Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan mengenai jenis penyakit pada sapi perah diantaranya Mastitis dan Anasplasmosis. Berikut beberapa jenis penyakit lainnya yang dapat menyerang sapi perah. Ketosis. Ketosis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di sapi perah. Ketosis adalah kelainan yang umumnya menggangu sapi perah pada minggu-minggu pertama sesudah melahirkan. Ketosis pada sapi perah di duga akibat ransum ternak yang kekurangan karbohidrat atau absosis karbohidrat yang terganggu. Di literatur lainnya, disebutkan ketosis terjadi akibat kekurangan glukosa di dalam darah dan tubuh. Ketosis merupakan suatu kekacauan metabolisme yang dapat ditimbulkan oleh tingginya lemak dan rendahnya karbohidrat dalam ransum. Ketosis dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu primary ketosis dan secondary ketosis. Ketosis primer adalah kelainan metabolik yang terjadi bila tidak terdapat kondisi patologis pada sapi tersebut. Ketosis sekunder biasanya diikuti kelainan seperti demam, mastitis atau placenta yang diretensi. Pada masa kebuntingan tua kebutuhan akan glukosa meningkat karena glukosa pada masa itu sangat dibutuhkan untuk perkembangan pedet dan persiapan kelahiran. Pada awal laktasi pada sapi perah berproduksi tinggi sering terjadi ketidakseimbangan dalam penyediaan energi bagi tubuh. Dengan demikian penyediaan ransum yang dapat menghasilkan energi dan glukosa sangatlah diperlukan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila dalam ransum konsentrat dikurangi, maka akan terjadi perubahan dalam produksi susu, terdapatnya badan-badan keton dan gangguan pada pencernaan. Oleh karenanya dalam mencukupi kebutuhan glukosa, maka akan terjadi mobilisasi asam lemak yang mempunyai efek samping yaitu meningkatkan kadar badan-badan keton yang tidak bisa dimanfaatkan. Efek samping dari pembongkaran asam lemak di hati untuk di dapatkan hasil akhir glukosa akan meningkatkan badan-badan keton seperti acetone, acetoacetate, ?-hydroxybutyrate (BHB)) dalam darah. Oleh karena itu hasil analisa urinnya menunjukkan positif untuk badan keton. Gejala ketosis yang tampak adalah menurunnya napsu makan, menurunnya kegiatan rumen, adanya konstipasi, rendahnya produksi susu dan hilangnya bobot badan. Pada awalnya biasanya hewan akan mengalami penurunan nafsu makan lebih dari 2 atau 5 hari. Selanjutnya tubuh menjadi gemetar, lemah hingga tidak kuat berdiri. Bau keton dapat dicium pada susu atau dari udara pernapasannya. Selain itu juga bau keton tercium pada urine nya. Ketosis akan menurunkan kandungan lemak susu, laktosa dan casein. Gejala gangguan syaraf kadang-kadang dapat terlihat, ditandai dengan sering menjilat, memakan benda2 asing disekitarnya dan kadang kala bisa mengalami kebutaanUntuk pencegahan penyakit tersebut diantaranta di kasih energi ransum tinggi sebelum melahirkan, serta sapi jangan terlalu gemuk dan kurus. Protein ransum 16% dan konsentrat 3%, sedangkan hijauan rumput baik dan rumput kering 3 kg. Sedangkan untuk pengobatan sebaiknya perlu segera hubungi dokter hewan atau mantri hewan/paramedic terdekat. Dapat juga diberikan larutan glucoses 50%, dosis 500 ml/ekor suntik intravena setiap hari selama 3 – 4 hari, klorat hidrat dengan dosis 30 gr/ekor setiap hari, predisolone (tablet supplement) dengan dosis 100 – 400 mg/ekor suntik pada daging. Dalam pengobatan diagnosis berdasarkan gejala klionis analisis darah dan air kencing untuk menentukan kadar kedton dan respon pada gluctosa.Milk Fever. Penyakit milk fever disebabkan oleh defisiensi kalsium (Ca) atau karena kadar fosfor (P) dan magnesium (Mg), sehingga absorpsi CA menjadi terlambat. Sapi yang menderita penyakit ini di dalam darahnya dijumpai adanya hipocalcaemia yaitu penurunan kadar kalsium yang cepat di dalam serum darah penderita. Gangguan ini diduga disebabkan oleh adanya bendungan pada sistem syaraf, alergi, penyakit neuro muskuler, penyakit keturunan, penyakit ketuaan, penyakit infeksi dan penyakit defisiensi makanan yang menyangkut kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin D dan protein. Penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita mengalami depresi umum, tak dapat berdiri karena kelemahan bagian tubuh sebelah belakang dan tidak sadarkan diri. Hypocalcaemia yaitu suatu kejadian kelumpuhan yang terjadi sebelum, sewaktu atau beberapa jam sampai 72 jam setelah partus. Adapun gejala klinis penyakit timbul pada umumnya 12 jam setelah melahirkan dengan kejang-kejang, daging gemetar, nafsu makan berkurang atau hilang sama seklai. Pada cungur hidung tampak kering, serta sapi sapi sangat mudah terkejut dan kaki dingin, sempoyongan, rebah, suhu badan sub nornal. Biasanya kejadian ini menyerang sapi pada masa akhir kebuntingan atau pada masa laktasi. Penyakit ini biasanya timbul pada ternak sapi yang berkali-kali melahirkan dan jarang pada sapi yang baru melahirkan. Di literatur lainnya menyebutkan bahwa biasanya kasus ini terjadi pada sapi perah setelah beranak empat kali atau lebih tua, jarang terjadi pada induk yang lebih muda atau sebelum beranak yang ketiga. Untuk mencegah terjadinya milk faver, dilakukan dengan cara pada beberapa minggu sebekum melahirkan berikan fosfor lebih banyak kalsium. Sesudah melahirkan diberi kalsium kadar lebih banyak dari fosfor yaitu 1,3 : 1 atau 2 : 1 dan diberikan 150 gr kalsium sehari pada saat dan sehari setelah melahirkan. Sehari pada saat dan sehari setelah melahirkan. Namun kalsium dalam ransum harus dikurangi pada akhir periode laktasi. Sediaan kalsium yang dipakai antara lain: (a) Larutan kalsium khlorida 10% disuntikkan secara intra vena, pemberian yang terlalu banyak atau terlalu cepat dapat mengakibatkan heart block (b). Larutan kalsium boroglukonat 20-30% sebanyak 1:1 terhadap berat badan disuntikkan secara intra vena jugularis atau vena mammaria selama 10-15 menit (c).Campuran berbagai sediaan kalsium seperti Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : 1. Majalah Swadaya, Vol.04/Edisi 38 Oktober 2014 2. Sapi Ambruk: Bagian 1 (Hypocalcaemia / Paresis Puerpuralis/Milk Fever/Parturient Paralysis). (http://dokterternak.com, diakses 19 Oktober 2014) 3. Ayuningsih, Budi. 2007. Skripsi: Pengaruh Nutrisi Terhadap Timbulnya Ketosis Pada Sapi Laktasi (.http://pustaka.unpad.ac.id/ - diakses 19 Oktober 2014)