Pulpy kidney adalah kejadian keracunan pada domba, kambing, sapi dan ruminansia lain, bersifat akut dan fatal, disebabkan absorbsi toksin yang dibentuk oleh bakteri Clostridium perfringens. Clostridium perfingens dalam kondisi normal terdapat dalam usus hewan sehat dalam jumlah sedikit dan setelah dikeluarkan bersama kotoran dapat bertahan hidup di dalam tanah selama beberapa bulan. Kondisi perubahan cuaca dan perubahan pola pakan secara mendadak yang menyebabkan proses pencernaan makanan kurang sempura, memperlambat pergerakan usus, memproduksi gula, protein dan konsentrasi oksigen yang rendah sehingga menyebabkan lingkungan yang cocok untuk bakteri untuk mempercepat pertumbuhan dan memproduksi toksin.Terdapat 5 macam toksin yang dihasilkan, yaitu tipe A, B, C, D, dan E, yang semua berpotensi untuk menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan. Setiap toksin menyebabkan tipe lesi yang berbeda. Toksin tipe C terutama menyerang anak sapi neonatal, sedangkan tipe D menyerang yang umurnya lebih tua, umumnya sapi yang baru di sapih. Penyakit yang terjadi umunya disebut sebagai enterotoksemia atau nekrotik enteritis atau Hemoragik enterotoksemia (Tipe C), sedangkan tipe D disebut juga sebagai Overating Disease atau Pulpy Kidney Disease.Clostridium perfringens secara luas sebenarnya dapat ditemukan dalam tanah dan merupakan flora normal dari saluran usus manusia dan hewan-hewan tertentu. Ketahanan spora bakteri ini terhadap panas bervariasi di antara strain. Clostridium perfringens berbentuk batang tunggal atau berpasangan, jarang membentuk rantai, kadang berbentuk filamen, berukuran 1,0x4-8 mikron. Secara garis besar spora dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu spora yang tahan panas (90°C selama 15 sampai 145 menit) dan spora yang tidak tahan panas (90°C, 3 sampai 5 menit). Spora yang tahan panas secara umum membutuhkan heat shock 75-100°C selama 5 sampai 20 menit untuk proses germinasi (perubahan spora menjadi bentuk sel vegetatif).Hewan yang rentan terhadap penyakit pulpy kidney yaitu domba, kambing, sapi, kuda, serta unta. Hewan berumur muda lebih rentan dari berumur tua. Hewan dewasa kemungkinan dapat membentuk imunitas akibat paparan toksin yang frekuen. Gejala klinis Pulpy Kidney yang menonjol yaitu diare, indigesti akut, konvulsi, paralisa, kolik dan kematian yang mendadak. enyakit Pulpy Kidney menular melalui feses hewan penderita. Bakteri masuk ke dalam tubuh melalui pencernaan. Pada kondisi tertentu populasinya meningkat dan menghasilkan toksin dalam jumlah besar di usus. Untuk Clostridium perfingens tipe A, gejalanya pada anak sapi biasanya menyebabkan gejala kembung. Nafsu makan juga tidak ada dan kematian dapat cepat terjadi karena ulcer dalam abdomen, peradangan, dan penimbunan gas. Clostridium perfingens tipe C menyebabkan necrotic enteritis pada sapi yang baru lahir. Gejala yang dapat dilihat pada pedet tersebut diantaranya adalah lemah, kembung, dan depresi. Clostridium perfringens tipe E juga dapat menyebabkan enteritis pada anak sapi.Kondisi yang dapat menyebabkan meningkatnya jumlah Clostridium perfringens tipe C dan D di dalam usus dan memproduksi banyak toksin sehingga ternak menderita enterotoxemia antara lain : Mengkonsumsi sejumlah besar susu pengganti atau pakan biji-bijian/padi-padian atau konsentrat; Rendahnya konsumsi pakan kering (hay atau rumput hijau); Penurunan kekebalan tubuh akibat stress; Infestasi berat parasit pencernaan; Gerak/motilitas peristaltik usus rendah misalnya akibat bloat/kembung.Pada dasarnya, pengobatan untuk infeksi dan intoksikasi yang disebabkan oleh Clostridium perfringens seperti pemberian antibiotika atau kemoterapetika, kurang memberikan hasil yang berarti atau tidak efektif. Penicilline diketahui efektif melawan infeksi CI. Perfringens. Selain itu dapat juga dilakukan pemberian elektrolit dan thiamine (vitamin B1) untuk menjaga keseimbangan biokimia dalam tubuh, analgesik (seperti Banamine), probiotik untuk mengembalikan populasi normal mikroflora pada usus, serta antacida untuk mengatasi asidosis usus akibat toksin. Dalam banyak kasus, periode berlangsungnya penyakit dapat demikian singkat, sehingga pengobatan tidak sempat untuk dilakukan. Pengobatan yang efektif tentunya dengan pemberian antitoksin spesifik sesuai dengan tipe Clostridium perfringens penyebab penyakit. Tetapi, pemberian antitoksin dalam jumlah besar tentunya sangat mahal dan tidak efisien untuk dilakukan. Karena kerugian ekonomi yang besar akibat kematian sapi yang disebabkan oleh enterotoksemia, maka perlu dilakukan usaha pencegahan. Untuk pencegahan dapat dilakukan vaksinasi Bila penyakit terjadi secara rutin pada anak domba, vaksinasi pada domba betina akan mendapatkan hasil yang memuaskan dengan memberikan suntikan toxoid tipe D pada tahun pertama, 4-6 minggu sebelum beranak, dan setelah itu setiap tahun. Vaksinasi pada induk sapi secara rutin dapat memberikan imunitasanti toksin di dalam kolostrum untuk anak sapi yang baru lahir. Selain itu dapat juga dengan pemberian pakan butiran dalam jumlah besar.(Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. Anisa, Dina dkk. 2013. Enteritis Oleh Clostridium Perfringens Pada Sapi, www.academia.edu diakses pada 18 Agustus 2016)2. Anonim . Pulpy Kidney (http://wiki.isikhnas.com/images/a/a2/Penyakit_PULPY_KIDNEY.pdf, diakses pada 18 Agustus 2016)