Loading...

Penyebab Timbulnya Serangan Hama Pada Areal Budidaya Tanaman

Penyebab Timbulnya Serangan  Hama  Pada Areal Budidaya Tanaman
Pengertian Hama Dalam Budidaya Pertanian Dalam Pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan di dalamnya praktis termasuk semua semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam usaha pertanian. Besar atau kecil jumlah hama pada tanaman tentu akan menyebabkan gangguan pada hasil panen petani. Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya hama pada tanaman adalah sebagai berikut: Sanitasi Lingkungan Yang Buruk Teknik sanitasi atau pembersihan merupakan cara pengendalian secara bercocok tanam yang paling tua dan cukup efektif untuk menurunkan populasi hama dan penyakit. Banyak hama dan penyakit yang dapat bertahan hidup atau berdiapause di sisa-sisa tanaman. Dengan membersihkan sisa-sisa tanaman tersebut berarti kita mengurangi laju peningkatan populasi dan ketahanan hidup hama.Jadi sanitasi dilakukan terhadap:1) Sisa-sisa tanaman yang masih hidup, 2) Tanaman atau bagian yang terserang hama, 3) Sisa tanaman yang sudah mati, 4) Jenis tanaman lain yang dapat menjadi inang pengganti, 5) Gulma yang ada di pematang atau terasering yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu. Beberapa jenis hama mempunyai makanan, baik berupa tanaman yang diusahakan manusia maupun tanaman liar (misal rumput, semak – semak, gulam dan lain – lain). Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi). Adanya Tingkat Keragaman Ekosistem Yang dimaksud dengan tingkat keragaman ekosistem adalah banyak sedikitnya jumlah spesies tanaman yang diusahakan pada suatu area agrosistem dan berada pada waktu yang sama. Jika hanya ada satu spesies yang diusahakan maka akan disebut dengan monokultur. Sedangkan jika yang diusahakan lebih dari satu spesies maka disebut dengan polikultur. Adanya sistem polikultur di dalam usaha penanaman tanaman menyebabkan adanya keragaman spesies dan juga populasi hama di sekitar area penanaman. Hal tersebut sekaligus bisa menyebabkan kerugian berupa adanya peningkatan populasi hama tertentu. Adanya keragaman ekosistem (polikultur) menyebabkan jumlah hama meningkat, sebab jumlah tanaman yang dipakai sebagai inang oleh hama jumlahnya meningkat. Tidak hanya itu saja, berbagai faktor lain seperti kesukaan hama terhadap salah satu jenis inang tertentu, kecepatan dalam memilih inang, serta ada tidaknya musuh alami hama juga akan memberikan pengaruh. Pengelolaan Tanaman Yang dimaksud dengan pengelolaan tanaman adalah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan tanaman. Aktivitas tersebut dimulai dari memilih jenis benih, melakukan pengolahan tanah, mengairi tanaman, memberi pupuk, mengendalikan gulma, mengatur jarak antar tanaman, dan melakukan pemanenan. Berbagai kegiatan tersebut ternyata juga dapat memungkinkan untuk berkembangnya hama tanaman pada areal budidaya. Varietas Unggul Namun Rentan Serangan Hama Selama ini, penciptaan varietas unggul seringkali tidak diimbangi dengan memasukkan unsur daya tahan terhadap hama. Kebanyakan, yang diutamakan dari penciptaan varietas baru adalah sifat-sifat langsung yang berhubungan dengan hasil maksimal dari tanaman hasil varietas tersebut. Ketersediaan varietas unggul tersebut biasanya hanya diimbangi dengan penciptaan pestisida untuk menanggulangi hama. Akibatnya, kelemahan utama dari varietas unggul yang tidak tahan hama tersebut sekaligus akan meningkatkan jumlah hama di area penanaman. Adanya Keanekaragaman Genetik Dalam sebuah area dengan ekosistem alami di dalamnya, misalnya di dalam hutan, interaksi antara inang (tanaman) dengan hama adalah hal yang tidak menimbulkan permasalahan karena tanaman pada suatu ekosistem yang alami bersifat kebal atau tahan terhadap serangan hama. Namun, hal tersebut tentu akan jauh berbeda dengan kondisi di sebuah area dengan ekosistem tidak alami. Jenis tanaman yang dibudidayakan melalui rekayasa genetik atau merupakan hasil dari pemuliaan tidak bisa bertahan dari serangan hama. Hal tersebut terjadi karena daya tahan tanaman yang dibudidayakan ditentukan oleh gen tunggal atau hanya bersifat sempit. Adanya tekanan seleksi terhadap populasi hama menyebabkan hama akan beradaptasi dan menyeleksi dirinya untuk berkembang menjadi ras yang baru dan sanggup meruntuhkan daya tahan yang dimiliki oleh tanaman yang dibudidayakan dan terkadang hal tersebut menyebabkan hama menjadi sulit untuk dikendalikan. Menanam Satu Tanaman Secara Terus Menerus Tanpa Adanya Pola Tanam Petani biasanya akan menerapkan sistem penanaman dari satu tanaman secara terus-menerus selama satu tahun dari suatu varietas yang dianggap unggul dengan harapan hasil yang diperoleh akan selalu maksimal. Kondisi tersebut biasanya tidak diikuti dengan penerapan pola penanaman. Alhasil, hamparan lahan yang luas biasanya hanya memiliki satu varietas tanaman pada semua tingkatan umur dari masa penyemaian hingga pada masa siap panen. Sistem pertanian semacam itu akan menyediakan jumlah makanan yang cukup dan juga terus menerus bagi hama tanaman. Akibatnya, hama akan tumbuh dan berkembang biak dengan pesat hingga mencapai jumlah populasi yang dapat merusak tanaman dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi para petani. Musim Tanam Tidak Tepat Pada jenis tanaman semusim, musim tanam di setiap wilayah tentu tidak akan sama. Kondisi tersebut biasanya akan bergantung pada ketersediaan air irigasi untuk pengairan tanaman. Namun, untuk daerah yang tidak memiliki sistem irigasi, biasanya musim tanam akan bergantung pada masa turun hujan. Waktu penanaman yang tidak tepat (terlalu cepat atau terlalu lambat) bisa menimbulkan masalah bagi tanaman. Salah satu dampak buruk waktu penanaman yang tidak tepat adalah munculnya serangan hama pada tanaman. Karena itu, sebelum melakukan penanaman sebaiknya petani mempelajari mengenai fenologi umur tanaman dengan adanya serangan hama. Imigrasi Hama Binatang merupakan salah satu makhluk hidup yang sering melakukan imigrasi (berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya), termasuk juga hama. Bahkan imigrasi hama tersebut bisa mencakup wilayah geografis yang sangat luas dan juga melewati batas-batas negara. Pada beberapa kasus, hama atau binatang lain akan melakukan migrasi secara mandiri menggunakan tenaga sendiri. Namun, pada kasus lainnya hama akan bermigrasi secara pasif dengan bantuan angin atau mengikuti benda lainnya. Ketika sampai di suatu tempat, hama-hama tersebut akan membentuk sebuah asosiasi yang baru dengan inangnya. Jika inangnya (tanaman) tidak memiliki daya tahan yang alamiah (seperti pada tanaman yang dibudidayakan) tentu hama tersebut akan menjadi masalah yang serius dan bisa saja menjadi sebuah wabah. Penggunaan Pestisida Yang Tidak Bijaksana Untuk mengatasi permasalahan hama pada tanaman, para petani biasanya akan mengambil jalan cepat yakni dengan menggunakan pestisida. Membunuh hama dengan menggunakan pestisida sebenarnya akan menciptakan permasalahan baru, yaitu matinya organisme tertentu, bukan sasarannya (parasitoid dan juga predator). Hama yang dibunuh menggunakan pestisida akan menyebabkan hama lain menjadi lebih kebal terhadap pestisida. Penggunaan pestisida juga akan menyebabkan perubahan fisiologi tanaman. Secara bertahap, kondisi tersebut akan menyebabkan jumlah hama mengalami peningkatan. Demikian beberapa faktor yang menyebabkan munculnya hama pada tanaman. Penulis, PenyuluhPertanian lapangan Maman Suparman