Loading...

Perlakuan benih jagung dengan PGPR

Perlakuan benih jagung dengan PGPR
perlakuan benih jagung dengan pgprKELOMPOK : BANJARAN MAKMURDESA Banjarejo kec. rejotangan Kebutuhan jagung dalam negeri pada tahun 2009 cukup besar yaitu 17,66 juta ton pipilan kering per tahun dan diprediksi pada tahun 2010 meningkat menjadi 19,80 juta ton pipilan kering untuk memenuhi kebutuhan Nasional yang dipenuhi dari produksi dalam negeri, sementara sekitar 600.000 ton diimpor dari negara lain (Simanjuntak, dkk., 2010). Jagung merupakan salah satu komoditas strategis yang perlu disentuh oleh kebijakan pembangunan pertanian. Sehingga dalam memenuhi kebutuhan komoditas ini, kita tidak bergantung lagi pada negara eksportir yang hanya akan menguras devisa negara saja (Tambunan, dkk., 2013). Pada umumnya jagung dibudidayakan untuk digunakan sebagai pangan, pakan, bahan baku industri farmasi, makanan ringan, susu jagung, minyak jagung, dan sebagainya. Di negara maju, jagung banyak digunakan untuk pati sebagai bahan pemanis, sirop, dan produk fermentasi, termasuk alkohol. Di Amerika, jagung banyak digunakan untuk bahan baku pakan. Di Indonesia jagung merupakan bahan pangan kedua setelah padi. Selain itu, jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri pakan dan industri lainnya. Hal ini mengakibatkan kebutuhan jagung di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk memenuhi kebutuhan jagung harus dilakukan impor, terutama dari Amerika (Suatiprijanto, 2010). Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang pertanaman jagung adalah ulat penggerek batang jagung, Kutu daun, ulat Penggerek tongkol, dan Thrips (Tambunan, dkk., 2013). Salah satu hama jagung adalah gulma, gulma pada pertanaman jagung tanpa olah tanah dikendalikan dengan herbisida. Sebelum jagung ditanam, herbisida disemprotkan untuk mematikan gulma yang tumbuh di areal pertanaman. Setelah jagung tumbuh, gulma masih perlu dikendalikan untuk melindungi tanaman. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara penyiangan dengan tangan, penggunaan alat mekanis, dan penyemprotan herbisida. Formulasi atau nama dagang herbisida yang tersedia di pasaran cukup beragam. Pemilihan dan penggunaan herbisida bergantung pada jenis gulma di pertanaman. Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia akhir-akhir ini sangat diminati, terutama untuk lahan pertanian yang cukup luas. Senyawa kimia yang digunakan untuk pengendali gulma ini dikenal dengan " herbisida" dapat mengendalikan gulma tanpa menggangu tanaman pokoknya. (Simanjuntak, dkk., 2014). Upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung, yaitu: pertama, menciptakan varietas unggul lokal maupun hibrida yang berdaya hasil tinggi, kedua, memperbaiki sifat-sifat toleransi tanaman jagung terhadap kemasaman tanah dan kekeringan; ketiga, memproduksi benih sumber dan memantapkan sistem perbenihan. Untuk melengkapi ketiga upaya terebut, mengembangkan teknologi budidaya yang lebih efisien sangat strategis untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung.(Raka, dkk., 2013). Pengguanaan rekayasa genetika dalam makanan dan pakan diatur secara ketat merupakan peraturan terbanyak negara diseluruh dunia (Corbisier, dkk., 2010). Tanaman hasil rekayasa genetika menyerupai tanaman asalnya, tetapi memiliki sifat-sifat tertentu yang menyebabkan tanaman tersebut lebih baik. Tanaman tersebut memberikan keuntungan bagi petani dan konsumen. Petani memperoleh hasil yang lebih tinggi dan peningkatan keleluasaan dalam pengelolaan tanaman, sedangkan konsumen memperoleh hasil yang lebih menyehatkan, antara lain tanaman ditanam dengan pestisida yang lebih sedikit dan atau sifat kandungan nutrisi yang lebih menyehatkan. Tanaman produk bioteknologi yang telah disetujui untuk pangan merupakan tanaman yang direkayasa untuk memiliki sifat seperti: (1) ketahanan terhadap hama dan penyakit, (2) ketahanan terhadap herbisida, (3) perubahan kandungan nutrisi dan (4) peningkatan daya simpan (Simanjuntak, dkk., 2014). Salah satu aspek teknologi budidaya yang dapat diusulkan adalah pemanfaatan rizobakteri yang berperan sebagai Plant Gowth Promoting Rhizobacteria (PGPR). PGPR merupakan kelompok bakteri heterogen yang aktif mengkoloni akar tanaman dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Mekanisme PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman belum sepenuhnya dipahami. Namun, para peneliti telah melaporkan bahwa mekanisme PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan di antaranya meningkatkan penyerapan air dan unsur hara tanaman, fiksasi nitrogen, menghasilkan hormon tumbuh, menghasilkan Aminocyclopropane-1carboxylate deaminase (ACC-deaminase), melarutkan fosfat, menghasilkan antibiotik yang dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan patogen tanaman dan menginduksi ketahanan tanaman secara sistemik. Beberapa jenis bakteri yang termasuk PGPR di antaranya adalah Pseudomonas, Azospirillum, Azotobacter, Klebsiella, Enterobacter, Alcaligens, Arthobacter, Burkholderia, Bacillus dan Serratia. Salah satu spesies bakteri yang berperan sebagai PGPR dan mempunyai potensi dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman adalah Pantoea agglomerans (yang sebelumnya termasuk Enterobacter agglomerans) (Raka, dkk., 2012). Penelitian ini menggunakan isolat strain bakteri P. agglomeransyang diformulasikan dalam bentuk kompos dan diaplikasikan untuk menguji pertumbuhan dan hasil tanaman jagung varietas BISI-2. Strain bakteri yang dicoba sebagai perlakuan PGPR adalah P. agglomerans BS7a, P. agglomerans BS7b, P. agglomerans BS2a, P. agglomerans BS5a, dan kontrol yaitu tanpa perlakuan formulasi PGPR (KT). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 kali ulangan sehingga didapatkan 25 petak unit percobaan. Data diuji dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Raka, dkk., 2012). PGPR yang terseleksi secara in vitro di laboraturium dan secara in vivo di rumah kaca pada penelitian sebelumnya yaitu P. agglomerans BS2a, BS5a, BS7a, BS7b. Isolat bakteri P. agglomerans BS2a, BS7a ,BS5a, BS7b merupakan isolat bakteri yang diisolasi dari perakaran tanaman kacang tanah di daerah Bangsal Mojokerto Jawa Timur. Isolat diremajakan dengan menggunakan medium King's B serta diinkubasi selama 1 hari. Isolat tersebut dibiakkan secara massal pada medium Borth Plus (200 g kentang, 1 g pepton, 10 g glukosa, 1 g natrium glutamat, 1000 ml air kelapa) dan sebagai medium pembawa digunakan kompos. Setelah dingin, kompos diinokulasi dengan isolat PGPR sesuai perlakuan yaitu P. agglomerans BS2a, BS5a, BS7a dan BS7b (Raka, dkk., 2012). Benih jagung yang akan digunakan untuk perlakuan PGPR direndam dengan isolat PGPR sesuai dengan perlakuan yaitu dengan suspensi P. agglomerans BS2a, BS5a, BS7a dan BS7b pada kepadatan populasi bakteri 108 cfu/ml selama kurang lebih 30 menit. Untuk tanpa perlakuan (kontrol) benih direndam dengan air steril sebagai pengganti suspensi PGPR (Raka, dkk., 2012). Benih yang sudah diinvigorasi dengan PGPR ditanaman secara tugal pada masing-masing petak perlakuan dengan jarak tanam 25 cm x 70 cm. Pada tiap-tiap lubang tanam ditaburi pupuk kompos sesuai dengan perlakuan. Sedangkan pada kontrol ditaburi dengan pupuk kompos tanpa PGPR (Raka, dkk., 2012). Pertumbuhan tanaman jagung ditingkatkan secara langsung oleh rizobakteri karena rizobakteri menghasilkan fitohormon seperti auxin, etilen, sitokinin dan giberelin yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Mekanisme P. agglomerans dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman adalah dengan cara menghasilkan hormon pertumbuhan dan meningkatkan asupan nutrisi. Pertumbuhan tanaman ditingkatkan secara langsung karena P. agglomerans dapat memfiksasi nitrogen, menghasilkan pytohormon, melarutkan fosfat, dan menghasilkan enzim ACC deaminase. aplikasi Rizobakteri P. agglomerans strain BS7a sebagai PGPR formulasi kompos meningkatkan variabel tinggi tanaman maksimum, laju asimilasi bersih (LAB), laju tumbuh pertanaman (LTP), kandungan klorofil daun, bobot akar segar per tanaman, bobot brangkasan kering oven per tanaman, jumlah biji per tanaman, diameter tongkol, bobot biji kadar air 12% per tanaman dan hasil biji kadar air 12%/ha dibandingkan dengan perlakuan-perlakuan lainnya (Raka, dkk., 2012).DAFTAR PUSTAKACorbisier, Philippe., Somanath Bhat., Lina Partis., Vicki Rui Dan Xie., Kerry R. Emslie. 2010. Absolute quantification of genetically modified MON810 maize (Zeamays L.) by digital polymerase chain reaction. Anal Bioanal Chem. 396 (2010) : 2143–2150.Raka, I Gusti Ngurah., Khamdan Khalimi., I Dewa Nyoman Nyana dan I Ketut Siadi. 2013. Aplikasi Rizobakteri Pantoea agglomerans untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung (Zea mays, L.) Varietas Hibrida BISI-2. Agrotrop. 2(1): 1-5.Simanjuntak, Norman Swasco., Edison Purba DAN Jonatan Ginting. 2010. Pertumbuhan Dan Produksi Jagung (Zea Mays L.) Pada Berbagai Metode Pengendalian Gulma. Jurnal Online Agroekoteknologi. 2 (3) : 1055 – 1064.Sustiprijatno. 2010. Jagung Transgenik dan Perkembangan Penelitian di Indonesia. Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.Tambunan, Daniel T., Darma Bakti dan Fatimah Zahara. 2013. Keanekaragaman Arthropoda Pada Tanaman Jagung Transgenik. Jurnal Online Agroekoteknologi. 1 (3) : 744-758.Oleh : Anik Kristiani,SP