang yang dibelah tampak pewarnaan jingga atau jingga kemerahan kebasah-basahan, paling jelas terlihat pada buku-buku, sedang bagian tengah ruas pewarnaannya berkurang. Peragian yang terjadi oleh adanya organisme dapat sedemikian hebat sehingga apabila batang dipotong, cairannya dapat membuih ke luar, bahkan dapat terlihat gumpalan "awan" yang naik seperti waktu membuka botol air soda (Handojo, 1982). Namun suatu hal yang mengherankan meski sudah dalam keadaan yang demikian, batang-batang tebu masih mempunyai daun-daun yang berwama hijau yang normal, tampak seperti tidak ada gangguan dalam pertumbuhannya.Kerugian dan pencegahan. Tergantung dari tingkat keparahan serangannya. Kerugian dapat kecil hingga besar sekali. Penelitian Tjokrodirdjo (1991) menunjukkan bahwa setiap em pembusukan akibat penyakit bakteriosis akan menirnbulkan kerugian sebesar 0,0282 %.Suatu cara peneegahan langsung terhadap penyakit bakteriosis belum dapat dilakukan. Tindakan-tindakan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya penyakit bakteriosis antara lain adalah (i) memperhatikan pembukaan lahan dan pengolahan tanahnya, pendayungan yang cukup (terutama untuk lahan-lahan yang bekas sawah atau lebak), dan patusan yang baik, serta pemeliharaan tanaman yang sesuai, (ii) penggunaan bibit yang sehat dan varietas yang tahan. Dengan kedua hal itu akan diperoleh tanaman tebu yang pertumbuhannya baik, sehat dan kuat.Tanaman tebu giling yang terserang bakteriosis akan mengalami kemunduran dengan cepat. Untuk meneegah kemunduran yang lebih parah, sebaiknya tebu ditebang dan digiling lebih cepat daripada tebu yang normal dan sehat. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.