Komoditas kedelai merupakan salah satu komoditas strategis bagi masyarakat Indonesia. Banyak bahan pangan seperti tahu dan tempe yang berbahan baku kedelai. Hingga saat ini untuk mencukupi kebutuhan akan kedelai masih dilakukan dengan cara import dari luar negeri karena produki kedelai yang ada belum mencukupi. Selain peningkatan areal lahan pertanaman kedelai, upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan produktivitas kedelai. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai adalah dengan penggunaan rhizobium.Rhizobium merupakan istilah untuk kelompok bakteri yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman. Apabila Rhizobium bersimbiosis dengan tanaman legume (kacang-kacangan, kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar di dalamnya. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada di dalam bintil akar dari mitra legumnya. Nitrogen merupakan suatu unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, yang berfungsi sebagai penyusun protein dan penyusun enzim. Tanaman memerlukan suplai nitrogen pada semua tingkat pertumbuhan, terutama pada awal pertumbuhan, sehingga adanya sumber N yang murah akan sangat membantu mengurangi biaya produksi. Jika unsur nitrogen terdapat dalam keadaan kurang, maka pertumbuhan dan produksi tanaman akan terganggu.Peranan Rhizobium terhadap pertumbuhan tanaman cukup besar. Adapun peranan Rhizobium antara lain:1. Rhizobium mampu menambat Nitrogen mencapai 80 kg N2/ha/thn atau lebih ketika bersimbiosis dengan tanaman kedelai. 2. Inokulan Rhizobium mampu bersimbiosis secara aktif sehingga menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik.3. Rhizobium mampu menghasilkan hormon pertumbuhan berupa IAA dan giberellin yang dapat memacu pertumbuhan rambut akar, percabangan akar yang memperluas jangkauan akar. Dengan demikian, tanaman dapat menyerap hara lebih banyak sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman.4. Rhizobium mampu meningkatkan penyerapan fosfat. Fosfat merupakan hara utama dalam perkembangan akar dan pembentukan polong kedelai. Tanaman kedelai yang tergolong kacang-kacangan (leguminose) ditandai adanya bintil akar pada akar tanaman tersebut. Bintil akar merupakan tempat untuk mengelola zat lemas udara (gas N2) menjadi senyawa hitrogen tanaman (protein dsb). Jadi bintil akar dapat disamakan dengan pupuk nitrogen alami. Dengan pupuk nitrogen alami ini tanaman kedelai dan tanaman kacang-kacangan pada umumnya memenuhi kebutuhan nitrogennya. Kurang lebih dua pertiga dari kebutuhan nitrogen tanaman kacang-kacangan dipenuhi dari hasil penambatan N2. Proses pengikatan zat lemas dalam bintil akar ini dikenal sebagai proses fiksasi nitrogen. Akan tetapi hasil fiksasi nitrogen ini dalam memenuhi kebutuhan tanamannya sangat tergantung pada keefektifan bintil akarnya.Bintil akar pada tanaman kacang-kacangan hanya akan terbentuk jika akar tanaman pada tingkat tertentu dari masa perkecambahan biji dapat bertemu dengan bakteri Rhizobium. Jika pada waktu biji kedelai yang ditanam berkecambah, dan disekitar akarnya terdapat bakteri Rhizobium maka bakteri ini akan masuk ke dalam akar tanaman melalui bulu-bulu akar, selanjutnya akan terjadi reaksi timbal balik (interaksi) antara bakteri dengan tanamannya yang menghasilkan pembentukan bintil akar. Bintil akar ini dapat dilihat pada waktu tanaman berumur 3-4 minggu. Keefektifan bintil akar dalam proses fiksasi nitrogen tergantung pada varietas atau strain Rhizobiumnya.Bintil akar yang efektif adalah bintil akar yang menghasilkan kerjasama (simbiose) yang sangat menguntungkan bagi tanamannya dalam proses fiksasi nitrogen. Ciri-ciri bintil akar yang efektif adalah:1. Mudah diamati langsung di lapangan, caranya ialah dengan mencabut tanaman kedelai yang akan diamati.2. Cenderung berkelompok pada leher akar.3. Ukurannya relatif besar.4. Jika bintil alar itu dibelah, bagian dalamnya berwarna merah darah, semakin efektif semakin merah sedang bintil akar yang tidak efektif bagian dalamnya berwarna keputih-putihan atau agak kehijauan. Dengan bintil akar yang efektif hampir semua kebutuhan nitrogen tanam dapat terpenuhi. Pada penanaman kedelai jenis unggul, tambahan pupuk nitrogen dalam jumlah kecil dianjurkan, tetapi tanpa pemberian pupuk nitrogenpun, produksi yang memadai masih dapat terjamin, asal bintil-bintil akarnya efektif. Usaha pemberian bakteri Rhizobium pada biji kacang-kacangan yang akan ditanam, dikenal sebagai inokulasi. Cara Inokulasi Kedelai:1. Dengan menggunakan legin (legium inokulan) Legin adalah sejenis biakan murni bakteri Rhizobium berupa serbuk berwarna hitam, dibungkus dalam kantung-kantung plastik (packing). Penggunaan legin:a. Basahi biji kedelai dengan air sampai cukup basah (jangan berlebihan).b. Berikan legin pada biji yang telah dibasahi tersebut, sedikitnya 7,5 gr/kg benih. Usahakan campuran legin ini merata.c. Biji yang telah dicampur dengan legin seegera ditanam. Jika terpaksa, janganlah ditunda lebih dari 6 jam. Usahakan agar biji yang dicampur dengan legin tidak kena cahaya matahari langsung, akar biji tetap basah. Bila kering, legin dapat menurunkan efektifitasnya.2. Inokulasi dengan menggunakan tanah yang pernah ditanami kedelai.Jika tidak tersedia legin, ada cara lain, yaitu dengan mencampurkan tanah dari lahan yang sudah pernah ditanami kedelai, dengan biji kedelai yang akan ditanam. Perbandingannya 200 gr tanah untuk setiap kilogram biji yang akan ditanam.Simbiosis bakteri Rhizobium dengan tanaman kedelai mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara melalui penambatan unsur Nitrogen dari udara oleh bakteri Rhizobium. Karena bakteri ini bersimbiosis mutualisme dengan tanaman kedelai, penggunaan bakteri ini tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan. Efisiensi penggunaan Rhizobium dapat ditingkatkan sehingga bahaya pencemaran lingkungan oleh pupuk buatan dapat dihindari. Oleh :Sri Lastuti, SP. Penyuluh Pertanian Muda BPP Banyuurip, DINPPKP Kab. Purworejo