A. RAKHITIS (RICKETS) Rakhitis adalah suatu keadaan kekurangan nutrisi karean ketidakseimbangan kandungan kalsium, phospor dan vitamin D3 dalam pakan. Penyakit ini sering terlihat pada anak ayam yang masih berumur beberapa minggu. Sedangkan kekurangan kalsium biasa dijumpai pada ayam petelur dewasa atau pada jenis burung yang disebut osteoporosis. Rakhitis umumnya disebabkan oleh kesalahan dalam menyusun ransum pakan atau pada sekelompok ayam yang dikandangkan ditempat yang sangat kurang mendapatkan sinar matahari. Penyebab rakhitis pada unggas (ayam) paling sering dijumpai adalah karena kekurangan D3. Kekurangan phosfor yang menyebabkan rakhitis dapat terjadi karena pemberian pakan terlalu banyak kalsium walau kadar phosfor dan D3 mencukupi. Kekurangan kalsium dapat cepat terbentuk bila anak ayam yang baru menetas kurang mendapatkan kalsium karena anak ayam ini sangat sedikit memiliki persediaan kalsium. Ayam petelur mencerna sejumlah besar kalsium untuk memproduksi kulit telur. Ayam petelur yang kuranng mendapatkan kalsium dalam jumlah yang cukup akan mengalami kelemahan tulang rangka bahkan dapat terjadi patah tulang atau kelemahan kulit telur. Gejala klinis pada anak ayam, pada kelompok grower, ayam yang menderita rakhitis menjadi pincang, langkah kakinya kaku dan pertumbuhannya menjadi kerdil. Ayam menjadi lemah, paruh dan cakarnya menjadi lunak dan lentur. Ujung tulang panjang membesar, terutama terlihat jelas pada tumitnya. Ayam sering istirahat dalam posisi jongkok. Pada ayam dewasa, gejala pada ayam yang sedang bertelur, awal produksinya menurun dan kulit telur menipis, mudah pecah atau kulitnya menjadi lunak. Dalam beberapa hari telur dapat terhenti. Daya tetas telur menjadi menurun. Paruh, cakar dan tulang kering bengkok dan tulang iga melengkung ke dalam. Pada tingkat lanjut petelur mendekam pada tumitnya, lumpuh dan mati dalam beberapa hari. Pada ayam batery, kondisi ini disebut lumpuh sangkar. Diagnosis pada ayam muda, pelunakan paruh dan benjolan kecil pada iga sangat menciri. Pengujian cukup dengan membengkokan paruh atau tulang kering untuk melihat kelenturannya. Ayam yang menderita rakhitis cenderung lentur. Pada ayam sedang sedang dalam masa bertelur dapat dikenal dengan memperhatikan kulit telur yang lemberk, penurunan produksi adan ayam selalu mendekam. Peneguhan terhadap penyakit ini dilakukan dengan pengiriman contoh ransum untuk analisis kandungan mineralnya. Pencegahan dapat dialkukan dengan pemberian pakan yang seimbang kalsium, phosfor dan vitamin D3 yang memadai. Susunan pakan harus disesuaikan dengan umur, keperluan dan tingkat produksi kelompok. Kulit tiram atau kapur kasar dapat dipakai sebagai sumber kalsium. Untuk pengobatan, bagi ayam yang kurang vitamin D3 diberikan viatamin D3 dalam takaraan tiga kali dari normal keperluan selama 2 – 3 minggu dan setelah itu kembali lagi ke susunan normalnya. Ayam dipindah pad atempat yang cukup sinar matahari. Untuk ayam yang kurang kalsium, dapat diberi 1 gr kalsium karbonat dalam kapsul setiap hari sampai beberapa hari. B. DEFISIENSI ASAM PANTOTENATPakan ayam biasanya telah dilengkapi dengan asam pantotenik yang cukup. Bahan pakan sebagian besar terdiri atas biji-bijian tepung ikan dan lain-lain mungkin tidak mengandung banyak asam pantotenat. Proses pengeringan pada jagung menyebabkan kerusakan asam pantotenat. Kutuk yang kekurangan asam pantotenat pertumbuhannya akan kerdil dan bulunya kasar. Dalam waktu 2 minggu pada tepi pelupuk mata terbentuk granulasi dan seirng timbul eksudat yang menyebabkan pelupuk mata lengket. Suatu keropeng yang kasar akan muncul di sudut mulut, klut pada pangkal kaku yang menebal dan menanduk. Pada kalkun gejalanya sama seperti ayam. Pada bebek hanya terlihat gangguan pertumbuhan tanpa dijumpai lesi pada mata namun dapat menimbulkan kematian yang tinggi. Kekurangan asam pantotenat pada ayam bibit akan mengurangi daya tetasnya. Pencegahannya dengan pemberian asam pantotenat yang cukup dalam pakan. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian 2 gr kalsium pantotenat dan 0,5 gr riboflavin dalam 200 liter air minum selama beberapa hari. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM (Penyuluh Pertanian)Sumber : 1. Abun. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Nutrisi Unggas dan Monogastrik : Nutrisi Mineral Pada Unggas (http://pustaka.unpad.ac.id/, diakses 27 Maret 2015)2. Tri Akoso, Budi.1993. Manual Kesehatan Unggas: Panduan Bagi Petugas Teknis, Penyuluh dan Peternak. Kanisius : Yogyakarta .