Loading...

Perlakuan Panen dan Pasca Panen Kedelai untuk menekan kehilangan hasil

Perlakuan Panen dan Pasca Panen Kedelai untuk menekan kehilangan hasil
Kehilangan hasil pada usahatani kedelai secara umum masih tinggi. Perkiraan kehilangan hasil kedelai yang dipanen pada kadar air tinggi (30–40% basis basah (bb)) mencapai 15,5% dan yang dipanen pada kadar air rendah (17–20% bb) sebesar 10%. Di samping kehilangan hasil secara fisik (kuantitas), susut mutu/viabilitas (kualitas) benih kedelai dalam penanganan pascapanen juga cukup tinggi, 2,5–8,0%. Hal ini disebabkan karena benih kedelai mudah rusak dan cepat turun daya tumbuhnya, sehingga memerlukan cara penanganan yang cepat, tepat, dan teliti. Oleh karena itu, tujuan dari penanganan pascapanen kedelai adalah menjaga viabilitas benih kedelai supaya tetap sama seperti pada waktu panen dan mengurangi kehilangan hasil pada semua proses kegiatan yang dilakukan. Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen yang terlambat akan merugikan, karena banyak buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak-retak atau pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat tangkai buah mengering dan lepas dari cabangnya. Perlakuan Panen dan Pasca panen harus diperhatikan agar dapat menekan kehilangan hasil. Untuk itu akan diuraikan teknik Panen dan Pasca Panen sebagai berikut : 1. Panen a. Ciri dan Umur Panen Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen yang terlambat akan merugikan, karena banyak buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak-retak atau pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat tangkai buah mengering dan lepas dari cabangnya. Umumnya umur kedelai yang akan dipanen sekitar 75-110 hari, tergantung pada varietas dan ketinggian tempat. Kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata. b. Cara Panen Pemungutan hasil kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur. Cara pemungutan dapat dilakukan dengan mencabut dan memotong. Pemungutan dengan cara mencabut perlu memperhatikan keadaan tanah terlebih dahulu. Pada tanah ringan dan berpasir, proses pencabutan akan lebih mudah. Cara pencabutan yang benar ialah dengan memegang batang pokok, tangan dalam posisi tepat di bawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus dilakukan dengan hati-hati sebab kedelai yang sudah tua mudah sekali rontok bila tersentuh tangan. Adapun Pemungutan dengan cara memotong, biasanya menggunakan sabit yang cukup tajam, sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan dan dengan alat pemotong yang tajam, pekerjaan bisa dilakukan lebih cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan bisa ditekan. Pemungutan dengan cara memotong bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dengan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang keras, pemungutan dengan cara mencabut sukar dilakukan, maka dengan memotong akan lebih cepat. 2. Pascapanen a. Pengumpulan dan Pengeringan Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur. Kedelai dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman bambu, atau di lantai semen selama 3 hari. Agar kedelai kering sempurna, pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali. Pembalikan juga menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan banyak biji lepas dari polongnya. Sedangkan biji-biji masih terbungkus polong dengan mudah bisa dikeluarkan dari polong, asalkan polong sudah cukup kering. Biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih, dijemur secara terpisah. Biji tersebut sebenarnya telah dipilih dari tanaman-tanaman yang sehat dan dipanen tersendiri, kemudian dijemur sampai betul-betul kering dengan kadar air 10-15 %. Penjemuran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang. b. Penyortiran dan Penggolongan Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan. Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi. Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan. Biji yang terpisah kemudian ditampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. Biji yang luka dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnya 9-11 %. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan. Sebagai perkiraan dari batang dan daun basah hasil panen akan diperoleh biji kedelai sekitar 18,2 %. c. Penyimpanan dan pengemasan Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 %. Demikian uraian panen dan pasca panen tanaman kedelai, semoga bermanfaat dalam menekan kehilangan hasil dan dapat memberikan konstribusi terhadap peningkatan produksi kedelai sehingga swasembada kedelai tahun 2017 dapat tercapai. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : 1) Didik Harnowo, 2013, Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. 2) http://www.agromaret.com/artikel/787/ciri_dan_umur_panen_kedelai 3) http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id, Balitkabi dukung Gerakan Pasca Panen Kedelai, 2014. 4) Sumber gambar:https://www.google.co.id