Loading...

PENYAKIT SURRA PADA TERNAK RUMINANSIA

PENYAKIT SURRA PADA TERNAK RUMINANSIA
Salah satu sektor agribisnis yang memberikan andil positif bagi perekonomian Indonesia adalah sektor peternakan. Oleh karenanya terjadinya berbagai wabah penyakit ternak tentunya akan sangat merugikan. Salah satu penyakit yang menyerang ternak adalah penyakit Surra. Penyakit surra merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi. Parasit ini hidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah induk semangnya. Penyakit Surra merupakan salah satu penyakit hewan menular penting pada ternak kuda dan ruminansia besar, khususnya ternak sapi dan kerbau.BENTUK DAN SIFAT AGEN. Parasit Trypanosoma evansi dapat ditemukan di dalam sirkulasi darah pada fase infeksi akut. Parasit ini memiliki ukuran panjang 15 to 34 ?m dan dapat membelah (binary fission) untuk memperbanyak diri. Bentuknya yang khas seperti daun atau kumparan dicirikan dengan adanya flagella yang panjang sebagai alat gerak. Permukaan tubuh Trypanosoma evansi diselubungi oleh lapisan protein tunggal yaitu glikoprotein yang dapat berubah-ubah bentuk (variable surface glycoprotein). Dengan kemampuan glikoprotein yang dapat berubah bentuk, maka Trypanosoma evansi dapat memperdaya sistem kekebalan tubuh inang. Trypanosoma evansi umumnya hidup dalam aliran darah khususnya dalam cairan atau plasma darah sebagai parasit ekstra seluler. Parasit ini juga dapat ditemukan dalam organ tubuh yang lain seperti jantung, hati, otak, atau susunan saraf pusat, limpa, ginjal dan paru-paru. Trypanosoma evansi mengambil glukosa sebagai sumber nutrisinya sehingga apabila hewan terinfeksi tidak memperoleh asupan nutrisi yang baik maka akan terjadi penurunan kadar gula dalam darah. Kemampuan T. evansi menghasilkan racun (trypanotoxin) dan melisiskan sel darah merah akan berujung kepada kondisi anemia pada hewan inang. Trypanosoma evansi tidak mampu bertahan hidup lama, baik di lingkungan maupun pada bangkai hewan. Parasit ini hanya mampu hidup kurang dari 1 jam di dalam karkas pada temperatur ruang. Di lingkungan, ekspos terhadap sinar matahari selama 30 menit akan mematikan trypanosoma. Pada peralatan yang terkontaminasi darah segar, trypanosoma dapat bertahan dalam waktu singkat, kemudian mati setelah darah menjadi kering. PENULARAN DAN GEJALA. Penularan terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat penghisap darah seperti Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Charysops dan Hematobia serta jenis arthropoda yang lain seperti kutu dan pinjal. Lalat memindahkan Trypanosoma evansi pada saat menghisap makanan/darah pada tubuh hewan, karena terganggu lalat tersebut kemudian pindah ke hewan lain dengan cepat untuk melanjutkan kegiatan makannya. Parasit darah ini dapat hidup dalam mulut lalat selama 30 menit sampai enam jam. Faktor eksternal yang turut meluasnya penyebaran penyakit Surra adalah pemotongan ternak terinfeksi, pemusnahan karkas atau bangkai terinfeksi Surra yang tidak tuntas. Secara umum, pada ternak ruminansia (sapi, kambing, domba) serangan penyakit surra lebih lambat, bersifat kronis dan terkadang tanpa gejala. Namun dapat pula bersifat akut dan mewabah pada ternak ruminansia ketika hewan mengalami stress, akibat pakan yang tidak memadai, karena dipekerjakan atau difungsikan terlampau berat atau karena faktor cuaca. Masa inkubasi bervariasai antara 5-60 hari. Gejala umum yang terjadi pada ternak yang terserang yaitu demam berselang-seling dengan suhu rektal 40 o C. Ternak menjadi lesu, lemah, nafsu makan berkurang dan lekas letih. Ternak mengalami anemia yang merupakan gejala yang paling banyak ditemukan pada infeksi oleh trypanosoma. Membran sel darah merah akan kehilangan salah satu komponen penyusun yaitu asam sialik (sialic acid) sehingga menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah. Ternak juga menjadi kurus, bulu rontok, kulit kasar busung daerah dagu dan anggota gerak yang pada akhirnya akan mati. Gejala lainnya akan keluar getah radang dari hidung dan mata, selaput lendir terlihat menguning. Ternak terinfeksi dapat kejang-kejang, jalan sempoyongan dan berputar-putar disebabkan karena parasit berada dalam cairan Cerebrospinal sehingga terjadi gangguan saraf. Pada daerah endemik ternak mungkin terkena infeksi tetapi tidak terlihat adanya gejala. Kerugian utama akibat penyakit ini pada ternak berupa: penurunan bobot badan, daya reproduksi rendah, keterlambatan pertumbuhan pada anak, penurunan daya kerja, kematian dan keadaan yang disebut imunosupresi (decreased immune responsiveness). Menurunnya kadar glukosa darah menyebabkan terjadinya peningkatan asam susu yang mengakibatkan turunnya daya tahan tubuh, disamping timbulnya toksin/tripanotoksin Dengan kondisi imunosupresi yang parah akan mengakibatkan hewan inang menjadi lebih rentan terhadap infeksi sekunder.PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN. Salah satu cara untuk melakukan pengendalian terhadap penyakit adalah dengan melakukan upaya pencegahan penyakit diantaranya dengan melakukan vaksinasi. Pencegahan penyakit dapat dilakukan juga dengan memperhatikan perkandangan yang baik misalnya ventilasi kandang, lantai kandang juga kontak dengan ternak lain yang sakit. Sanitasi merupakan usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan perpindahan dari penyakit tersebut. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya : (1). Pembasmian serangga penghisap darah dengan tindakan; (2).penyemprotan kandang dan ternak dengan Asuntol atau insektisida lain yang aman bagi ternak; (3).Pembersihan tempat yang basah dan rimbun; (4).Pengeringan tanah dan penertiban pembuangan kotoran dan sampah sisa makanan ternak; (5).Pemotongan hewan yang sakit di malam hari untuk menghindari lalat. Seluruh sisa pemotongan harus dibakar dan dikubur dalam-dalam setelah pemotongan, lokasi dibersihkan dengan disinfektan.Pengendalian Surra tergantung pada pengobatan yang diberikan secara individual kepada hewan yang diduga terinfeksi dengan obat tripanocidal. Suramin merupakan obat tripanocidal yang efektif karena tidak ada resistensi sehingga dapat digunakan sebagai pencegahan dan pengendalian Surra, akan tetapi obat ini sulit diperoleh dan harganya mahal (Amirudin Aidin Beng, MM). 1. BPTP NTB. 2010. Petunjuk Praktis : Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pada Ternak Sapi (ntb.litbang.pertanian.go.id, diakses 21 April 2016)2. Daris, Murtafiah. 2015. Deteksi Trypanosoma Evansi Pada Kerbau Perah (Bubalus Bubalis) Di Kabupaten Enrekang (repository.unhas.ac.id, diakses 21 April 2016)3. Eryani, Rambu. 2013. Tesis : Adopsi Teknologi Pengendalian Penyakit Surra Oleh Peternak Kuda Di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (pps.unud.ac.id, diakses 21 April 2016)