Penyuluhan pertanian sebagai bagian integral pembangunan pertanian merupakan salah satu upaya pemberdayaan petani dan pelaku usaha pertanian lain untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya[1]. Untuk itu kegiatan penyuluhan pertanian harus dapat mengakomodasikan aspirasi dan peran aktif petani dan pelaku usaha pertanian lainnya melalui pendekatan partisipatif. Pengembangan pembangunan pertanian di masa mendatang perlu memberikan perhatian yang khusus terhadap penyuluhan pertanian, karena penyuluhan pertanian merupakan salah satu kegiatan yang strategis dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan pertanian. Melalui kegiatan penyuluhan, petani ditingkatkan kemampuannya agar dapat mengelola usaha taninya dengan produktif, efisien dan menguntungkan, sehingga petani dan keluarganya dapat meningkatkan kesejahteraanya. Meningkatnya kesejahteraan petani dan keluarganya adalah tujuan utama dari pembangunan pertanian. Penyuluh pertanian dalam memberdayakan masyarakat tani berperan sebagai : (1). Pembimbing petani, (2). Organisator dan dinamisator petani, (3). Teknisi dan (4). Penghitung antara stakeholders dengan petani.Dalam menyampaikan informasi kepada sasaran, petugas pertanian lapangan hendaknya mampu melaksanakan proses belajar mengajar, selain sebagai seorang guru, hendaknya menempatkan diri sebagai teman sasaran dalam mengambil keputusan. Dalam kaitan ini petugas pertanian lapangan dituntut mampu berperan ganda, antara lain dengan menjalankan fungsi sebagai komunukator, pendidik dan motivator bagi terjadinya perubahan perilaku sasaran. Selain itu, petugas pertanian lapangan juga harus mampu melakukan pengamatan terhadap keadaan sumberdaya yang terdapat di pedesaan, kemampuan dana dan mendekati kelembagaan yang ada di pedesaan, memberikan contoh pemecahan masalah dari berbagai kebutuhan pokok yang dihadapi masyarakat, serta menganalisa pemecahan masalah tersebut.Petugas pertanian lapangan dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan, menempatkan petani bukan sebagai murid, tetapi sebagai teman dan mitra belajar dengan memperhatikan azas sebagai berikut :1) Azas pengalaman nyata yaitu proses belajar yang berjalan menyangkut situasi usahatani yang nyata,2) Azas kebersamaan, setiap anggota kelompok perlu mempunyai kesadaran bahwa permasalahan anggota sekelompok juga dapat menjadi permasalahannya,3) Azas kesinambungan, pembelajaran perlu berkembang dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan tingkat kebutuhan petani pada saat itu,4) Azas manfaat, materi penyuluhan harus sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh sasaran belajar ( petani) dan akan bermanfaat untuk mangatasi masalah yang dihadapi sekarang,5) Azas lokalitas, materi dan metode penyuluhan perlu memperhatikan kesesuaian materi, kondisi masyarakat dan sarana penyuluhan, serta prasarana setempat,6) Azas keterpaduan, mengembangkan kekompakan antar materi penyuluhan, sehingga lebih sesuai dengan kondisi permasalahan yang dihadapi masyarakat.Pelaksanaan azas-azas tersebut dapat terwujud dan tujuan penyuluhan pembangunan pertanian akan tercapai apabila ditunjang oleh potensi sumberdaya manusia di bidang pembangunan pertanian ( penyuluh dan petani) yang memadai dan mandiri, serta menempatkan kamandirian sebagia dasar dan arah dalam mengembangkan sumberdaya manusia dalam pembangunan pertanian.Dalam memberdayakan kelembagaan petani para petugas lapangan sebagai Pembina perlu memperhatikan aspek-aspek dinamika kelompok yang merupakan kekuatan di dalam kelompok yang menentukan perilaku anggota kelompok. Kekuatan yang mempengaruhi dinamika kelompok meliputi :1) Tujuan Kelompok. Tujuan kelompok merupakan gambaran hasil yang ingin dicapai oleh kelompok, dimana untuk mencapai hasil tersebut diperlukan berbagai usaha dari anggota kelompok.2) Struktur kelompook. Struktur kelompok adalah cara kelompok mengatur dirinya sendiri dan mencapai tujuan kelompok. Ada 4 aspek dalam struktur kelompok yaitu :3) Struktur komunikasi atau bagaimana aliran komunikasi terjadi di dalam kelompok berjalan dengan baik akan membuat dinamika kelompok menjadi baik, sebaliknya apabila komunikasi kurang baik di dalam kelompok akan membuat dinamika lemah4) Wahana bagi kelompok untuk berinteraksi, strukutr tugas mendorong terjadinya interaksi semakin besar kemungkinan anggota kelompok dapat berinteraksi, maka dinamika kelompok akan semakin kuat.Membangun Kekompakan Kelompok.Kekompakan kelompok merupakan rasa keterikatan yang kuat di antara anggota kelompok, dimana tingkat rasa keterikatan yang berbeda-beda menyebabkan adanya tingkat kesatuan atau tingkat kekompakan yang berdeda-beda pula. Anggota kelompok yang memiliki tingkat kekompakan kelompok tinggi akan lebih terangsang untuk aktif mencapai tujuan dibandingkan anggota yang memiliki tingkat kekompakan yang rendah. Kekompakan kelompok meningkatkan potensi kelompok dan meningkatkan rasa memiliki kelompok pada diri anggota kelompok.(Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Penyuluh Pertanian Madya. Sumber :Pedoman Pemberdayaan Masyarakat Tani dalam Pengembangan Agribisnis, 2010)