Penyakit pada tanaman jagung sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Penyebab penyakit tanaman umumnya dapat disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus, kekurangan atau kelebihan air, kekurangan atau kelebihan unsur hara, serta terlalu panas atau terlalu dingin. Besar kecilnya pengaruh penyebab-penyebab tersebut tergantung tingkat serangan penyakit terhadap tanaman jagung. Pertumbuhan tanaman jagung yang terserang penyakit biasanya terganggu, dan akiivitas jaringan tanaman seria sel-sel di dalamnya menjadi tidak normal lagi. Tanaman dapat menjadi layu, berubah menjadi kerdil, berubah warna seperti daun menguning ataupun mengering. Oleh karena itu pengetahuan tentang penyakit menjadi sangat penting agar lebih mudah memahami tentang tata cara pengendaliannya agar tanaman sehat dan produktif. Salah satu penyebab penyakit pada tanaman jagung adalah cendawan hitam. Cendawan hitam (Ustilaginales) biasanya membentuk massa spora berwama hitam dalam basidia yang berbentuk seperti gada. Masing-masing basidia mempunyai 2 atau 4 spora yang bertangkai pendek. Cendawan hitam (smut fungi) ¡ni dapat menyerang tanaman jagungsehingga kualitasnya akan turun dan hasilnya berkurang pula. Penyakit cendawan hitam pada jagungpenyebabnya yaitu Ustilago maydis (DC.) CDA, (sinonim: Ustilago zeae). Klasifikasi dari patogen penyebab penyakit gosong ini adalah Kingdom - Fungi ; Filum – Basidiomycota; Kelas - Ustilaginomycetes; Ordo - Ustilaginales; Famili -Ustilaginaceae; Genus - Ustilago; Spesies - Ustilago maydis (DC) Cda. Teliosporanya berbentuk bulat atau elips, berwarna coklat sampai hitam, diameter 8 - 11 mikron. Spora diploid ini tumbuh membentuk promiselium dengan empat atau lebih sporidia. Dalam kelenjar jamur membentuk teliospora, yang berbentuk bulat atau jorong. Teliospora berkecambah dengan membentuk basidium atau promiselium, kemudian membentuk basidiospora atau sporidiumPenyakit ini menyerang tanaman jagung, terutama pada tongkolnya. Gejala serangan cendawan ini terjadinya pembengkakan/ terbentuknya kelenjar (gall) pada tongkol. Pembengkakan atau gall yang dibungkus dengan jaringan berwarna putih kehijauan sampai putih perak mengilap merupakan pertanda bahwa cendawan telah masuk ke dalam biji. Cendawan ini bemula dengan warna keputihan sebab masih tertutup membran.K emudian, warna cendawan berubah menjadi lebih tua, yaitu ungu muda dan akhimya menjadi hitam. Ukuran bengkaknya ada yang kecil dan ada yang besar tergantung ukuran tongkol dan tebalnya cendawan. Biji-biji yang terinfeksi yang membengkak akan membentuk kelenjar-kelenjar. Dengan makin membesarnya kelenjar-kelenjar,kelobot terdesak ke samping dan rusak sehingga sebagian dari kelenjar itu tampak dari luar.Jika pembengkakan ini telah masak, membran yang menutup menjadi kering sehingga menyebabkan kelenjar pecah. Kemudian spora berbentuk tepung kering yang berwarna hitam keluarmenyebar ke mana-mana.Tak hanya pada tongkol, cendawan ini dapat menyerang daun, kuncup-kuncup buku pada batang, rangkaian bunga jantan, serta bagian-bagian lainnya. Pembengkakan pada tongkol yang sudah mencapai pertumbuhan maksimal dapat mencapai diameter 15 cm. Gall pada daun tetap kecil dengan diameter 0,6-1,2 cm. Apabila bunga jantan terinfeksi maka semua tongkol pada tanaman tersebut terinfeksi penyakit gosong.Cara pengendalian penyakit ini yaitu dengan mengatur kelembapan areal pertanamanjagung; dengan memotong bagian tanaman jagung yang terserang, kemudian membakarnya; dengan seed treatment. Fase tumbuh cendawan ini, jika keadaan cocok, spora bisa segera berkecambah. Daya hidup spora bisa sampai bertahun-tahun.Temperatur optimum perkecambahan terletak antara 20_340 C menurut keadaan daerah atau strain. Maksimum temperatur terletak antara 36_380 C, sedangkan temperatur minimum sekitar 80 C. Spora cendawan ada yang masih tetap bisa hidup walaupun telah termakan kuda atau sapi dan telah melewati alat pencernaan. Spora akan segera berkecambah dalam tumpukan kompos dan sporadianya akan melanjutkan tumbuh jika temperatur memungkinkan. Jika waktu kompos ditaburkan untuk pupuk masih hidup, spora akan menyebar ke berbagai tempat. Di lapangan biasanya infeksi terjadi jika tanaman jagung telah setinggi 30cm sampai 1,5 m dan tongkolnya baru keluar rumbal rumbainya. Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. 1. Ir. Pracaya.2008. Hama dan Penyakit Tanaman (Edisi Revisi). Jakarta : Penebar Swadaya (https://books.google.co.id, diakses 31 Juli 2015)2. Warisno. Seri Budidaya : Jagung Hibrida. Yogyakarta : Kanisius (https://books.google.co.id, diakses 31 Juli 2015)