Penyakit Blast Padi merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman Padi, penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pyricularia Oryzae, pada awal perkembangannya penyakit ini sering ditemukan di pertanaman padi Gogo, namun akhir-akhir ini perkembangannya sering ditemukan di sawah irigasi terutama sawah tadah hujan. Penyakit Blast menyerang hamper disemua Fase pertanaman, pada fase Vegetatif infeksi ditandai dengan adanya bercak kecil berbentuk elips yang meruncing din kedua ujungnya bisa disebut blast daun (leaf Blast), sedangakan pada fase Generatif infeksi berkembang pada tangkai/leher malai disebut blast leher (neck Blast). Perkembangan penyakit Blast leher dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa oleh gabah sebgai pathogen tular benih, penyakit Blast leher/malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai bulir padi terganggu dan banyak bulir padi yang hampa. Penyakit Blast dengan intensitas serangan yang tinggi bahkan dapat menyebabkan Gagal panen / puso. Faktor yang mempengaruhi Serangan Penyakit Blast Penggunaan Nitrogen secara berlebihan Penggunaan Nitrogen yang berlebih dapat menyebabkan tanaman menjadi subur, pengaruh nitrogen terhadap sel epidermis menyebabkanpeningkatan permeabilitas dinding sel dan menurunnya kadar unsur silica (Si), sehingga jamur lebih mudah melakukan penetrasi. Suhu dan Kelembaban Suhu Spolurasi : 10° -35° C suhu optimal 28° C kelembaban ˃ 92 % laju spolurasi meningkat sejalan dengan naiknya kelembaban. Perkecambahan konidia terjadi pada 25 - 30°C suhu Optimum 26 – 28 °C Pertumbuhan Miselium 8 – 37 °C suhu Optimum 28°C Kelembaban Optimum untuk Perkecambahan Konidia dan pertumbuhan miselium di atas 90% Suhu Optimum untuk pembentukan apresoria ialah 28°C Sumber Inokulum Cendawan Pyricularia Orizae mampu bertahan pada sisa jerami dan benih yang sehat, pada kondisi ini spora mampu bertahan hingga 1 tahun, sedangakan pada kondisi miselium bisa lebih dari 3 tahun. Ras Patogen dan Ketahanan Tanaman. Cendawan blast mempunyai ras-ras pathogen yang berbeda kemampuannya dalam menginfeksi Varietas padi, penanaman pvarietas tahan dengan sekala luas, mengakibatkan penganeka ragaman lingkungan menjadi berkurang. Mengakibatkan tingkat seleksi yang kuat, tentunya dapat mendorong perkembangan ras- ras pathogen penyakit blast yang baru, sehingga sering berjalannya waktu mampu mematahkan varietas yang semula tahan, variets yng tahan di suatu daerah, mungkin akan menjadi rentan jika ditanam di daerah lain, hal ini di sebabkan karena perbedaan ras pathogen tersebut. Ketahanan mekanik atau fisik dapat mencegah masuknya pathogen penyakit blas ke dalam jaringan tanaman disebabkan oleh struktur tanaman inang, pada Daun : Ketahananterhadap pathogen di pengaruhi oleh ketebalan kultikula dan kandungan kultikula daun. Pada varietas tahan, daunnya memiliki kandungan silikat efidermis yang lebih banyak di bandingkan varietas rentan. Ketahanan sisiologis / kimiawi tanaman, merupakan ketahanan terhadap pathogen dalam jaringan tanaman karena aksi kimia melawan pathogen, hal ini dipengaruhi oleh kandungan senyawa asam amino dan fenol dari tanaman, pada tanaman dengan varietas tahan, kandungan senyawa fenol (senyawa racun bagi cendawan blas)lebih banyak sedangkan senyawa asam amino lebih sedikit Siklus Penyakit Blast Penyakit blast (Pyricularia Orizae) memiliki sepora yang disebut konidia, infeksi pada tanaman padi terjadi melalui perkecambahan konidia, pembentukan apresoria yang memproduksi tabung infeksi dan di ikuti dengan peneterasi melalui kultikula, epidermis atau pun stomata daun. Pada varietas rentan terhadap penyakit Blas, jaringan tanaman memberi respon lambat sehingga hifa berkembangan dengan bebas, sedangkan pada varietas tahan, jaringan tanaman akan mengeluarkan senyawa penghambat yang meyebabkan perkembangan hifa terhenti. Teknik Pengendalian Penyakit Blast (Pyricularia Orizae). Pergiliran tanaman dengan bukan padi Pemilihan varietas tahan penyakit blast (Pyricularia Orizae). Perbaikan cara bercocok tanam Pembenaman jerami sakit sebagai kompos Tanam serempak Pengaturan jarak tanam dengan jajar legowo 2:1 3:1 4:1 Pemupukan secara berimbang Perbaikan sistem irigasi dan melakukan pengairan berselang Lakukan sanitasi lingkungan pertanaman Penggunaan Pestisida Nabati / agen Hayati Perawatan benih dengan fungisida yang di izinkan Penggunaan Pestisida (Fungisida) Penggunaan pestisida kimia merupakan tindakan terakhir dan penggunaanya harus mengikuti langkah 6 tepat penggunaan pestisda diantaranya : Tepat Jenis, Tepat Mutu, Tepat Dosis, Tepat aplikasi, Tepat Sasaran, Tepat Waktu. Disusun Oleh; Ani Maryani, SP. Admin SMIPP BPP Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis