Loading...

Penyapihan pedet pada peternakan lahan kering

Penyapihan pedet pada peternakan lahan kering
Usaha ternak sapi potong rakyat masih mengalami beberapa permasalahan, antara lain terjadinya penurunan populasi ternak maupun produktivitasnya. Salah satu faktor penyebab penurunan tersebut adalah manajemen dan pola perkawinan yang kurang tepat sehingga berdampak terhadap rendahnya angka konsepsi (kurang dari 50%) dan panjangnyajarak beranak (lebih dari 15 bulan). Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi altematif, di antaranya melalui perbaikan manajemen penyapihan pedet dan penyediaan gizi pakan yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi reproduksinya.Salah satu faktor penyebab panjangnya jarak beranak adalah rendahnya nutrisi dan penyusuan tanpa pembatasan. Pada umumnya, penyapihan pada pedet sapi potong di petemakan rakyat dilakukan antara umur 4-6 bulan. Pedet pedet tersebut berkumpul dengan induknya selama 24 jam. Hal itu akan berpengaruh terhadap aktivitas ovarium pascaberanak maupun timbulnya anestrus post partus (APP). Penyusuan merangsang sekresi prolaktin (Luteotropic Hormone) oleh kelenjar susu. Kondisi prolaktin yang tinggi menyebabkan suasana progesteron meningkat sehingga estrogen menjadi rendah yang pada akhimya berpengaruh terhadap aktualisasi estrus. Terlambatnya estrus menyebabkan periode anoestrus post partus (APP) semakin panjang. Pada umumnya penyapihan pedet dari induk sapi di usaha ternak rakyat Desa Sudimulyo Kecamatan Nguling dilakukan pada umur tiga bulan sehingga akan memperpendek periode APP dan calving interval menjadi 384 hari. Masa laktasi sapi induk akan mempengaruhi kebutuhan nutrisi sehingga periode penyusuan pedet akan berdampak terhadap konsumsi pakan dan waktu penyapihan berhubungan dengan strategi suplementasi yang memengaruhi berat badan sapi dan kondisi selama masa kering. Secara berangsur kebutuhan nutrisi pascapartus akan meningkat seiring dengan peningkatan produksi susu dan terjadinya proses pemulihan organ reproduksi. Pada umumnya, pemenuhan kebutuhan pakan pada masa laktasi lebih rendahdari kebutuhannya sehingga teIjadi keseimbangan energi negatif. Secara fisiologis, induk dalam kondisi keseimbangan energi yang negatif akan menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal sehingga proses folikulogenesis, estrus, dan ovulasi menjadi terhambat karena nutrisi merupakan prekursor dan energi yang harus tersedia untuk menjamin kecukupan produksi hormon serta mengantarkan hormon menuju sel target. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk primipara mengalami. keterlambatan ovulasi pascapartus lebih besar (21%) dibandingkan pada pluripara (9%). Begitu pula dengan estrus kedua pascapartus yang merupakan days to first breeding postpartum pada primipara membutuhkan waktu yang lebih lama (78,5±2,42 hari) dibandingkan multipara (72,9±1,12 hari). Hal ini disebabkan pada saat partus kondisi primipara baru mencapai kematangan fisik sekitar 82-90% dari bobot tubuh pluripara sehingga menyebabkan ketidakmampuan hipotalamus dalam merangsang LH, menurunnya folikulogenesis serta produksi estrogen. Untuk mengetahui pengaruh umur penyapihan pedet terhadap performans reproduksi induk sapi potong dan pertumbuhan pedet pada kondisi peternakan lahan kering. Penyapihan pedet umur 12 minggu pada peternakan lahan kering menunjukkan tingkat anoestrus post partus dan calving interval lebih pendek dibandingkan dengan penyapihan pedet pada umur 16 minggu. Disarankan untuk penyapihan pedet di peternak pada umur 12 minggu. Ditulis Kembali : R. Dani Medionovianto,S.Pt Sumber : Puslitbangnak/Balitbangtan