Penyebab penyakit ini adalah cendawan Slagnospora sacchari Lo dan Ling. Merupakan penyakit baru yang dilaporkan keberadaannya pada tahun 1986 di Lampung.Sebaran penyakit. Penyakit ini pertama kali dijumpai di Lampung di area pertanaman tebu PG Gunung Madu. Tebu yang mendapat serangan hebat adalah varietas Ragnar dan SP 70-1284. Kemudian penyakit ini dijumpai di area pertanaman tebu PG Gula Putih Mataram.,PG Bunga mayang,dan PG Cinta manis di Sumatera Selatan.Penularan dan gejala. Penularan penyakit melalui spora cendawan yang terbawa air hujan atau angin. Di samping itu penularan juga dapat melalui klaras daun tebu yang sakit yang terdapat pada bibit tebu yang ditanam. Gejala tanaman sakit, pada daunnya terdapat suatu noda berbentuk elip memanjang dikelilingi oleh suatu warna kuning. Bentuk-bentuk noda tersebut sering kali saling bersambungan. Kemudian bagian tengahnya mengering. Pada keadaan cuaca terik dan kering daun-daun tampak seperti terbakar.Kerugian yang terjadi. Besar kerugian tergantung dari ketahanan varietas tebu dan keadaan iklim. Di Taiwan pada varietas Co 290 terjadi penurunan bobot tebu dan hablur gula masing-masing 17 dan 13 persen. Sedangkan di Philipina kerugian hablur gula pada varietas H 37-1933 sebesar 25 persen.Pengendalian. Pengendalian yang terbaik adalah menggunakan varietas tebu yang tahan atau lebih tahan (toleran) terhadap penyakit tersebut. antara lain Ps 56 dan Ps 57. Di samping itu, seperti halnya pada pengendalian penyakit umumnya, sanitasi kebun perlu mendapat perhatian. Untuk menghindari lerjadinya penyebaran penyakit ini ke wilayah penanaman tebu di luar daerah Lampung dan Sumatera Selatan, jika memasukkan bibit dari daerah "wabah" tersebut hendaknya memenuhi ketentuan-ketentuan pengiriman bibit tanaman yang berlaku baik nasional maupun internasional. Penyakit Noda Kuning Penyakit Noda Kuning disebabkan oleh jamur Mycovellvsiella koepkei (krÜger) Deighton. Jamur ini meriba di dalam sel-sel parenkim dan miseliumnya tidak terdapat di dalam berkas – berkas pembuluh. Sulur-sulur jamur ke luar melalui mulut-mulut kulit (stomata) dari bagian bawah daun tampak bersekat, tidak sarna panjangnya, dan berwama coklat. Pada ujungnya terdapat konidium-konidium yang jika telah masak akan dilepaskan. Jika singgah di daun muda dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru.Sebaran penyakit. Penyakit ini sudah lama dikenal di Jawa, namun baru dikemukakan penciriannya. Penyakit ini terutama daerah tinggi Malang yang lembab. Lama penyakit noda kuning tidak mendapat perhatian, baru setelah tahun 1929 menarik perhatian pada tebu varietas POJ 2878. Pada saat ini penyakit ini telah dijumpai di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Penularan dan gejala. Pada daun timbul noda-noda berwarna kuning agak pucat yang cepat menjadi kuning cerah, dan warna ini juga bertahan pada daun yang tua. Kemudian jika serangan menjadi parah di dalam noda timbul bintik-bintik berwama merah, hanya kadang-kadang saja seluruh noda menjadi berwarna merah darah yang kotor. Bentuk noda tidak teratur, kadang-kadang bersambungan. Penularan melalui spora yang berupa konidium yang dilepaskan dari daun bagian bawah. Kerugian yang terjadi. Terjadi penghambatan pembentukan gula terutama pada noda-noda yang semakin meluas. Pada serangan penyakit noda kuning yang menurut penglihatan hebat dan terjadi terus menerus, akan timbul kerugian, rendemen akan menurun. Bila penyakit noda kuning disembuhkan, ketinggalan pembentukan gula akibat serangan penyakit ini, dapat dikejar dalam 2 bulan. Kesimpulan tersebut merupakan hasil penelitian dengan percobaan yang dilaksanakan di Malang. Namun kesulitan yang dihadapi adalah penunjukan keparahan serangan jadi sangat subyektif, karena tidak adanya tolok ukur kuantitatif.Pengendalian. Pengendalian yang terbaik adalah dengan penanaman varietas tebu yang tahan terhadap penyakit noda kuning. Di samping itu sanitasi kebun akan dapat mencegah terjadinya penyebaran dan penularan. Pada percobaan pendahuluannya, mengadakan pemberantasan kimiawi dengan penghembusan beberapa kali selama dua atau tiga bulan sebelum saat tebang memberi hasil yang baik. Namun penelitian ini masih perlu disempurnakan lebih lanjut. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.