Pada hari Rabu, diawal tahun, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2020 bertempat di Kebun desa yaitu di Sanggar Belajar Desa Labunti Keca matan Lasalepa telah dilakukan "Penyusunan Programa Desa Labunti" yang dihadiri oleh Ketua Kelompok dan anggota kelompok tani desa Labunti, Para aparat Desa Labunti, Koordinator BPP Kecamatan Lasalepa, Tim BPP Lasalepa yang terdiri dari Penyuluh Pertanian Desa Labunti sendiri bersama penyuluh pertanian desa Kombungo dan Labone. Dalam penyusunan programa ini, kami lakukan dengan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA adalah teknik yang memungkinkan masyarakat untuk turut serta dalam membuat tindakan nyata, rencana, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kebijakan yang berpengaruh pada kehidupannya. Pengumpulan data melalui metode PRA dengan menggunakan empat (4) instrument, yaitu Peta Desa, Peta Potensi Desa, Diagram Venn dan Kalender Musim. Semua proses ini dilakukan oleh petani didampingi langsung oleh penyuluh pertanian Lapangan Desa Labunti. Hasil PRA melahirkan data potensi yang ada di desa dan yang dimiliki oleh petani di desa Labunti. Selain itu juga berdasarkan hasil diskusi diidentifikasi beberapa masalah yang selama ini dihadapi oleh petani baik itu masalah perilaku maupun masalah non perilaku. Selanjutnya masalah yang ada akan dilakukan suatu rencana pemecahan masalah dalam bentuk ikhtiar kemudahan, dan diharapkan dari identifikasi masalah yang ditemukan dapat ditempuh solusi atau kemudahan bekerjasama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan sebagai perpanjangan tangan dari Dinas TPHP Kabupaten Muna maupun pemerintah desa serta instansi ataupun stake holder terkait. Dari hasil diskusi, teridentifikasi 15 masalah yang dihadapi oleh petani di Desa Labunti, yaitu antara lain: 1. Kualitas dan kuantitas jagung, ubi kayu dan kacang tanah kurang maksimal 2. Serangan hama ulat grayak pada tanaman jagung 3. Serangan hama babi dan bekicot pada tanaman jagung, ubi kayu dan kacang tanah 4. Minimnya modal petani, dan maraknya serangan hama babi sehingga pembuatan pagar menjadi kendala utama petani. 5. Kualitas dan kuantitas tanaman jambu mete menurun. 6. Harga hasil usaha tani belum stabil, apalagi pada saat panen raya harga jatuh atau cenderung menurun, utamanya untuk tanaman jambu mete akibatnya membuat petani merugi. 7. Sumber Air sangat minim sehingga sebagian besar petani mengusahakan lahannya secara tadah hujan, akibatnya banyak lahan bero pada bulan Juni - Agustus. 8. Petani sebagian besar masih belum melaksanakan tandur jajar dengan jarak tanam arah timur-barat, petani masih melakukan sistem tugal sembarang tanpa aturan jarak tanam. 9. Sebagian besar petani masih mengupayakan lahannya secara tradisional, yaitu sistem tebas-bakar-tanam, belum melakukan pengolahan tanah optimal, pemupukan ataupun upaya-upaya konservasi lahan serta pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman. 10.Perlakuan Panen dan Pasca Panen belum dilakukan secara maksimal 11.Belum ada upaya pengolahan hasil pertanian, sehingga masih rendahnya pendapatan usaha tani di Desa labunti 12. Sebagian besar petani belum melakukan pemupukan ataupun mengendalikan serangan hama ataupun penyakit di lahan-lahan kebun miliknya. 13. Petani belum terampil membuat pupuk organik cair maupun pestisida nabati dan mengaplikasikannya. 14. Petani belum terampil membuat pupuk kompos dan mengaplikasikannya 15. Peranan poktan dan Gapoktan serta BUMDES belum maksimal. Selanjutnya dari penyusunan Programa Penyuluhan Desa Labunti, yang terdiri dari penetapan keadaan riil masalah yang dihadapi petani ini diharapkan dapat memberikan solusi dalam bentuk ikhtiar kemudahan yaitu dengan cara meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani dalam hal penanganan masalah yang mereka hadapi bekerjasama dengan stake holder dan instansi terkait. Dari identifikasi masalah inilah maka menjadi dasar bagi Penyuluh Pertanian Lapangan untuk menyusun dan menetapkan Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Pertanian, yang insyaa Allah akan dilakukan dalam kurun waktu satu tahun dengan harapan masalah yang dihadapi petani dapat diselesaikan sampai akhir tahun 2020. Selain pengidentifikasian masalah, dalam penyusunan programa ini di susun pula diagram venn dan kalender musim tanam sederhana, utamanya untuk tanaman jagung, ubi kayu dan kacang tanah. Selain itu pembuatan peta desa dan peta potensi desa dilakukan oleh anggota kelompok tani yang hadir didampingi oleh PPL Desa Labunti, salah satunya yaitu, Pak Lamuna, selaku ketua kelompok Tani Abadi Jaya sekaligus petugas Kolektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Desa Labunti. Selain itu pula turut hadir juga ketua kelompok tani perjuangan, Sangia Sejahtera, Ketua kelompok Mandiri dan beberapa anggota kelompok tani lainnya. Dari hasil pertemuan ini dalam rangka penyusunan programa Desa Labunti yang melahirkan Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan Pertanian menjadi PR dan tanggung jawab besar buat diri saya pribadi sebagai penyuluh pertanian lapangan yang baru bertugas di Desa Labunti Kecamatan Lasalepa untuk dapat memberikan solusi dan kemudahan serta mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi sehingga mampu melahirkan petani-petani milenial yang maju, mandiri dan modern. AAmin yaa Robbal AAlamin... (UMMY KASLSUM, SP. PENYULUH DESA LABUNTI, KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA, SULTRA)