Peyerempakan birahi pada sapi atau singkronisasi birahi merupakan usaha manusia mengendalikan birahi sekelompok ternak agar birahi serentak atau bisa dikatakan pengaturan siklus estrus agar sekelompok ternak serentak birahi. Ada satu metode untuk menyerempakkan birahi pada sapi yakni dengan terapi hormone Terapi hormone ini ada kelebihan dan banyak juga kekurangannya, adapun hormone yang digunakan untuk menyerempakan birahi pada sapi adalah hormone PGF2-alpha. Hormone ini digunakan pada peternakan besar untuk menyerentakkan birahi pada semua sapi induk (membuat birahi secara bersamaan). Merek untuk hormon pgf2-alpha ini juga cukup banyak ada yang harus digunakan secara IM (intra muscular dan ada juga yang harus digunakan secara Intra Uterine). Intra muscular berarti disuntikkan ke dalam daging dan Intra uterine berarti dimasukkan kedalam uterus sapi. Pelaksanaan sinkronisasi birahi didasarkan pada pengetahuan yang lengkap tentang siklus birahi normal sapi. Siklus birahi normal sapi adalah 18 – 21 hari terbagi dalam fase folikuler ( proestrus dan estrus ) oleh Folikel Stimulating Hormone dan fase Luteal ( metestrus dan diestrus ) oleh Luteinizing Hormon dan Luteotropik Hormon. Sapi birahi dihitung sebagai hari ke 0 atau hari ke 21, tanda tanda sapi birahi pada umumnya adalah vulva merah, hangat, dan membesar, menaiki temannya ( M ) dan diam bila dinaiki ( D ) temannya, keluar lendir bening dari vagina / vulva, sapi gelisah, tidak berkonsentrasi makan, tidak dalam kondisi bunting, palpasi perrectal ditandai dengan tegangnya organ tubuler reproduksi dan terdapat folikel pada salah satu ovarium. Fase metestrus adalah fase lepasnya sel telur ( Ovulasi ) oleh pengaruh Luteinizing Hormon dan badan ovarium ( bursa ovaria ) akan terisi oleh aliran darah menjadi corpus hemoragicum ( badan merah ). Fase estrus dan metestrus berlangsung dari hari ke 0 sampai hari ke 5. Mulai hari ke 5 sampai hari ke 17 atau 18 adalah masa aktifnya Corpus luteum ( diestrus ) yang menghasilkan hormone progesterone. Hari 18 Corpus luteum mengalami regresi, dan fase proestrus mulai berjalan sampai hari ke 21.Pelaksanaan sinkronisasi estrus dengan Prostaglandin ( PGF2? ) dengan pemberian intra muskluler atau intra uterine lebih banyak dilakukan di lapangan . Langkah kerja yang dilakukan adalah menseleksi sapi yang memiliki status fase diestrus atau terdapat Corpus luteum. Beberapa persyaratan untuk sinkronisasi estrus dengan cara ini adalah:1. Sapi dipastikan tidak bunting (tidak pada saat masa fertilisasi atau masa pertumbuhan zigot / embrio)2. Terdapat Corpus luteum normal3. Tidak mengalami gangguan reproduksi yaitu infeksi organ dan saluran reproduksi seperti pyometra, metritis, endometritis, peradangan dan pengerasan servik, corpus luteum persisten. Tidak boleh juga pada gangguan nutrisi seperti Body condition score rendah, hipofungsi ovaria, atau cysta folikuler.4. Tidak ada kelainan genetic reproduksi ( freemartin, agenesis ovaria, atropi ovaria, hipoplasia ovaria dan kelainan genetic lainnya )5. Boleh dilakukan pada induk setelah melahirkan yang telah mengalami involusi uterus dengan sempurna dan fungsi kerja organ dan saluran reproduksi sudah kembali normal tanpa infeksi.6. Tidak ada riwayat sapi mengalami gangguan pernafasan ( respirasi ). Jika sudah dipastikan statusnya corpus luteum maka segera dilakukan penyuntikan Prostaglandin dan sapi akan menunjukkan gejala birahi 72 – 96 jam setelah penyuntikan dan deteksi birahi dilakukan bisa pada 3 – 4 hari setelah pemberian. Namun apabila palpasi perrectal didapatkan status folikel atau perkembangan folikel, maka sapi akan birahi secara alami dengan pemberian Prostaglandin atau tanpa pemberian Prostaglandin sehingga sebaiknya deteksi birahi dilakukan setiap hari. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitasnya maka, apabila birahi alami bagus dilakukan IB, dan jika kualitas birahi alami kurang bagus dilakukan Penyuntikan Prostaglandin 7 – 11 hari kemudian ( sudah masuk fase luteal ).Penyuntikan Prostaglandin pada corpus luteum persisten karena infeksi tidak menghasilkan kualitas birahi yang bagus, tipe leleran vulva biasanya keruh ( lendir infeksi ) dan rendah sekali angka kebuntingannya. Sapi dengan kasus corpus luteum persisten harus dilakukan penanganan terlebih dahulu terhadap agen infeksi yaitu dengan antibiotic atau iodine povidone 1-2% intra uterine. Pada kasus ini, penyuntikan Prostaglandin dibarengi dengan iodine povidone 1-2% intra uterine member hasil lebih baik dari pada hanya dengan Prostaglandin. Untuk kasus gangguan reproduksi karena defisiensi nutrisi (hipofungsi ovaria, atau cysta folikuler ) penanganan yang utama adalah perbaikan nutrisi, pemberian vitamin ADE,dengan pemasangan intra vaginal hormone progesterone ( CIDR, PRID ) selama 1 minggu kemudian dicabut dan diberikan Prostaglandin atau pemberian hormone GnRH. (*Blitvet Lampung)Yang terpenting dalam pelaksanaan penyerentakan birahi ini agar dilakukan oleh seorang dokter hewan yang memang ahlinya dalam pelaksanaannya, jika anda akan melakukan penyerentakan birahi pada ternak sapi anda segera hubungi dokter hewan yang ada di daerah anda. (Dani Medionovianto,S.Pt)