Peningkatan produktivitas padi mempunyai peranan penting bukan saja dalam rangka mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah serta penambahan atau penghematan devisa, tetapi juga langsung terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dan penyediaan lapangan kerja. Komoditi padi sendiri merupakan komodili strategis karena dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat dan bersifat multi dimensi menyangkut teknis, sosial, ekonomi dan politis.Dalam pengembangan produksi padi, tidak jarang ditemukan berbagai permasalahan. Permasalahan yang muncul pada musim tanam periode april-september (Musim Kemarau) adalah serangan penyakit blas. Penyakit Blas atau disebut juga penyakit potong leher disebabkan oleh meluasnya serangan jamur Pyricularia grisea (P. oryzae). Penyakit bias pada lanaman padi tersebar hampir di seluruh Indonesia, terutama di daerah pertanaman padi lahan kering. Penyakit blas merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya padi karena bila terserang jamur Pyricularia oryzae ini bila tidak diwaspadai sejak awal akan mengakibatkan penurunan produksi hingga 70 %. Penularan penyakit terutama terjadi melalui konidia yang terbawa angin. Konodia berbentuk seperti buah alpukat, meruncing ke arah ujung, dan memiliki dua sekat. Pembentukan dan pelepasan konidia sangat tergantung pada keadaan lingkungan. Konidia dibentuk dan dilepas waktu malam, meskipun sering terjadi siang hari sehabis turun hujan. Konidium ini hanya dilepaskan jika kelembaban nisbi udara lebih tinggi dari 90%. Makin tinggi kelembaban udara, maka makin banyak konidia yang dihasilkan. Pelepasan terjadi secara eksplosif, karena pecahnya sel kecil di bawah konidium sebagai akibat dari pengaruh tekanan osmotik. Satu bercak dapat menghasilkan 2.000 - 6.000 konidia setiap hari selama 14 hari. Penetrasi kebanyakan terjadi secara langsung dengan menembus kutikula. Permukaan atas daun dan daun-daun yang lebih muda lebih mudah dipenetrasi. Patogen P. oryzae dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman dan gabah dalam bentuk miselium dan konidium. Jamur ini menyerang tanaman padi pada masa vegetatif yang menimbulkan gejala blas daun (leaf blast) dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun yang berwarna ungu kekuningan. Tejadi juga bercak pada buku, malai, dan gabah. Pada daun padi, bercak berbentuk oval atau elips dengan kedua ujung meruncing, seperti belah ketupat. Bentuk dan warna bercak sangat bervariasi, tergantung pada lingkungan, umur bercak, dan tingkat kelahanan varietas padi. Pada varietas padi yang rentan, bercak tidak membentuk tepi yang jelas dan bercak dikelilingi oleh warna kuning pucat. Serangan pada fase generatif menyebabkan pangkal malai membusuk, berwarna kehitaman dan mudah patah (busuk leher).Jamur Pyricidaria orizae mampu bertahan pada jerami dan gabah, yang merupakan sumber inokulum primer di lapangan. Tanaman inang penyakit bias di antaranya adalah Agropyron reports, jajagoan (Echi-nochloa crusgalli), rumput belulang (Elcusine indica), barley (Hordium vulgare), dan Iain-Iain.Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kelebihan nitrogen dan kekurangan air menambah kerentanan tanaman. Diduga bahwa kedua faktor tersebut menyebabkan kadar silikon tanaman rendah. Kandungan silikon dalam jaringan tanaman menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel sehingga mempengaruhi terjadinya penetrasi patogen kedalam jaringan tanaman. Tanaman padi yang berkadar silikon rendah akan lebih rentan terhadap infeksi patogen. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi.Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut ini : a). Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah. Usaha pengendalian penyakit blas yang sampai saat ini dianggap paling efektif adalah dengan penggunaan varietas padi yang tahan seperti Inpari 34 Salin Agritan, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago7, Inpago 8, Inpago 10, Limboto, Way Rarem, dan Jatiluhur. ; b). Hindarkan penggunaan pupuk N di atas dosis anjuran; c). Hindarkan tanam padi terus-menerus sepanjang tahun dengan varietas yang sama; d). Sanitasi lingkungan harus intensif, karena inang alternatif pathogen khususnya kelompok rerumputan sangat potensial sebagai inokulum awal; e).Hindari tanam padi terlambat dari petani disekitarnya; f).Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 40 hari setelah sebar. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan fungisida sistemik seperti pyroquilon (5-10 g/kg benih); g). Efikasi fungisida untuk perlakuan banih hanya bertahan 6 minggu dan selanjutnya perlu diadakan penyemprotan tanaman. Aplikasi penyemprotan untuk menekan serangan penyakit blas leher adalah dua kali yaitu pada saat anakan maksimum dan awal berbunga (heading 5%); h). Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung). Pengaturan jarak tanam, yaitu pada setiap beberapa bans dibuat jarak tanam selebar dua kali jarak tanam biasanya; i). Pemakaian jerami sebagai kompos; j). Di daerah-daerah yang selalu mengalami serangan berat dapat dilakukan perlakuan benih dengan fungisida yng sesuai dengan aturan. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. BPTP. Babel dan IRRI. 2010. Masalah Lapang Hama Penyakit Hara Padi (http://babel.litbang.pertanian.go.id/i, diakses pada 1 Agustus 2016)2. Tjahjadi, Nur. 2010. HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Masalah dan Solusinya. Yogyakarta: Kanisius (https://books.google.co.id, diakses pada 20 April 2016)