Dalam rangka mendukung program pemerintah pusat untuk mewujudkan SwasembadaPangan Nasional 2017, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman telah mentargetkan peningkatan provitas padi satu ton perhektar melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT). GP-PTT di Kabupaten Sleman difokuskan pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Prambanan dan Kalasan seluas 2.000 hektar dan Kecamatan Berbah 500 hektar. Berlokasi di Pendopo BP3K Prambanan (Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan) pada hari Senin, 16 Maret 2015 BPTP Yogyakarta menyelenggarakan Workshop "Percepatan Adopsi Cara Tanam Jajar Legowo (tajarwo) bagi Penyuluh Pertanian, Mantritani, Babinsa, dan Petugas Statistik Mendukung GP-PTT di Kabupaten Sleman". Workshop sebagai salah satu metode untuk mendiseminasikan teknologi tajarwo bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan teknologi tajarwo secara benar serta meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku penyuluh pertanian, mantritani, babinsa, dan petugas statistik terhadap tajarwo. Berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan menunjukan cara tanam jajar legowo (tajarwo)dapat meningkatkan populasi tanaman per luasan hingga mencapai kurang lebih 30%. Peningkatan populasi tanaman tersebut dapat meningkatkan produksi yang diharapkan apabila diikuti dengan penerapan paket teknologi lainnya seperti pemupukan, pengaturan pengairan, pengendalian OPT dan teknologi lainnya sesuai anjuran. Jika penerapan teknologi pada GP-PTT sesuai anjuran maka pencapaian swasembada beras akan mudah digapai. Peserta workshop sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian materi yang disampaikan oleh Narasumber antara lain : (1) cara tanam dan cara ubin jajar legowo; (2) rekomendasi pemupukan padi, penentuan dosis pemupukan TSp dan KCl berdasar uji hara tanah sawah dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), (3) menentukan dosis pemupukan urea berdasar warna daun padi dengan penggunaan BWD, dan (4) pengenalan varietas padi unggul baru (VUB). Acara workshop juga diisi dengan praktek penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan PUTS serta metode pengubinan. Workshop diakhiri dengan diskusi, dimana dari diskusi tersebut terungkap bahwa ubin tajarwo sedikit berbeda dengan metode ubin pada pola tanam tegel walaupun secara prinsip tetap sama yakni dilakukan secara random. Yang membedakan metode pengubinan pada sistem tanam tajarwo dan tegel adalah tajarwo adalah pada titik peletakan maal yakni berada diantara kedua baris tanam. Peran aktif dari Babinsa, Petugas Statistik, Mantritani dan Penyuluh Pertanian diharapkan mampu memberikan motivasi serta pendampingan bagi petani, agar target dan program swasembada pangan bisa tercapai melalui sinergi ini.(Irawati/Rahima Kaliky/Ari W BPTP Yogyakarta)