D. DEFISENSI VITAMIN E Vitamin E sering disebut sebagai tocopherols, bermanfaat untuk meningkatkan fertilitas, pertumbuhan embrio normal dan sebagai antioksidan. Beberapa bahan makanan yang mengandung vitamin E yang direkomendasikan antara lain jagung, tepung ikan, tetes, beras pecah kulit, gandum, dedak gandum dan biji-bijian bekas fermantasi.Vitamin E dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antioksidan in vitro maupun in vivo. Vitamin E sebagai antioksidan in vitro bila prosesnya hanya terjadi dalam pencampuran makanan sampai dengan makanan tersebut belum diserap di dalam saluran pencernaan. Selanjutnya sebagai antioksidan in vivo secara praktis dapat di lihat pada penyimpanan karkas. Defisiensi vitamin E yang dapat menyebabkan penyakit klinis biasanya terjadi pada unggas muda yang dikandangkan. Defisensi vitamin E pada unggas muda dapat menyebabkan distrofi muskuler (kelainan koordinasi otot), encephalomalacia/crazy chick disease (penyakit ayam gila), diatesis eksudatif. Sedangkan pada unggas dewasa tidak menunjukkan tanda klinis yang berarti. Namun, akan berdampak pada menurunnya fertilitas dan daya tetas. Kekurangan vitamin E biasanya ditemukan pada anak ayam muda, anak kalkun dan anak itik. Defisiensi biasanya terjadi pada ayam yang dipelihara dalam tempat tertentu yang pemberian pakannya hanya dijatah secara terbatas. Wadah biasa terjadi pada unggas yang diberi ransum yang mengandung lemak tinggi seperti minyak kedelai, minyak ikan. Penyebab utama dari defisiensi vitamin E adalah karena kehilangan aktivitas antioksidan. Vitamin E, selenium dan asam amino mengandung sulfur yang mempunyai fungsi berbeda tetapi bekerja sama dalam melindungi peroksida yang merugikan dalam jaringan. Sebagian dari peroksida dibentuk dari asam polysaturated dalam pakan. Gejala klinis yang ditimbulkan pada kejadian encephalomalacia adalah ataksia(kehilangan keseimbangan dan kepala tertarik ke belakang), kelemahan dan tergolek miring dengan kaki dan sayap kejang-kejang, jari kaku. Edema mungkin akan tampak berwarna agak hijau kebiruan, karena kerusakan hemoglobin sel darah merah. Jika edemanya meluas dan berkembang, unggas muda tersebut akan mengalami kesulitan berjalan dan berdiri dengan posisi kaki melebar. Pada kejadian diatesis eksudatif terjadi busung berat yang disebabkan oleh kenaikan permeabilitas kapiler. Ayam pedaging sering dinilai turun mutu dagingnya karena warna kuning di pahanya yang disebabkan oleh kebocoran plasma ke dalam jaringan bawah kulit. Pencegahan dapat ditempuh dengan pemberian pakan dengan menggunakan lemak stabil. Makanan yang disimpan selama lebih dari 2 minggu harus menggunakan bahan kimia antioksidan. Penyimpanan pada panas yang tinggi dan kelembapan yang tinggi menyebabkan kerusakan vitamin E. Pemberian satu kali pengobatan vitamin E lewat pakan 300 IU tiap ayam dapat menolong kondisi akibat defisiensi vitamin E. Perlu diperhatikan,dalam pencegahan ensefalomalasia (penyakit ayam gila) dapat dilindungi dengan penambahan sintetik antioksidan ke dalam pakan. Pencegahan Diatesi aksudatif dapat dilindungi dengan penambahan selenium ke dalam pakan. Untuk Distrofi muskuler dapat dicegah dengan penambahan sisteine yakni suatu asam amino yang mengandung sulfur dalam pakan. E. PEROSISPerosis adalah suatu kelainan salah satu bentuk pada persendian tumit dari ayam muda dan kalkun yang sering dikaitkan dengan kondisi seperti : defisiensi mangan (zat batu kawi), kholin, biosin, asam folik, niasin atau piridoksin. Perosis disebut juga slipped tendon. Sebagai informasi, fungsi mangan dalam tubuh unggas adalah sebagai aktivator enzim untuk enzim-enzim yang menghantarkan atau mentranfer phosphat (phosphat transferase dan phosphate dehidrogenase), serta enzim yang berkaitan dengan siklus asam sitrat yang meliputi arginase, alkaline phosphatase, dan heksokinase. Mangan sangat penting dalam pembentukan tulang (pembentukan makro polisakrida), regenerasi sel-sel darah merah, metabolisme karbohidrat, siklus reproduksi, metabolisme lipid, dan fungsi-fungsi otak. Sedangkan untuk kholin merupakan salah satu nutrisi esensial bagi unggas.Kholin merupakan salah satu nutrisi yang tidak dapat digantikan oleh nutrisi yang lain di dalam tubuh unggas. Kholin berperan dalam regenerasi struktur dalam sel.Kholin berkontribusi pada fungsi biologis penting, misalnya dalam sintesis dari fosfolipid yang merupakan komponen penyusun sruktur sel.Perosis paling sering dijumpai pada ayam potong terutama pada usaha peternakan komersial dengan sistem pengandangan yang jumlahnya besar dan populasi yang padat. Pada ayam kampung sangat jarang ditemukan perosis. Untuk gejala klinis biasanya tidak diketahui kapan terjadinya salah posisi dari salah satu atau kedua sendi tumit yang terpuntir keluar. Sendi lutut bengkak dan terlihat secara jelas posisi cakar yang salah. Unggas yang hanya terserang satu kaki menjadi pincang tetapi masih mau bergerak. Ayam yang terserang kedua kakikany dapat mati karena sulit untuk mencapai pakan atau air minum. Diagnosis didasarkan atas gejala klinis yang sangat menciri dan lesi patologi anatomi. Analisis pakan biasanya akan diketahui adanya kekurangan mangan. Pada tahap permulaan sendi tumit kaki yang terserang cenderung pipih, melebar dan sedikit membesar. Pada kasus yang melanjut kaki dari tumit ke bawah secara jelas berbeda dari posisi normalnya, biasanya ke arah luar. Dapat diamati pula pemendekan dan penebalan tulang kaki dan sayap atau salah tempat kartilago artikuler dari ujung akhir tulang kering. Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian imbangan susunan pakan yang baik termasuk mangan. Pencegahan terjadinya perosis juga sering dilakukan dengan penambahan manganese sulfat atau manganese oksida ke dalam makanan. Pengobtan secara individu tidak efektif. Untuk mengurangi dampak penyakit dilakukan dengan segera penambahan manganese kholine dan vitamin B. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM (Penyuluh Pertanian)Sumber : 1. Abun. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Nutrisi Unggas dan Monogastrik : Nutrisi Mineral Pada Unggas (http://pustaka.unpad.ac.id/, diakses 27 Maret 2015)2. Sarana Satwa. 2014. Defisiensi Vitamin A dan E. (http://www.saranasatwa.com/, diakses 26 Maret 2015)3. Septacandra, Yoga,dkk. Jurnal : Addition Of Choline Chloride As Additive In Feeds On Laying Hens Production Performance(http://fapet.ub.ac.id/, diakses 27 Maret 2015)4. Tri Akoso, Budi.1993. Manual Kesehatan Unggas: Panduan Bagi Petugas Teknis, Penyuluh dan Peternak. Kanisius : Yogyakarta