Dalam suatu kegiatan belajar-mengajar, baik melalui jalur pembelajaran formal maupun non-formal, tujuan pembelajarannya dapat digolongkan menjadi tiga. Tujuan pertama, yaitu agar terjadinya perubahan dalam aspek kognitif atau aspek pengetahuan dan olah pikir pada pihak pembelajar. Tujuan kedua agar terjadi perubahan dari aspek psikomotor atau keterampilan. Tujuan pembelajaran yang ketiga, agar terjadi perubahan dalam aspek afektif. Aspek kognitif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan pengetahuan dan wawasan, dan biasanya terkait dengan pemikiran menggunakan minda atau otak. Terdapat 6 peringkat dari kognitif, yaitu: 1) sekadar mengetahui (knowledge), 2) mengetahui lebih lengkap atau detail (comprehension), 3) pengetahuan tentang aplikasi (application), 4) pengetahuan terkait analiss situasi, kondisi, masalah, dan lain-lain (analysis), 5) pengetahuan yang telah mampu melakukan sintesa terhadap suatu objek yang dipelajari (synthesis), dan 6) peringkat pengetahuan yang telah mampu untuk melakukan suatu evaluasi tentang materi yang dipelajari (evaluation). Psikomotor adalah tentang keterampilan motorik, yaitu penggunaan alat gerak dan panca indera manusia secara terampil dalam mengerjakan sesuatu kegiatan. Misalnya sebagian dari anggota kelompoktani terampil dalam melakukan panen buah jeruk pontianak dengan tingkat kerusakan buah yang rendah, sebagian anggota poktan yang lain faham dan terampil melakukan grading dan mengemas buah jeruk pontianak dengan bagus dalam waktu yang cepat. Contoh lainnya adalah keterampilan memilih, memilah, dan melakukan packaging beberapa jenis produk hortikultura sayur-sayuran sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Semakin cepat dan semakin banyak kemasan yang dibuat, bermakna keterampilan petani sudah tinggi. Begitu pula sebaliknya. Walaupun keterampilan dicapai melalui gerak motorik yang diulang-ulang dalam mengerjakan sesuatu kegiatan dalam selang waktu tertentu, namun belajar keterampillan tetap harus dimulai dengan pembelajaran yang menyentuh domain kognitif sebagai dasar atau sebagai bekal untuk mencapai keterampilan. Selanjutnya, tujuan pembelajaran afektif adalah tujuan yang mencakup rasa atau perasaan. Misalnya, sejauhmana anggota kelompoktani sudah dapat merasakan bahwa apakah pertemuan kelompoknya berjalan dengan baik, atau masih kurang baik dibandingkan dengan target atau tujuan yang diinginkan. Apakah pengurus kelompok sudah menjalankan tugasnya dengan baik dalam melayani keperluan sarana produksi untuk budidaya kentang dan cabe milik anggota poktan? Apakah tujuan poktan yang disusun sudah menggunakan pendekatan partisipatif? Belajar, Pembelajaran, dan Tujuan pembelajaran Sebagaimana diketahui, keberadaan kelompoktani ditengah masyarakat mempunyai salah satu dari tiga fungsi utamanya yaitu sebagai kelas belajar. Belajar merupakan suatu proses yang melibatkan fisik dan mental seseorang, sedangkan pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang kekal hasil dari pengalaman orang yang belajar. Namun demikian, perubahan tingkah laku seseorang yang disebabkan karena penyakit bukanlah sebagai hasil pembelajaran. Dengan kata lain, telah terjadi pembelajaran pada diri seseorang apabila perilakunya telah berubah. Sebaliknya, bagi seseorang yang telah belajar namun tidak terjadi perubahan perilakunya, maka individu tersebut dikatakan belum belajar. Tujuan pembelajaran yang dilakukan individu atau sekelompok orang adalah agar terjadinya suatu perubahan perilaku atas sesuatu yang dipelajarinya. Perubahan tersebut merupakan hasil dari belajar. Jadi, tujuan pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pernyataan yang menguraikan hasil-hasil pembelajaran, tetapi tidak menguraikan bagaimana mencapai hasil pembelajaran, dan tidak pula menguraikan proses atau prosedur pembelajaran. Oleh sebab itu, tujuan pembelajaran perlu ditulis dengan jelas dan menyatakan secara spesifik aspek perubahan tingkah laku apa yang diinginkan terjadi pada pembelajar dan dalam keadaan yang bagaimana perubahan itu terjadi. Contoh tujuan pembelajaran dari aspek kognitif: 1) Agar pengetahuan anggota poktan Mekar Sari tentang pengolahan dan pakaging brokoli meningkat; 2) Agar anggota poktan Mekar Sari memperoleh pengetahuan tentang cara membuat saus tomat Grade A dengan kualitas baik. Tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai dasar untuk memilih dan membuat rancangan bahan mengajar, memilih metoda pembelajaran yang sesuai, dan menentukan urutan apa yang perlu dipelajari. Misalnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang kedua, yaitu memperoleh pengetahuan membuat saus tomat Grade A. Untuk itu perlu disiapkan materi yang menyentuh aspek kognitif, antara lain: 1) Buku Panduan cara membuat saus tomat, 2) Contoh Saus Tomat Grade A, 3) Bahan-bahan untuk membuat saus tomat, yaitu tomat segar, garam dapur, bahan pengawet yang halal dan menyehatkan, dan air steril, dan 4) Seperangkat alat pengolah dan pencampur tomat. Sedangkan metoda pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan adalah membaca panduan membuat saus tomat Grade A, penjelasan awal, Diskusi/tanya jawab dan tes atau evaluasi terhadap apa yang telah dipelajari. Pembelajaran dan Perubahan Kognitif Sebagaimana telah diuraikan, bahwa ada 6 peringkat dalam perubahan kognitif, yaitu 1) mengetahui, 2) memahami, 3) mampu menerapkan, 4) mampu menganalisis, 5) mampu melakukan sintesis, dan 6) mampu mengevaluasi suatu materi yang telah dipelajari. Hanya sekadar mengetahui saja termasuk peringkat paling rendah, dan kemamapuan mengevaluasi adalah peringkat yang paling tinggi dalam domain kognitif. Ini bermakna bahwa seseorang tidak akan dapat melakukan evaluasi atau penilaian dengan baik apa yang telah dipelajarinya, jika ia tidak memiliki kemampuan dalam 5 peringkat dibawahnya. Misalnya, seorang anggota poktan tidak akan mampu menilai kualitas sayuran brokoli jika ia hanya tahu dari sekadar melihat gambar brokoli tanpa mempelajarinya secara mendalam. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena anggota poktan tersebut belum mengalami proses pembelajaran memahami, melhat contoh brokoli yang asli, melakukan analisis terhadap benda tersebut, melakukan sintesa terhadap peringkat pengetahuan yang baru saja dimilikinya dalam konteks aplikatif. Oleh sebab itu, dengan pengetahuannya yang baru hanya sekedar tahu, maka evaluasi atau penilaian yang dilakukan tidak akan sempurna. Itulah sebabnya pengetahuan kognitif dengan 6 peringkat ini akan menjadi dasar yang baik untuk seseorang memiliki keterampilan yang mencukupi dalam menerapkan pengetahuan yang dimilikinya tentang materi yang telah dipelajari. Penulis: Enisar Sangun, Penyuluh Pertanian Madya (e_sangun@yahoo.co.id, 081386333549).