Penyakit blendok disebabkan oleh bakteri Xanthomonas albilineans (Ashby) Dowson. Bakteri ini sangat aerobik. Sebelum tahun 1913 penyakit ini dianggap identik dengan "gumming disease" yang terdapat di Australia. Baru pada tahun 1920 penyakit blendok dapat diidentifikasikan, dan bukan penyakit lain yang diperkirakan semula identik.Sebaran penyakit. Penyakit blendok tidak banyak dilaporkan di Indonesia, sehingga dipandang sebagai penyakit yang tidak begitu penting. Padahal dahulu kerugian akibat penyakit ini cukup besar, terutama sewaktu masih menggunakan varietas tidak tahan seperti POI 2967 dan POJ 3067. Sedikitnya laporan penyakit blendok mungkin disebabkan varietas-varietas tebu yang ditanam sekarang tahan terhadap penyakit tersebut. Namun secara sporadis penyakit blendok masih dijumpai di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung dan Jawa.Penularan dan gejala. Pemakaian bibit yang sakit dipandang sebagai sebab utama timbulnya penyakit di kebun tebu. Bibit yang sakit tersebut dapat berasal dari tanaman dengan gejala penyakit blendok, atau tanaman-tanaman yang berpenyakit blendok latent. Penularan penyakit blendok dapat pula melalui pisau pemotong bibit. Pisau yang memotong batang tebu yang berpenyakit blendok dapat menginfeksi bidang pangkas bibit sehat lain hingga 7 kali bahkan sampai pemangkasan yang ke-18. Ternyata pisau tersebut masih dapat menyebabkan infeksi. Mata-mata yang muda lebih mudah terserang daripada mata-mata yang lebih tua.Gejala tanaman tebu yang terserang penyakit blendok di kebun, yang mulai terlihat kira-kira enam minggu sampai dua bulan setelah penanaman, dapat berupa: - sebagian tanaman sekonyong-konyong mati, - sebagian mati perlahan-lahan, - sebagian menderita secara khronis, dan - sebagian dapat sembuh kernbali. Kejadian seperti tersebut dapat juga prosesnya berjalan lebih lambat. Tajuknya mengering secara perlahan karena adanya gangguan pengangkutan air dalam batang tebu, bukan karena matinya akar tanaman. Bila pengisapan air oleh akar tidak berjalan baik, maka tanaman akan mati. Gejala yang mudah dilihat untuk identifikasi ialah: 1) Adanya garis-garis khlorosis searah tulang daun, dari ibu tulang daun ke tepi daun; 2) Pada satu helai daun dapat terjadi satu atau lebih garis atau jalur khlorosis; 3) Garis atau jalur khlorosis tersebut kemudian diikuti dengan mengeringnya sebagian atau seluruh jalur; 4) Pada serangan yang parah jumlah jalur demikian banyak dan diikuti mengeringnya daun; 5) Selanjutnya dapat diikuti tumbuhnya tunas-tunas samping atau siwilan yang juga mengalami khlorosis.Bila serangannya kronis, tanaman mudah beralih ke stadium yang lebih parah dan lebih cepat menjadi korban kekeringan atau terlalu banyak air dibanding tanaman yang sehat. Pada keadaan tertentu, terutama bila curah hujan baik dan didukung teknik budidaya prima, gejala-gejala penyakit blendok akan dapat lenyap, tanaman tampak seperti sehat. Tanaman yang demikian merupakan tanaman berpenyakit blendok latent atau tersembunyi. Gejala dapat timbul kembali pada musirn kemarau. Kerugian yang terjadi dan pengendaliannya. Pada tebu yang peka kerugian dapat besar sekali. Kerugian diperparah bila kondisi lingkungannya kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman, keadaan terlalu kering atau terlalu basah. Untuk menghindari adanya infeksi dalam rangka pengendalian, maka pada penanaman harus menggunakan bibit yang sehat, bebas dari penyakit blendok baile yang menunjukkan gejala maupun yang tersembunyi (latent). Penanaman tebu dengan varietas yang tahan merupakan cara pengendalian yang paling baik. Di samping itu desinfeksi pisau pemotong bibit akan sangat membantu mencegah tertularnya bibit tebu yang ditanam. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.