Loading...

PERAN DAN DAMPAK PHSL DALAM BUDIDAYA PADI

PERAN DAN DAMPAK PHSL DALAM BUDIDAYA PADI
Pemberian pupuk N berdasarkan pembacaan warna daun dengan menggunakan BWD telah diterapkan di 28 kabupaten yang menjadi percon-tohan penerapan PTT melalui program Peningkatan Produktivitas Padi terpadu (P3T) pada tahun 2002 dan 2003. Dari 20 kabupaten contoh, 13 diantaranya menggunakan urea 100-200 kg/ha, lebih rendah daripada takaran rekomendasi 250 kg/ha atau kebiasaan petani yang mencapai lebih dari 300 kg urea/ha, walaupun peningkatan takaran urea masih terjadi di satu kabupaten.Penggunaan pupuk SP36 dan KCl juga dapat di hemat masing-masing hingga 50 kg/ha. Hanya empat kabupaten yang memerlukan tambahan pupuk SP36. Hal ini akan mengurangi biaya produksi dan pupuk yang di hemat dapat dimanfaatkan untuk daerah lain.Pemberian pupuk P dan K di sebagaian besar daerah sudah didasarkan pada hasil analisis tanah atau peta status hara P dan K. Hal ini menunjukkan bahwa model PHSL sebagai komponen PTT dapat dengan mudah diterapkan petani.Verifikasi terhadap software PHSL yang di akses melalui internet dan HP di dua kabupaten di Jawa Barat dan tiga kabupaten di DIY memperoleh hasil : (1) validitas software untuk penentuan dosis pupuk N, P, dan K pada tanaman padi cukup baik, dengan tingkat ketercapaian rata-rata > 100 %, di kabupaten Bantul 83,4-121,2 %; kabupaten Kulonprogo 78,8-116,1 %; kabupaten Subang berkisar antara 96,9-126,8 %; dan kabupaten Karawang 96,9-119,6 % dibandingkan dengan besaran target produktivitas dari software PHSL; (2) efisiensi agronomi mencapai > 10 kg gabah/kg pupuk N yang digunakan dengan kisaran 7-35 kg/kg, dan (3) variasi capaian hasil dan efisiensi N tersebut diakibatkan oleh perbedaan teknik budidaya petani, seperti penggunaan varietas, cara tanam maupun perbedaan lokasi penanaman (kesuburan lahan), bukan oleh faktor pengelolaan pupuk.Ketidakseimbangan hara dalam tanah dan turunnya produksi padi akibat penggunaan pupuk dosis tinggi sebelum dikembangkan konsep PHSL telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Berkurangnya bahan organik tanah dalam bentuk fraksi yang mobil juga telah di duga menjadi penyebab utama penurunan hasil padi di IRRI (Filipina). Hal serupa juga terjadi di TNRRI (India) dan BB padi (Indonesia).Validasi lapang penerapan PHSL telah dilakukan di 10 provinsi di Indonesia (Sumut, Sumsel, Riau, Jabar, jateng, Jatim, NTB, Sulsel, Sultra, dan Kalbar). Penghematan penggunaan pupuk di Jawa berturut-turut adalah 52 % pupuk N (urea), 41 % pupuk P dan 28 % pupuk K, sedangkan di luar Jawa adalah 24 % pupuk N dan 21 % pupuk P. Peningkatan hasil padi pada 10 provinsi tersebut berkisar antara 0,3-0,5 t/ha dengan peningkatan pendapatan petani Rp 1,0-1,5 juta/ha/musim.Penanganan masalah pupuk ke depan diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada hara makro N, P, dan K tetapi perlu penyesuaian kebutuhan hara lain, termasuk unsur mikro. Belerang (S), seng (Zn), tembaga (Cu), dan silikat (Si) adalah unsur hara mikro yang menjadi kendala produksi padi di sejumlah lokasi di Indonesia. Pada lahan sawah yang terlalu reduktif atau pH tanah netral hingga alkalin, tanaman padi sering kekurangan hara S. Kahat hara S antara lain ditemukan di Jakenan-Pati, Singamerta-Serang, Cihea-Cianjur, Secang-Magelang, dan Ngale-Ngawi. Kahat hara S menyebabkan sintesis protein berkurang dan fungsi asam amino metionin dan sistein terganggu. Khlorosis adalah gejala akibat rendahnya kadar gula hasil fotosintesis dan kondisi ini dapat menurunkan hasil gabah hingga 50 %.Keberadaan hara Zn dan Cu penting dalam reaksi fotosintesis, metabolisme karbohidrat dan protein, reaksi enzimatik, translokasi asimilat dan pengisian gabah. Kahat hara Zn berpengaruh terhadap sintesis pati. Pemupukan NPK yang disertai Zn dan Cu meningkatkan jumlah gabah isi 13 %. Pada Phaseolus vulgaris, kahat Zn menyebabkan kandungan pati dalam biji rendah dan akan lebih rendah lagi pada tanaman yang peka. Kahat Zn banyak dijumpai pada lahan sawah yang tergenang terus-menerus.Silikat diperlukan agar tanaman memiliki daun yang tegak (tidak terkulai), sehingga efektif menangkap radiasi surya dan efisien dalam penggunaan pupuk yang menentukan tinggi rendahnya hasil tanaman. Tanaman yang cukup Si lebih tahan terhadap serangan hama pengisap seperti penggerek batang dan wereng batang coklat. Selain itu, tanaman juga tahan terhadap penyakit blas dan hawar daun baktreri (HDB), tidak mudah rebah, dan menaikkan root oxidizing power, yaitu kemampuan akar mengoksidasi lingkungannya seperti ion fero (Fe2+) menjadi feri (Fe3+), sehingga tanaman terhindar dari keracunan besi.Padi varietas Inpari 10 memiliki batang lebih lunak di banding hibrida Hipa 6 dan galur PTB B105. Kekerasan batang varietas Inpari 10 masih dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk Si. Untuk meningkatkan ketahanan terhadap hama penggerek batang, pada tanah berkadar Si rendah seperti pada tanah Alluvial Subang (76,5 %) perlu diberikan 200 ppm Si. Pada tanah berkadar Si sedang (pada Andosol Kuningan, 82,7 %) hingga tinggi (pada Latosol Bogor, 87,2 %) cukup diberikan 50 ppm Si.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. http://id.wikipedia.org/wiki/Bercocok tanam padi.2. Abdulrachman Sarlan. 2014. Pengelolaan hara spesifik lokasi mendukung sistem produksi padi berkelanjutan. Balitbangtan Kementerian Pertanian. IAARD Press. Jakarta.3. Sumber gambar berasal dari epetani.pertanian.go.id.