Loading...

PENYAKIT PADA SAPI PERAH (BAGIAN I)

PENYAKIT PADA SAPI PERAH (BAGIAN I)
Pada pemeliharaan ternak, tak hanya urusan makanan maupun kandang yang perlu diperhatikan. Masalah kesehatan merupakan salah satu hal penting yang harus menjadi perhatian utama. Penyakit pada ternak cukup sering melanda para peternak. Penyakit pada ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Untuk itu peternak, dalam tulisan ini peternak sapi perah harus mengetahui berbagai penyakit yang dapat menjangkit sapi perah. Hal ini perlu diketahui sebab sangat menyangkut bagaimana penanganannya secara baik da terkendali. Jenis penyakit yang perlu diketahui peternak sapi perah adalah sebagai berikut :Antrax. Salah satu jenis penyakit ternak yang sangat ditakuti peternak adalah anthrax. Anthrax adalah penyakit menular yang biasanya bersifat akut atau perakut pada berbagai jenis ternak seperti pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya, yang disertai dengan demam tinggi. Anthrax merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini mampu membentuk endospora yang tahan hingga puluhan tahun di dalam tanah sehingga menjadi sumber infeksi (daerah endemis). Tanah yang tercemarendospora bakteri Bacillus anthracis merupakan sumber infeksi dan bersifat bahayalaten karena dapat terserap oleh akar tumbuh- tumbuhan hingga mencapai daun maupun buahnya sehingga berpotensi untuk menginfeksi ternak maupun manusia yang mengkonsumsinya. Selama masa akhir dari penyakit ini pada hewan, bakteri vegetatif Bacillus anthracis akan keluar dalam jumlah banyak bersama darah penderita melewati lubang- lubang kumlah alami misalnya telinga, hidung, anus. Bakteri inidengan segera membentuk endospora dan berdiam diri di tanah bertahun – tahun bahkan hingga 60 -70 tahun. Masa inkubasi penyakit antraks biasanya berkisar antara 1 - 3 hari dan kadang dapat lebih dari 2 minggu. Sedang tanda-tanda umum pada tipe akut dan kronis adalah demam, sesak nafas, depresi dan lemah serta kadang disertai kejang. Tanda-tanda ternak terserang antraks biasanya berbeda antar spesies. Pada kondisi akut, mula-mula terjadi panas tubuh yang meningkat (demam), kemudian penderita menjadi gelisah, depresi dengan pernafasan susah. Gejala ini diikuti dengan jantung cepat dan lemah, kejang dan penderita segera mati. Selama penyakit berlangsung, demamnya mencapai 41,50C. Produksi susu berkurang dan susu yang dihasilkan berwarna sangat kuning atau kemerahan. Pembengkakan pada tenggorok dan lidah adalah salah satu gejala umum yang tampak. Apabila sapi menderita penyakit anthrax, air susunya tidak boleh dikonsumsi atau dijadikan makanan lain sebab sangat berbahaya. Oleh karena itu perlu dilakukan vaksinasi, pembakaran atau dilakukan penguburan bila terdapat hewan mati karena penyakit tersebut. Setiap keadaan wabah penyakit perlu dicatat dan segera diatasi; karantina yang baik, isolasi hewan yang sakit secara cepat, bakar semua tinja dan semua materia yang terkontaminiasi. Disamping dilakukan disinfeksi kandang dan peralatannya, semprot serangga disekitar kadang dengan insektisida dan lain-lain.Brucellosis. Penyakit Brucellosis atau keluron menular juga merupakan penyakit zoononis yang disebabkan oleh Brucelle abortus. Bakteri Brucella bersifat gram negatif, berbentuk batang halus, mempunyai ukuran 0,2 - 0,5 mikron dan lebar 0,4 - 0,8 mikron, tidak bergerak, tidak berspora dan aerobik. Brucellosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan oleh 3 spesies, yaitu Brucella melitensis, yang menyerang pada kambing,Brucella abortus, yang menyerang pada sapi dan Brucella suis, yang menyerang pada babi dan sapi. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh brucellosis sangat besar. Pada sapi perah, brucellosis dapat menyebabkan penurunan produksi susu. Pada kelenjar susu tidak menunjukkan gejala klinis meski di dalam air susu terdapat kuman Brucella. Gejala klinis dari penyakit brucellosis ini adalah abortus. Keguguran biasanya terjadi pada umur kebuntingan 6 sampai 9 bulan kebuntingan, Seekor sapi betina setelah keguguran tersebut masih mungkin bunting kembali, tetapi tingkat kelahirannya akan rendah dan tidak teratur. Kadang-kadang fetus yang dikandung dapat mencapai tingkatan atau bentuk yang sempurna tetapi pedet tersebut biasanya labir mati dan plasentanya tetap tertahan (tidak keluar) serta disertai keadaan metritis (peradangan uterus). Brucellosis penyakit dapat menulari semua betina yang telah dewasa kelamin dan dapat menyebabkan abortus. Pada fetus, bakteri Brucella dapat ditemukan dalam paru-paru dan dalam cairan lambung. Pada pejantan bakteri brucella dapat ditemukan dalam epydidymis, vas deferens dan dalam kelenjar vesicularis, prostata dan bulbourethralis. Cara penularan yang paling banyak adalah melalui air atau pakan yang tercemar oleh selaput janin atau cairan yang keluar dari rahim hewan penderita infeksi.Penyakit dapat menular melalui peroral, alat kelamin, perkawinan alami atau pembuahan buatan, melalui kontak yakni melalui selaput lender dan selaput mata, melalui vector (anjing dan hewan lain). Penularan penyakit brucellosis juga dapat terjadi melalui air susu induk yang diminum oleh pedet sapi, namun terjadinya infeksi melalui air susu tersebut sangat kecil sekali. Pencegahan brucellosis pada sapi didasarkan pada tindakan higiene dan sanitasi, vaksin anak sapi dengan Strain 19 dan pengujian serta penyingkiran sapi reaktor. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara tes diadakan 2 – 3 kali dengan interval 6 bulan sampai semua reaktor keluar. Sedangkan untuk penambahan sapi baru harus berasal dari peternakan yang bebas brucellosis dan pada anak sapi yang berumur 4 – 6 bulan sebaiknya diberi vaksin. Selain itu, bila pernah terjadi wabah ini, maka sisa-sisa abortusan yang bersifat infeksius dimusnahkan. Kandang-kandang ternak penderita dan peralatannya harus dicuci dan dimusnahkan serta ternak pengganti jangan segera dimasukkan. Fetus dan plasenta harus dibakar dan vagina apabila mengeluarkan cairan harus diirigasi selama 1 minggu. Bahan-bahan yang biasa dipakai didesinfeksi dengan desinfektan, yaitu : phenol, kresol, amonium kwarterner, biocid dan lisol. Hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina yang mengalami kluron. Apabila seekor ternak pejantan mengawini ternak betina tersebut, maka penis dan preputium dicuci dengan cairan pencuci hama. Bila terdapat anak ternak yang lahir dari induk yang menderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak lain yang bebas brucellosis. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : 1. Majalah Swadaya, Vol.04/Edisi 38 Oktober 2014 2. Rahayu, Asih. Skripsi : Anthrax Di Indonesia (http://www.academia.edu/7355221/ANTHRAX_DI_INDONESIA , diakses 19 Oktober 2014) 3. Penyakit Bakterial Pada Ruminansia (repo.unair.ac.id, diakses 19 Oktober 2014)