Loading...

PENYIAPAN LAHAN TANAM KEDELAI DI LAHAN KERING

PENYIAPAN LAHAN TANAM KEDELAI DI LAHAN KERING
PENYIAPAN LAHAN UNTUK TANAMAN KEDELAI DI LAHAN KERING Tanaman kedelai dapat tumbuh diberbagai kondisi jenis tanah yang berbeda. Hal ini dapat ditunjukkan dari adanya perlakuan yang berbeda dalam penyiapan lahan pada pertanaman kedelai. Penyiapan lahan untuk tanaman kedelai sangat ditentukan oleh kondisi tanah sebelum penanaman. Pengolahan lahan di tanah kering/ tanah tegalan atau tanah sawah tadah hujan berbeda perlakuannya dengan tanah sawah. Pada dasarnya kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah, tetapi air harus tetap tersedia. Oleh karena itu di tanah tegalan, kedelai ditanam pada awal dan pertengahan musim hujan, sehingga penyiapan lahannya sebelum musim hujan. Kondisi Lahan IdealKondisi lahan yang ideal yang diperlukan yaitu sebagai berikut :• Tanah gembur, subur, tidak mudah tergenang air / drainase yang baik• Memiliki cukup bahan organik• pH netral sampai agak asam (5,5 – 7)• Kemiringan tanah tidak lebih dari 8%• Ketinggian 0 – 700 meter dpl• Jenis tanah liat berlempung, tanah lempung atau tanah lempung berpasir• Areal yang memiliki persediaan air (sumber air) yang cukup• Sinar Matahari penuh (tidak ternaungi pohon atau bangunan yang tinggi) Manfaat dilakukannya persiapan lahan yaitu :• Memperbaiki Struktur Tanah.• Memperbaiki Aerasi Tanah.• Membunuh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)• Menghambat tumbuhnya gulma.• Melancarkan Drainase (pemasukan dan pembuangan air) Penyiapan Lahan Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dikampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman.Pada umumnya penyiapan lahan untuk tanah kering dilakukan 1 - 2 bulan sebelum hujan turun. Pengolahan tanah dilakukan dengan tanah dicangkul/ dibajak/ ditraktor sedalam 5 - 10 cm agar penghancuran tanahnya baik sebanyak 2 kali. Pada cangkulan 1 biarkan bongkahan terangin-angin selama 5 - 7 hari. Pencangkulan ke 2 sekaligus digemburkan, dibersihkan dari gulma dan diratakan dengan tujuan agar struktur tanah yang di olah semakin baik dan supaya zat-zat yang bersifat pathogen,gulma,dan opt bisa diminalisir. Biarkan tanah yang telah diolah selama 3 - 4 minggu dengan tujuan agar : 1.Udara masuk ke tanah dan terjadi proses oksidasi2.Agar bakteri anaerob yang sifatnya pathogen dan bibit penyakit mati, serta 3.Gas-gas beracun menguap. Untuk memperoleh struktur tanah yang baik. Dianjurkan untuk melaksanakan pengapuran setelah tanah diolah untuk menghindari tanah menjadi masam atau ber pH rendah. Karena dengan tanah yang masam atau pH rendah maka tanaman yang tumbuh diatasnya sering dihinggapi bermacam-macam gangguan seperti daun rontok, tanaman kerdil.Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter dengan menggunakan indikator (larutan, kertas pH) yang menunjukkan warna tertantu pada pH yang berbeda. Saat ini sudah banyak pH-meter jinjing (portable) yang dapat dibawa ke lapangan. Di samping itu, ada beberapa tipe pH-meter yang dilengkapi dengan elektroda yang secara langsung dapat digunakan untuk pH tanah, tetapi dengan syarat kandungan lengas saat pengukuran cukup tinggi (kandungan lengas maksimum atau mungkin kelewat jenuh). Kesalahan pengukuran dapat terjadi antara 0,1 – 0,5 unit pH atau bahkan lebih besar karena pengaruh pengenceran dan faktor – faktor lain.Petani yang masih tradisional ukuran pH bukan secara teknologi tetapi lebih melihat kepada kebiasaan dan tingkat keberhasilan tanah lahan yang telah ditanam beberapa kali sehingga pada akhirnya timbul kepekaan petani terhadap tanah seperti apa yang cocok untuk tanaman kedelai.Warna tanah juga bisa menjadi ukuran bagi petani untuk pembukaan lahan kedelai. Untuk mengukur pH basa kuat di lapangan, indikator fenolptalin (2 g indikator fenolptalin dalam 200 ml alkohol 90%) yang tidak berwarna sangat bermanfaat karena akan berubah menjadi ungu sampai merah pada pH 8,3 – 10,0. Kondisi yang sama dalam pengukuran pH di lapangan pada kondisi luar biasa asam digunakan indikator Brom Cresol Green (0,1 g dilarutkan dalam 250 ml 0,006 N NaOH) yang berubah menjadi hijau sampai kuning pada pH 5,3 dan lebih rendah daripada 3,8. Untuk mengetahui pH tanah di lapangan, secara umum dapat digunakan indikator universal (campuran 0,02 g metil merah, 0,04 g bromotimol blue, 0,04 g timol blue, dan 0,02 g fenolptalin dalam 100 ml alkohol encer (70%)Pengapuran dapat menggunakan dolomit, dengan cara menyebar rata sebanyak dosis 1,5 ton/ ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha, dosis kapur dapat dikurangi menjadi 750 kg/ha. Selain itu perlu dibuat saluran pembuangan air sehingga tidak terjadi genangan air di dalam petakan agar biji yang baru tumbuh tidak busuk atau mati. Materi Penyuluhan : Created Presentase By : Edi Saputra, S.PPenyuluh Pertanian Muda BPP Karang Endah Kecamatan Lengkiti