Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Ceratocystis paradoxa (de Synes) Moreau. Cendawan ini mudah dibiakkan di berbagai media makanan buatan, Miselianya berwarna putih salju. Kemudian warna ini segera berubah menjadi tua dari hijau-zaitun hingga hitam selama terbentuknya alat pembiakan. Cendawan ini dapat tumbuh pada kisaran suhu antara 10°C 34°C, dan suhu pertumbuhan optimal adalah 28°C dan pH antara 5 dan 7. Tanaman inangnya cukup banyak antara lain pisang, coklat, pepaya, kopi jagung, pohon kelapa dan beberapa palem lainnya.Sebaran penyakit. Penyakit ini telah dijumpai di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Belum ada laporan adanya penyakit ini di wilayah pertanaman tebu lainnya. Namun mengingat mudahnya cendawan ini berbiak di berbagai macam media, penyakitnanas ini perlu mendapat perhatian dan diwaspadai.Penularan dan gejala. Spora jamur penyebab penyakit ini yang terdapat di dalam tanah dapat menginfeksi bibit tebu melalui bidang pangkasnya. Bila keadaan menguntungkan bagi cendawan, serangannya dapat hebat sekaii, sehingga mata tebu tidak dapat tumbuh sarna sekali atau cepat mati.Tanaman yang telah tumbuh baik jarang terserang oleh penyakit nanas. lnfeksi hanya terjadi melalui luka-luka yang diakibatkan oleh serangan tikus, gigitan serangga, atau secara mekanis lain-lainnya.Gejala penyakit ini pada awalnya tidak tampak dari Iuar, terutama bila penyakit belum mencapai tingkat yang berat. Penyakit ini lebih sering menyerang pada bibit tebu. Penampang batang yang terserang, memperlihatkan ruas-ruas berwarna merah jingga, sedang bagian pusat dari ruas-ruas tersebut sering kelihatan hitam dan rnengeluarkan aroma yang berbau khas seperti nanas. Pada penampang membujur bibit-bibit tebu yang terserang penyakit nanas, sewaktu masih stadium awal (muda) hanya memperlihatkan warna merah pada tapak pangkas, kadang-kadang tercampur warna hitam. Pada serangan yang lebih berat, seluruh pusat bibit berwama hitam. Warna hitam di pusat ruas-ruas yang terserang itu merupakan gejala khas penyakit nanas.Kerugian yang terjadi. Pada tanaman tebu yang telah tumbuh di kebun-kebun, kerugian yang disebabkan oleh penyakit nanas adalah kecil. Tetapi penyakit nanas menjadi penyebab utama pembusukan bibit tebu dan dengan demikian banyak merugikan tanaman tebu.Pengendalian. Yang terutama adalah penggunaan bibit yang sehat dan berkualitas baik. Penyelenggaraan teknik budidaya yang baik akan memacu perkecambahan dan pertumbuhan tanaman yang sehat dan dapat membatasi timbulnya penyakit nanas pada bibit tebu yang ditanam. Jika tanah telah terjangkit berat oleh penyakit ini, perlu tindakan pencegahan pada tapak pangkas bibit. Tapak pangkas bibit perlu dilindungi dengan menggunakan ter. Bibit dapat dicelupkan kedalam larutan Benlate 300 ppm padasuhu biasa, atau dengan perawatan air panas yang mengandung 150 ppm Benlate, yang juga digunakan untuk merawat bibit terhadap penyakit pembuluh (RSD). PENYAKIT DONGKELAN. Penyebab penyakit ini adalah cendawan Marasmius sacchari Wakker. Sporanya berwama putih bentuknya tidak teratur. Cendawan ini suatu saprofit di dalam tanah dan dapat berjangkit sebagai parasit luka yang lemah atau menyerang tanaman tebu yang kondisinya lemah. Dalam persemaian cendawan Marasmius sacchari ini dapat menyerang bibit terutama melalui tapak pangkasnya. Tunas biakan merana pertumbuhannya dan dapat mati. Sebaran penyakit. Sampai saat ini penyakit ini hanya dijumpai di Jawa. Belum ada laporan mengenai penyakit ini di luar Jawa.Penularan dan gejala. Penularan melalui jaringan cendawan atau spora yang berada di dalam tanah. Bibit pucuk yang berasal dari tebu yang berpenyakit dongkelan dan tidak seeara kebetulan terjangkit penyakit dongkelan dari luar, tidak akan menyebabkan bahaya infeksi. Penyakit dongkelan dapat terbawa bersama dengan bibit dari tempat persemaiannya. Gejala tebu yang terserang penyakit dongkelan, daunnya akan tampak layu dan mengering. Pada pangkal batang, pelepah daun direkatkan ke batang oleh miselia jamur yang berwarna putih. Sebagian akar atau seluruhnya membusuk, kemudian akan tumbuh akar baru di atas bagian yang membusuk tersebut. Kerugian yang terjadi dan pengendaIiannya. Penyakit ini hanya berjangkit pada kondisi penyelenggaraan budidaya yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman. Jika penyakit telah berjangkit sedemikian, sehingga gejalanya mulai terlihat, hampir tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki tanaman. Tindakan darurat berupa pengeringan tanah memperbaiki abrasi tanah dan cahaya di dalam kebun (dengan pengelentekan dan pemberian tanah baru) dan pemberian air yang berhati-hati dapat dianjurkan, namun tindakan ini hanya bersifat mencegah menjalar dan menghebatkan penyakit. Tindakan yang paling jitu adalah sebelum terjadinya serangan penyakit, yaitu memperhatikan pengolahan pendahuluan sewaktu pembukaan lahan terutama pendayungan (pengeringan) tanah yang cukup, pengaturan drainase yang baik, dan pemeliharaan tanaman yang dapat memacu pertumbuhan yang optimal. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.