Pada hari Kamis tanggal 11 Mei 2023, telah dilaksanakan kegiatan penyuluhan dan demonstrasi cara di kelompok tani Tunas Muda Desa Rantau Karau Tengah Kec. Sungai Pandan, yakni demonstrasi cara pembuatan BIOSAKA. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Penyuluh WKPP Farida Adriani, SP, Koordinator BPP Kec. Sungai Pandan (Rachman Fitrianoor, SP), turut di bantu oleh POPT Kec. Sungai Pandan (Maulina Hasanah, SP) dan rekan-rekan Penyuluh dari BPP Kecamatan Sungai Pandan, serta turut dihadiri oleh PP Swadaya dari desa Rantau Karau Tengah (Mardiati). Pengurus dan anggota kelompok tani semangat mengikuti kegiatan ini, turut menyiapkan bahan-bahan seperti rumput yang terdapat di lingkungan sekitar dengan berbagai jenis rumput (gulma) dan menyediakan berbagai jenis air yang akan digunakan antara lain yang bersumber dari air hujan, air sawah dan air sumur bor. Biosaka adalah Bio : hayati/tumbuhan, SAKA singkatan : selamatkan alam kembali ke alam, temuan petani pak Ansar di Blitar yang sudah tercatat di Kemenhumkam Nomor 000399067. Manfaat ramuan Biosaka : biaya gratis membuat sendiri, tidak ada risiko kerugian bagi petani dan tanaman, tidak beracun, menghemat biaya pupuk kimia sintetis 50-90% dan pestisida kimiawi, sehingga petani biasanya pakai pupuk Rp 3 juta/ ha/musim dengan menggunakan biosaka cukup Rp 0,3 - 1,5 juta/ha/musim. Biosaka ini juga meminimalisir/mengurangi serangan hama penyakit, lahan menjadi subur, umur panen lebih pendek, produktivitas dan produksi lebih bagus. Hasil uji lab pada ramuan Biosaka menunjukkan kandungan hara makro-mikro rendah sehingga disimpulkan bahwa biosaka bukan pupuk. Rumput bukan pupuk, bukan menggantikan pupuk, bukan variasi pupuk, bukan jenis makanan tanaman, bukan memperbaiki pupuk, tetapi biosaka memperbaiki tanaman dan ekosistem. Namun biosaka memperbaiki tanaman, sel-sel tanaman, memperbaiki lahan dan ekosistemnya. Hasil uji lab pada ramuan Biosaka menunjukkan adanya kandungan hormon, jamur dan bakteri yang tinggi, mengandung PGPR, ZPT, MoL dan sejenisnya. Menurut Prof Robert Manurung dari ITB : Biosaka ini disebut elisitor dari ilmu epigenetic, sudah banyak riset, jurnal -jurnal elisitor, dan sudah dilakukan kajian. Alat yang diperlukan antara lain adalah wadah (baskom/ember), gayung, saringan, corong, botol/jerigen untuk wadah biosaka Bahan yang diperlukan antara lain adalah : Rumput-rumputan/daun-daunan yang sehat, sempurna, ukuran daun simetris, tidak terkena hama/penyakit, tidak bolong-bolong, tidak jamuran, ujung daun tidak kusam dan warna daun rata. Ambil agak ke pucuk/daun masih hijau, boleh diambil 2-4 daun dengan Jangan ambil rumput yang berduri agar tidak melukai tangan waktu meremas. Minimal 5 jenis dari rumput/daun sekitar pertanaman, jenis dan warna rumput/daun bebas, tidak harus standar/seragam karena setiap waktu dan tempat bisa berbeda-beda. Banyaknya satu genggaman tangan untuk 1 wadah dalam satu kali pembuatan Cara Pembuatan: Campurkan bahan dengan air bersih sebanyak 2-5 liter dalam wadah yang sudah disiapkan (tanpa campuran bahan apa pun). Lakukan peremesan dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang pangkal Sekali meremas diikuti sekali memutar/mengaduk air ke kiri. Tangan kanan bergerak memutar air ke kiri (berlawanan arah jarum jam) sambil mengumpulkan bahan yang tercecer sambil tetap meremas Diremas sampai selesai, tidak berhenti, tidak sampai hancur batangnya, tangan tidak boleh diangkat, tetap tangan di dalam air dan tidak berganti orang. Meremas rumput tidak boleh menggunakan blender / ditumbuk tetapi harus menggunakan tangan, karena ada interaksi antara tangan dengan rumput sebagai makhluk hidup. Peremasan dilakukan sampai ramuan homogen. Untuk mencapai homogen perlu waktu kisaran 10-20 Ciri-ciri visual bahwa biosaka disebut homogen : tidak mengendap, tidak timbul gas, tidak ada butiran, bibir permukaan membentuk pola cincin, ramuan biosaka terlihat pekat dan mengkilap, bisa berwarna hijau/biru/merah sesuai dengan warna rumput/daun yang digunakan. Bagi biosaka homogen yang sempurna bisa disimpan hingga 5 tahun. Kepekatan ramuan biosaka dapat diukur dengan menggunakan alat Total Disolved Solid (TDS), Mengukur dengan TDS, pada saat sebelum dan setelah diremas, peningkatannya minimal 200 ppm dan untuk menjadi homogen sempurna di atas 500 ppm. Ukuran ini bukan satu-satunya cara untuk mengukur biosaka homogen, tetapi hanya alat bantu saja. Masih banyak alat ukur yang lain, seperti metode kinesologi. Selanjutnya ramuan biosaka disaring menggunakan alat saringan dan dimasukan ke dalam botol/jerigen menggunakan corong. Ramuan biosaka bisa langsung diaplikasikan dan sisanya dapat disimpan. Wadah ramuan biosaka disimpan di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak. Aplikasi penyemprotan : Alat semprot harus bersih dari kandungan sisa Dosis penyemprotan untuk padi dan jagung 40mL/tangki semprot volume 15 Untuk aneka kacang dan umbi 30mL/tangki dan hortikultura 15ml/tangki. Untuk satu ha lahan cukup 3-5 tanki sprayer. Untuk padi dan jagung, aplikasi pertama pada umur 7-10 HST dan dilanjutkan 7 kali semusim dengan interval penyemprotan 10-14 hari dan untuk sayuran seminggu sekali. Penyemprotan dilakukan dengan nozzle kabut di atas pertanaman, minimal 1 meter di atas tanaman, tidak boleh diulang-ulang. Waktu penyemprotan bisa pagi/siang/sore dan sebaiknya pada sore hari saat ada angin sehingga mudah menyemprot ngabut, perhatikan cuaca dan arah menyemprot mengikuti arah mata Penyemprotan cukup dari atas galengan dengan stik diperpanjang hingga 2- 3 Aplikasi biosaka efektif di lokasi hamparan insitu dari bahan rumput/daun di Jarak efektif aplikasi maksimal 20 km dan untuk lahan yang sudah berat/tidak sehat harus lebih dekat lagi, tidak efektif biosaka diaplikasikan/dikirim antara wilayah karena terkait pengenalan agroekosistem. Harapan dari kegiatan demcar ini adalah kelompok tani dapat membuat secara mandiri dan mengaplikasikan ke tanaman yang dipelihara meskipun hanya tanaman pekarangan yang ada dilingkungan tempat tinggal. Karena pembuatan BIOSAKA ini sangat mudah, ramah lingkungan, murah dan bermanfaat. (Farida Adriani, SP)