Penyebabnya adalah bakteri Coryneform. Juga ada yang menyebutkan bakteri Ciavibacter xyli subsp xyli. Namun survai di Indonesia lebih condong pada bakteri Coryneform sebagai penyebab utama penyakit pembuluh. Suatu anti serum terhadap bakteri penyakit pembuluh telah berhasil dibuat.Sebaran penyakit. Penyakit pembuluh pertama kali dilaporkan di Australia. Gejala-gejala dan efek-efek serupa dengan penyakit pembuluh kini dilaporkan terdapat di 44 negara termasuk Indonesia.Di Indonesia penyakit ini dapat dijumpai di beberapa wilayah perkebunan tebu, antara lain Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.Penularan dan gejala. Pertumbuhan tanaman yang terserang penyakit pembuluh tampak kurang sempurna terutama pada tanaman keprasannya. Batang tebu pada tanaman keprasan lebih pendek walaupun tidak sampai terjadi ruas-ruas yang dengan jelas terhambat pertumbuhannya seperti yang terjadi pada kebanyakan penyakit yang menyebabkan pertumbuhan menjadi kerdil. Tetapi gejala yang tampak dari luar ini bukan merupakan gejala yang khas bagi penyakit pembuluh. Gejala yang terpenting dan khas adalah adanya pewarnaan jingga kemerahan pada berkas-berkas pembuluh yang terdapat pada buku-buku,yang letaknya kira-kira setinggi Cincin lilin, apabila batang tebu yang menjelang masak dibelah membujur. Pewarnaan seperti itu terdapat pula pada penyakit-penyakit lain seperti blendok, chlorotic streak, dan bakteriosis, namun dalam hal penyakit pembuluh disertai dengan gejala-gejala lain yang khas. ada berkas potongan melintang (tegak lurus), gejalanya tampak sebagai titik-titik kecil yang berwarna jingga kemerahan, sedangkan yang terpotong membujur tampak seperti garis-garis merah. Gejala paling jelas terlihat pada buku-buku bagian tengah batang tebu, dan gejala ini terdapat pada beberapa ruas yang berurutan. Penyakit ini dapat menular melalui bibit yang berasal dari tanaman berpenyakit pembuluh. Dapat pula melalui nira batang tanaman sakit yang menempel pada alat pemotong bibit seperti pisau atau sejenisnya.Kerugihan yang terjadi. Tanaman tebu yang sakit bobotnya akan berkurang, sebagai akibat dari panjang batang yang lebih pendek dibandingkan tanaman yang sehat. Kerugian akibat penyakit ini dapat mencapai 10 persen lebih pada tanaman baru (pertama). Pada tanaman keprasan kerugiannya lebih besar lagi. Di Lousiana, kerugian dari penurunan bobot tebu pada keprasan pertama berkisar antara 11,5 - 25,1 %, sedangkan tebu keprasan keduanya lebih besarlagi, berkisar antara 25,1 % dan 46,2 % (Forbes et al., 1960). Di Australia pengendalian penyakit pembuluh dapat menekan kerugian hingga sekecil mungkin, tetapi di beberapa tempat kerugian masih mencapai 10 %, dan di daerah yang kering bahkan mencapai 30%. Pengairan yang cukup di Afrika Selatan dapat memperkecil kerugian akibat penyakit pembuluh. Tetapi pada tanaman yang mengalami cekaman air (moisture stress), penurunan bobot tebu pada keprasan pertama akibat penyakitpembuluh dapat mencapai antara 9,3 % dan 16,3 %. Penurunan bobot tebu pada keprasan kedua lebih tinggi lagi yaitu 13,4-45%.Pengendalian. Penyakit pembuluh dapat dikendalikan dengan perawatan air terhadap bibit tebu: - Perawatan air panas 50° C selama 2-3 jam, - Perawatan udara panas 54° C selama 8 jam, - Perawatan dengan campuran udara dan uap (aerated steam) 51° C selama 4 jam.Di Indonesia, dilakukan penanaman dengan bibit yang sehat. Bibit tersebut dapat diperoleh dengan perawatan air panas pada suhu 50° C selama dua jam terhadap bibit tebu Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI), Kebun Bibit Datar (KBD) maupun terhadap bibit pucuk. Lebih ekonomis jika perawatan air panas di kerjakan pada bibit untuk KBN, karena jumlahnya masih kecil. Untuk menghindari penyebaran penyakit pembuluh melalui alat pemotong bibit, perlu dilakukan desinfeksi alat pemotong tersebut (pisau, parang, sabit dan sebagainya) dengan menggunakan larntan lisol 20 %. Desinfeksi ini dikerjakan selama melakukan pemotongan bibit dengan setiap kali mencelupkan alat pemotong ke dalam larutan lisol tersebut. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.