Loading...

PENYAKIT DI PERTANAMAN TEBU

PENYAKIT DI PERTANAMAN TEBU
Tanaman tebu diketahui peka terhadap lebih dari 100 penyakit, dan penyakit-penyakit penting di pertanaman tebu Indonesia di luar penyakit fisiologis dan penyakit akibat lingkungan lainnya, dijumpai 32 penyakit tanaman tebu di antaranya dapat merugikan. Di India penyakit mosaik banyak terdapat meluas di pertanaman tebu, tetapi kerugian akibat dari penyakit tersebut dianggap kecil. Namun demikian, penurunan bobot tebu pada varietas Co-213 kadang-kadang lebih dari 15%. Pengendalian dengan menggunakan varietas tahan merupakan cara yang efektif seperti yang dikerjakan di Brazilia dengan menggunakan varietas POJ yang tahan. Berbagai penyakit yang terdapat di negara-negara penghasil tebu tidak sama. Oleh karena itu pencegahan masuknya penyakit antara negara yang membudidayakan tanarnan tebu dengan sistem karantina sangat penting sekali. Uraian ringkas tersebut menekankan bahwa penyakit merupakan suatu faktor yang dapat menurunkan hasil tebu di beberapa negara yang membudidayakan tebu. Ditinjau dari penyebabnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu (i) penyakit-penyakit fisiologis, dan (ii) penyakit-penyakit menular. Keduanya menyebabkan pertumbuhan tanaman yang abnormal, menyimpang dari yang dianggap biasa. Penyakit-penyakit fisioiogis disebabkan oleh keadaan lingkungan tempat tumbuh tanaman yang kurang mendukung bagi proses kegiatan fisiologisnya. Misalnya keadaan tanah yang kahat hara, drainase yang buruk, iklim atau cuaca kering dan sebagainya. Penyakit fisiologis ini tidak menular. Namun kondisi tanaman pada lingkungan yang demikian mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap penyakit yang menular. Penyakit fisiologis dapat dicegah dengan memperbaik Iingkungan tempat tumbuh antara lain pengolahan tanah dan pemeliharaan tanam yang baik serta pemenuhan kebutuhan hara yang berimbang. Penyakit-penyakit menular dapat disebabkan oleh bakteri, jamur atau cendawan, virus dan mikroorganisme lain. Penyakit-penyakit menular berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi : a. Penyakit sistemik, yaitu penyakit yang menjangkiti seluruh tubuh (akar, batang dan daun) tanaman menjadi sakit. Bibit yang berasal dari tanaman tersebut akan menghasilkan tanaman baru yang sakit pula. Contoh penyakit sistemik antara lain, penyakit blendok dan penyakit mosaik yang masing berturut-turut disebabkan oleh bakteri dan virus; b. Penyakit setempat, yaitu penyakit yang penyerangannya bersifat setempat, di sebagian atau kadang-kadang sebagian besar tanaman menjadi sakit. Contohnya penyakit pokahbung, bodkuning, noda cincin dan lain-lain. Umumnya disebabkan oleh sarang cendawan. Bagian tanaman yang sehat dari tanaman yang sakit dapat digunakan sebagai bibit, dan tanaman yang tumbuh dari bibit tersebut tetap sehat meskipun dapat tertular lagi dari luar. Pada uraian selanjutnya, bilamana disebutkan penyakit maka yang dimaksud adalah penyakit menular yang terdapat pada pertanaman tebu. Selain cacat akibat penyakit, terdapat pula cacat tanaman yang menyerupai penyakit akibat suhu, angin, dan petir. Suhu yang turun mendadak pada waktu malam (frost) dapat mengakibatkan terjadinya khlorosis setempat (belang) melintang daun 5 - 10 cm, juga ada garis-garis hijau membantai tulang daun. Adanya angin akan dapat menyebabkan terjadinya daun seperti terbakar, abrasi, cabik dan sebagainya. Petir dapat menyebabkan daun "pecah" (belah), menjadi kuning, ungu atau seperti terbakar. Kebun yang disambar petir biasanya sedikit banyak menyerupai suatu lingkaran. Bagian bunga dari tanarnan jenis Saccharum, dan generasi yang berdekatan dengannya, jarang terserang oleh pathogen. Walaupun demikian telah dilaporkan adanya serangan jamur pada bunga tebu, dan beberapa dapat mengancam rencana program persilangan. Koleksi varietas yang digunakan untuk persilangan harus benar-benar bebas dari cendawan bunga, karena suatu mutasi pathogen, atau suatu seleksi yang tak disadari pada genotip peka, dapat sangat meningkatkan kisaran infeksi.Asas-asas pengendalian penyakit, pengendalian penyakit pada dasarnya tidak terlalu berbeda dengan pengendalian hama,yaitu (1) pencegahan yang sifatnya tidak langsung, dan (2) pemberantasan atau pencegahan pemusnahan yang sifatnya langsung terhadap penyakitnya atau tanaman yang terserang penyakit. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.