Penyebab penyakit ini adalah jamur Gibberella fujikuroi (Sawada) Wollewerber, dan G. subglutinans (Edwards), Toussoren dan Marasas. Nama pokkahboeng menunjukkan arti akibat kerusakan yang ditimbulkannya yaitu "tunas yang rusak pucuknya", yang telah diberikan pada beberapa gejala pertumbuhan tajuknya, a. Sebaran penyakit. Daerah sebaran penyakit mencakup wilayah pertanaman tebu di Jawa, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Pada wilayah pengembangan tebu (pabrik gula) yang baru belum diketahui, b. Penularan dan gejala, penyakit ditularkan melalui spora yang jatuh pada pupus atau pucuk tebu. Penyakit ini tidak ditularkan melalui bibit. Gejala terutama pada bagian pupus daun,terdapat bintik-bintik khlorosis terutama pada pangkal daun. Biasanya disertai cacat bentuk daun, jika buruk menjadikan daun tidak membuka. Pada bintik khlorose sering terdapat noda merah bentuk belah ketupat yang kemudian menjadi lobang berbentuk belah ketupat. Pada keadaan yang lanjut dapat membusuk dan titik tumbuh mati, dapat dibedakan tiga stadia yaitu: Pb 1: Hanya terdapat gejala khlorosis pada pangkal daun dengan bintik-bintik noda merah atau tidak, tanpa kisutan daun. Jika gejala tampak pada daun-daun yang muda tanaman masih dianggap sakit, tetapi bila hanya terdapat pada daun-daun yang tua berarti tanaman tebu tersebut pernah terserang Pb1; Pb 2: Pertumbuhan terhambat, pelepah daun tidak tumbuh sempurna, sering sendi daun seluruhnya tidak tarnpak, dengan gejala-gejala Pb pada daun dapat lebih atau kurang jelas. Akibat terjadinya hambatan pertumbuhan, ruas-ruas jadi pendek dan kadang-kadang bengkok atau sedikit gepeng sehingga memberikan kesan tarnpak seperti tangga atau bentuk rongga-rongga memanjang dengan sekat melintang. Jika ada kenampakan seperti itu menunjukkan bahwa tebu pernah terserang Pb 2; Pb 3: Jika batang tebu baru saja mati kena Pb, tampak ciri Pb 2, dan pupusnya kering, puncaknya meruncing jika seluruh daun pupus dan tajuk hilang. Sering terdapat ruas-ruas yang terhambat pertumbuhannya seperti Pb 2, dengan gejala tangga. Keadaan demikian berarti terserang Pb3. Biasanya titik tumbuh membusuk dan batang tebu mati. Proses serangan Pbdapat berlainan untuk daerah yang berbeda. Di Pasuruan Pb 3 kebanyakan timbul langsung dari Pb 2 yang timbul pada batang tebu yang sehat. Sedangkan di Jawa Barat pada umumnya melalui stadium Pb 1 terlebih dahulu. Antara persen Pb 1 dan persen Pb 3 tidak terdapat hubungan. Pb 1 dan Pb 3 sebagian besar mendapat permulaan yang sarna, dan terakhir kebanyakan dalam bentuk Pb 2.Kerugian yang terjadi, Pokkahboeng merupakan penyakit yang sangat merugikan, terutama di pertanaman tebu pada wilayah yang beriklim basah. Pada pengamatan tahun 1935 di Jawa Barat, dengan mengabaikan kerusakan daun dan batang, persen busuk pucuk dalam bulan Maret berkisat antara 10,6 - 38 %. Perhitungan hasil penamatan memperlihatkan bahwa kerugian pada tiap persen kerusakan Pb 3 adalah sebesar 0,35 - 0,85 %.Pengendalian, Pengendalian yang terbaik adalah dengan menanam jenis-jenis tebu varietas tahan Pb. Sanitasi kebun yang baik akan mengurangi terjadinya serangan Pb. Percobaan pengendalian secara kimiawi yang pemah dilakukan dengan menggunakan tembaga asetat netral 1% yang disemprotkan pada daun dapat menekan kerusakan Pb 3 dari 11,9 % menjadi 6,9 %, dan Pb 2 dari 1,7 % menjadi 0,9 %. Penyemprotan dilakukan setiap minggu. Penyemprotan dengan bubur bordo, dan penghembusan dengan tepung kapur tembaga (perbandingan terusi, Kapur dan tepung = 1 : 4 :5) dapat menekan persen Pb 3 menjadi kurang lebih seperempatnya. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : http://www.litbang-pradjekan.blogspot.com