Penyakit-Penyakit Pasca Panen pada KedelaiPenyakit-penyakit pasca panen pada kedelai dapat mengakibatkan kehilangan praoduksi yang cukup besar, sehingga perlu mendapat perhatian . Perlakuan budidaya selengkap apapun tanpa ditindak lanjuti dengan penerapan control terhadap serangan penyakit-penyakit pasca panen tampaknya tidak akan banyak bermanfaat.Penyakit pasca panen kedelai diantaranya adalah Busuk biji Phomopsis (Phomopsis Seed Decay), Cerrosspora kikuchii dan Soybean Mosaic Virus (Discolorasi biji).1. Busuk biji Phomopsis (Phomopsis Seed Decay)Biji kedelai yang terinfeksi Phomopsis spp. akan retak dan mengkerut atau keriput, mengecil, dan terdapat bercak yang merupakan tubuh jamur berwarna coklat keabuan sampai hitam, dan biasanya mempunyai daya kecambah yang rendah. Penyakit busuk biji ini seperti halnya penyakit tular benih lainnya, yang terjadi karena keterlambatan panen dan kondisi kelembaban selama perkembangan biji. Serangan Phomopsis spp banyak terjadi pada lahan pertanaman kedelai terutama pada tahap pemasakan biji. Jika panen terlambat dan kondisi kelembaban tinggi, maka kemungkinan infeksi pada biji dapat berlangsung. Gejala lain dari serangan Phomopsis spp. khususnya Phomopsis longicolla adallah biji tampak berwarna putih pucat serta biji yang terinfeksi tidak dapat berkecambah karena jamur tersebut merusak embrio. 2. Cerrospora kikuchiiPenyakit Cerrospora disebabkan oleh Cerrospora kikuchii. Biji kedelai yang terinfeksi akan mengalami diskolorasi pada kulit biji yang berwarna pink sampai keunguan. Biji yang mengalami diskolorasi akan menurun kualitasnya hingga 50%, dan apabila ditanam akan layu, tinggi tanaman akan berkurang atau kerdil dan biji yang dihasilkan nantinya akan terinfeksi kembali. Lahan kedelai di luar musim tanam dapat terinfeksi jamur ini. Spora yang dilepaskan akan masuk ke dalam kotiledon dan batang tanaman. Jamur tersebut selanjutnya akan tumbuh di permukaan atau kulit biji dan menyebar ke dalam hilum. Tanaman kedelai yang terserang penyakit ini pada umumnya tidak mempengaruhi terhadap penurunan produksi, namun dapat mengurangi kualitas biji kedelai. Penyakit ni dapat menurunkan perkecambahan biji dan biji-biji yang terinfeksi oleh C. kikuchii dapat menghasilkan biji yang lemah. Biji kedelai yang terserang jamur C kikuchii akan menyebabkan seed discoloration. Variasi discoloration mulai dari pink sampai ungu pucat, hingga ungu gelap. Apabila biji kedelai yang sakit ini ditanam, maka jamur akan tumbuh dari permukaan biji (seed coat) sampai kutiledon. Pengendalian C. kikuchii dapat dilakukan dengan cara menanam menggunakan varietas yang berproduksi tinggi dan resisten, menanam biji/benih yang sehat dan perlakuan benih dengan menggunakan fungisida. 3. Soybean Mosaic Virus (Discolorasi biji)Biji kedelai yang terinfeksi Virus SMV akan menunjukkan adanya gejala yaitu mengalami diskolorisasi berwarna hitam, namun diskolorisasi tersebut tidak harus menjadi indikator serangan SMV karena warna hitam tersebut dapat juga disebabkan karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang lain, sehingga muncul belang pada biji.Keadaan cuaca yang terlalu dingin atau terlalu panas akan mendukung perkembangan dari virus SMV ini. Cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin sangat cocok bagi perkembangan vector dari penyakit yaitu Aphids sp. Jenis-jenis Aphid sp adalah A. craccivora, A. fabae, A. glycines, A. gossypii, Myzus solani, M. persicae.Penyakit ini dapat dikendalikan dengan penggunaan varietas atau kultivar yang resisten, menanam biji keselai yang bebas virus, mengeliminasi populasi gulma dan aphid, pembersihan sisa tanaman yang telah dipanen dan mencabut tanaman yang terinfeksi pertama kali di lapang, dan perlakuan pasca penen. Hal ini dilakukan karena penyakit yang disebabkan oleh virus tidak dapat dikendalikan dengan pestisida (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusluhtan).Sumber: Penyakit-penyakit Pasca Panen Tanaman Pangan, oleh Prof. Dr. Ir. Siti Rasminah Chailani. 2010.