Loading...

PENYAKIT MOSAIK PADA TANAMAN TEBU

PENYAKIT MOSAIK PADA TANAMAN TEBU
Penyakit mosaik disebabkan oleh virus. Virus sendiri merupakan zat penular yang mempunyai ciri dapat melewati suatu saringan yang dapat menahan bakteri-bakteri. Virus mempunyai susunan ruang menyerupai protein dan menjadi tidak aktif karena berbagai agens kimia dan fisika (rnisal panas). Di dalam sel-sel hidup virus dapat memperbanyak diri, tetapi virus tidak dapat bertambah di luar sel hidup. Virus tidak dapat dilihat atau diperiksa dengan mikroskop biasa, tetapi dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektronik.Sebaran penyakit. Penyakit mosaik merupakan penyakit virus yang tersebar di seluruh pertanaman tebu dunia. Di Indonesia dapat dijumpai antara lain di Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Berbagai macam kutu dapat menyebarkan penyakit virus satu tanaman ke tanaman lainnya yang berupa tanaman utama atau tanaman inangnya. Berbagai tanaman dapat menjadi inang virus penyebab penyakit mosaik, antara lain glagah,jagung, sorghum dan berbagai jenis rerumputan dan padi-padian. Yang dikenal sebagai tanaman inang di Jawa adalah Panicum colonum dan Paspalum sanguinale.Penularan dan gejala. Penyakit mosaik pertama kali dijumpai di Jawa pada tahun 1892 oleh Musschenbroek. Semula disebut "penyakit garis kuning" (gelestrepenziekte). Penyakit tersebut diduga berasal dari Papua New Guinea, termasuk Irian Jaya yang merupakan daerah asal tanaman tebu. Penyakit ini merupakan penyakit sistemik yang disebabkan oleh virus. Penyakit mosaik secara primer ditularkan melalui bibit. Tidak semua tanaman yang tumbuh dari kuncup-kuncup bibit yang berasal dari tanaman sakit akan berpenyakit mosaik. Dapat juga tumbuh tunas-tunas sehat, tidak memperlihatkan gejala mosaik pada daun. Tanaman yang sakit dapat mengatasi serangan penyakit mosaik dan melanjutkan pertumbuhannya dengan sehat sama sekali, ini sering terjadi pada varietas POJ 2878. Penyakit mosaik juga dapat ditularkan oleh serangga, kum jagung, Rhopalosiphum maidis Fitch. Di Jawa kutu ini merupakan serangga yang terpenting yang dapat bertindak sebagai pembawa (vektor) penyakit mosaik. Kutu tersebut menjadi virulen setelah 5 menit menghisap cairan pada daun tanaman yang sakit, dan kemudian dapat menularkan penyakit mosaik pada tanaman tebu yang sehat dalam 15 menit setelah ditempelkan pada daun tanaman sehat tersebut. Kemampuan kutu jagung menularkan penyakit akan hilang setelah satu jam dipindahkan dari tanaman yang sakit. Tanaman tebu pada umur tiga bulan, merupakan fase yang paling rentan terhadap infeksi penyakit mosaik. Masa inkubasinya dapat berlangsung lebih kurang tiga mmggu. Parang atau pisau pemotong bibit atau batang tebu dapat dianggap sebagai pembawa penyakit mosaik. Masa inkubasinya berlangsung selama tiga bulan. Namun hasiInya tidak tetap dan tidak pasti, hanya sekitar 1 di antara 400 bibit yang diinfeksi dengan parang menghasilkan rumpun sakit.Gejala penyakit mosaik dapat diamati pada helaian daun terutama daun yang masih muda, sebab semakin tua daunnya, gejala tersebut semakin kurang jelas. Daun tanaman yang terserang penyakit mosaik memperlihatkan gejala timbul noda-noda berbentuk elip, pendek ataupun memanjang tidak beraturan dengan warna hijau muda atau kekuningan, sejajar berkas pembulub, tersebar merata di seluruh helaian daun yang muda. Kadang-kadang ada pewarnaan merah pada daun yang tua. Bentuk-bentuk garis atau noda tersebut kemudian bergabung menjadi satu merupakan kelompok di antara warna hijau daun yang normal. Penelitian mutakhir menunjukkan ada beberapa tipe (strain) penyakit mosaik, yang mempunyai tingkat virulensi yang berlainan. Tipe (strain) mosaik yang terbanyak terdapat di Jawa adalah tipe I, VI, dan IV atau strain B, E, dan A. Masing-masing strain tersebut menunjukkan gejala dengan pola yang khas.Kerugian yang terjadi. Hasil penelitian beragam, namun rerata kerugian gula, bobot tebu dan rendemen akibat penyakit mosaik masing-masing berturut-turut adalah 9%, 7%, dan 0,32%. Percobaan kerugian memperlihatkan bahwa rerata serangan di atas 50% dapat menurunkan produksi baik bobot tebu maupun hablur gula lebih dari 9 persen. Pengendalian. Pengendalian yang terbaik adalah dengan menggunakan bibit varietas yang tahan terhadap penyakit mosaik. Pemakaian bibit yang sehat akan dapat mencegah serangan penyakit ini.Penyakit mosaik dapat dikendalikan secara tidak langsung dengan mencegah terjadinya infeksi. Untuk ini agar diusahakan tidak terdapat sumber-sumber infeksi, baik di dalam maupun di sekitar kebun-kebun bibit. Pengamatan dan seleksi terhadap tanaman yang sakit harus diadakan secara terus menerus, dan rumpun yang sakit harus dibongkar dan dimusnahkan. Perawatan bertahap dengan air panas terhadap bibit tebu atau batang tebu tiga hari berturut-turut dapat menyembuhkan bibit atau batang tebu yang berpenyakit mosaik. Pemanasan hari pertama (pretreatment) selama 20 menit pada suhu 52°C. Hari kedua dengan pemanasan pada suhu 57,3° C, juga selama 20 menit. Terakhir hari ketiga dengan pemanasan selama 20 menit dengan suhu 57°C. Beberapa faktor yang mempengaruhi ke arah perkecambahan yang baik setelah perawatan air panas adalah (i) batang tebu berumur 6 - 9 bulan, (ii) tebu ditebang 1- 2 hari sebelum dirawat, (iii) tidak diadakan pengelentekan, dan (iv) tanam segera, serta (v) hindari suhu dan kelembaban yang ekstrim. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.