Vitamin sangat penting dalam nutrisi unggas dibuktikan dengan gejala defisiensi beragam yang memanifestasikan ketika vitamin kurang dalam bahan pakan. Vitamin sangat erat terlibat dalam serangkaian peran dalam organisme sebagai molekul antioksidan, modulator transkripsi gen, biosintesis neurotransmiter dan asam nukleat, driver pembelahan sel, perkembangan organ dan embriogenesis, yang semuanya berkontribusi pada fungsi saraf normal (Debora Siahaan, 2012). Untuk itu, kekurangan nutirsi sangat berpengaruh terhadap kesehatan unggas. Berikut beberapa penyakit yang disebabkan oleh gangguan nutrisi. A. DEFISENSI VITAMIN A. Semua ternak membutuhkan vitamin A. Vitamin A tidak terdapat dalam bahan makanan nabati secara aktif tetapi dalam bentuk provitamin yang dapat dirubah menjadi bentuk aktif dalam tubuh ternak. Secara fisiologis, esensi vitamin A bagi ternak adalah untuk memelihara jaringan epitel agar jaringan tersebut dapat berfungsi secara normal. Jaringan epitel yang dimaksud adalah semua jaringan epitel yang terdapat pada mata, alat pernafasan, alat pencernaan, alat reproduksi, saraf dan sistem pembuangan urine.Defisiensi vitamin A merupakan penyakit nutrisional sering terjadi pada ayam muda yakni pada ayam 1 – 7 minggu. Ada kalanya terjadi pada induk. Pada ayam ras, jarang dijumpai kekurangan vitamin A karena hampir setiap ransum pakan ayam ras mengandung jagung kuning atau bijian lain yang mengandung vitamin A yang cukup. . Gejala klinis defisiensi vitamin A pada kutuk yang baru menetas muncul dalam 1 – 7 minggu, tergantung dari jumlah vitamin A yang tersimpan dalam telur sebleum anak ayam menetas dan yang ada di dalam pakan. Gejala yang nampak semula adalah pertumbuhannya terhenti, mengantuk dan sedikit sempoyongan. Tulang dan pial mungkin pucat. Pada anak ayam yang tahan dalam waktu 1 minggu, matanya akan menjadi meradang dan kelopak matanya dapat menjadi lengket. Pada lubang hidung dan mata terdapat getah radang mengkeju yang terkumpul di bawah kelopak mata. Sedangkan pada ayam dewasa, gejalanya timbul setelah defisiensi berlangsung 2 – 5 bulan. Gejalanya adalah penurunan produksi telur dan boros pakan. Ayam menjadi lebih rentan terhadap infeksi, dan baik produksi telur dan daya tetas yang nyata berkurang. Mata meradang pada beberapa ekor ayam dalam kelompok. Mata yang terpengaruh dengan eksudat abnormal dan keratinisasi epitel. Bengkak mata berair dengan eksudat keputihan. Tak hanya itu terapat peradangan pada rongga hidung. Getah radang kental dan mengkeju dalam kantung selaput mata dan dapat semakin membesar.Pada perubahan pasca mati, induk ayam yang mengalami defisiensi vitamin A akan mengalami lepuh bernanah keputih-putihan di dalam selaput lendir mulut, kerongkongan dan esofagus. Dalam pemeriksaan jaringan unggas ayam berupa lesi ginjal bengkak dengan zat urat putih seperti substansi. Pada batang tenggorok ditemukan lapisan selaput lendir palsu. Selain itu terdapat penyimpanan yang berlebihan empedu di kandung empedu pada ayam/unggas juga dapat diindikasikan atau ditandakan sebagai tanda kekurangan vitamin A. Untuk pencegahan terhadap defisiensi vitamin A dapat dilakukan dengan pemberian ransum pakan yang cukup mengandung vitamin A. Hindari penimbunan pakan yang terlallu banyak dan sediakan secukupnya sesuai dengan kebutuhan. Untuk pengobatan dapat dilakukan menambahkan vitamin A dalam air minum. Tambahkan vitamin A yang stabil dalam pakan sejummlah 2 – 4 kali takaran normal selama 2 mingu, kemudian untuk seterusnya menggunakan ukuran normal. B. DEFISENSI VITAMIN B1. Vitamin B1 sering disebut juga sebagai aneurin terkait dengan sifat antineuritis (anti radang urat syaraf) yang dimilikinya. Vitamin B1 berfungsi untuk membantu proses metabolisme karbohidrat dan energi dalam tubuh. Vitamin ini dalam tubuh diubah menjadi bentuk aktif thiamin pyrophosphat. Kekurangan viatamin B1 akan menyebabkan unggas (ayam) kehilangan nafsu makan, timbul gejala gangguan syaraf dan dapat terjadi kematian.Ayam dewasa yang kekurangan thiamin selama 3 minggu akan memperlihatkan gangguan syaraf. Kejadian anak ayam sering ditemukan pada umur kurang dari 2 minggu dengan gejala mendadak. Ayam hilang nafsu makan, berat badan menurun, bulu kusam, kaki lemah dan sempoyongan. Lebih jauh lagi terkadang hingga lumpuh. Defisiensi vitamin B1 secara klinis dan morfologi diwujudkan dengan kelumpuhan anggota badan dan atrofi otot, mulai dari fleksor jari kaki dan naik menuju ekstensor kaki, sayap dan leher. Ayam memperoleh postur tertentu dengan kaki tertekuk dan kepala ditarik kembali (astronomi). Perubahan pasca mati yang terlihat pada kelenjar adrenalis yang sangat membesar dan pada ayam betina lebih nyata dibandingkan ayam jantan. Bagian lapir luar kelenjar ini meluas. Kulit mengalami busung. Tetis dan mungkin indung telur mengecil. Jantung, empedal dan usus melisut. Pengobatannya dengan pemberian thiamin. Suplemen thiamin untuk air minum disarankan sampai pemulihan kekurangan akut dan sesudahnya, vitamin dapat ditambahkan dengan pakan saat pemberian pakan. C. DEFISENSI VITAMIN B2. Vitamin B2 atau riboflavin berperan dalam membentuk bagian aktif sistem enzim tubuh. Enzim-enzim penting yang mengandung Selain itu berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, asam amino dan asam lemak. Vitamin ini dapat ditemukan pada tepung daging dan tepung ikan. Defisiensi vitamin B2 menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi lambat, lemah, kurus dan ayam mengalami kesulitan berjalan walaupun nafsu makannya baik. Gejala yang paling dikenal adalah kelumpuhan pada kaki (leg paralysis) atau kelumpuhan pada jari kaki (curled toe paralysis). Ayam juga mengalami diare, malas berjalan dan sering berjalan dengan tumitnya yang dibantu oleh sayap. Beberapa gejala tersebut akhirnya akan berakibat pada menurunnya produksi telur dan daya tetas. Pengobatan segera dilakukan perbaikan ransum pakan dengan penambahan vitamin B2. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM (Penyuluh Pertanian)Sumber : 1. Sarana Satwa. 2014. Defisiensi Vitamin A dan E. (http://www.saranasatwa.com/, diakses 26 Maret 2015)2. Siahaan, Debora. 2012. Produksi Ternak Unggas (PTU) Defisiensi Vitamin A pada Unggas Ayam. (http://goody-goody-ds.blogspot.com/2014/01/bacaan-defisiensi-vit-ayam.html, diakses 256 Maret 2015)3. Tri Akoso, Budi.1993. Manual Kesehatan Unggas: Panduan Bagi Petugas Teknis, Penyuluh dan Peternak. Kanisius : Yogyakarta