Serangan tikus terjadi setiap tahun dan ledakan populasinya setiap lima tahun sekali, yakni bersamaan dengan datangnya musim kemarau panjang.Jenis tikus dominan adalah tikus sawah (Rattus argentiventer Rob & Kloss),tetapi juga ditemukan tikus wirok (Bandicota indica Bechstein) dan tikus ladang/tikuskecil (Rattus exulans Peale).Serangan tikus sawah pada pertanaman tebu biasanya meningkat bila di lapangantidak ditemukan lagi pertanaman padi ataupun palawija. Adapun tikus wirok terjadihampir merata sepanjang musim tanam tebu. Sedangkan tikus ladang di luar Jawa terjadipada saat setelah pembukaan lahan tebu baru, jadi hanya bersifat migrasi spontan Upaya pengendalian telah dilakukan secara terpadu yang disusun dalam strategi pengendalian tikus yang cocok untuk ekosistem pertanian tertentu dan serasi dengansosial budaya masyarakat/petani setempat.KONDISI UMUM AGROEKOSISTEM, HAMA TIKUS DANPENGELOLAANNNYAA. Aspek Agroekosistem Beberapa faktor pendukung terhadap keberadaan dan perkembangan populasi tikus, diantaranya :1. Senantiasa tersedia makanan bagi tikus.2. Keberadaan lahan padi selalu berdampingan lahan tebu.3. Adanya saluran irigasi.4. Tanaman padi sedang fase generatif (masa bunting).5. Deretan rumpun bambu yang mengelilingi sebagian besar pertanaman padi & Debu, sehingga memungkinkan tikus bersarang saat air menggenangi sarangnya saat musim hujan.B. Aspek Hama TikusPerlu pengamatan siang maupun malam hari untuk menggambarkan populasi hama tikus, diantaranya :1. Populasi liang/lobang aktif tikus.2. Ada/tidaknya tikus berkeliaran pada kebun-kebun di malam hari3. Kerusakan pada tanaman tebu muda dan tebu tua4. Kerusakan pada tanaman padi dan kedelai.Walaupun populasi tikus belum pada batas yang mengkhawatirkan, tetapi perlu diwaspadai kemungkinan adanya serangan tikus mendadak pada akhir musim panen padi sekaligus awal mulai musim hujan. Adapun tikusnya kemungkinan bisa berasal dari dalam kawasan maupun migrasi dari luar kawasan PG Namun demikian masa bunting tikus betina paling banyak hanya dalam periode tertentu. Periode ini selalu bersamaan dengan masa bunting dan matang susu dari pertumbuhan tanaman padi. Oleh karena itu apabila waktu tanam padi dapat dilakukan secara serempak dalam areal yang luas, maka peramalan dan pengendalian hama tikus lebih mudah dilakukan. Sebaliknya apabila pola tanam padi tidak teratur, maka pola perkembangan tikus juga menjadi tidak teratur. Jumlah keturunan per-induk tikus sawah rata-rata sebesar 10 sampai 14 ekor cindil. Pada saat periode puncak perkembang-biakannya, 92 % tikus bunting dijumpai sedang menyusui anaknya. Oleh karena itu dalam satu sarang sering dijumpai induk tikus hidup bersama dengan 2 – 3 generasi anak-anaknya. Umur anak tikus tersebut diperkirakan saling berbeda 1 bulan. Hal ini didasarkan pada masa bunting tikus sawah sekitar 3 minggu, dan dalam waktu kurang dari 1 minggu sekali tikus betina mengalami masa birahi. Masa menyusui bagi anak tikus baru berhenti setelah berumur 18 – 24 hari. Umur tikus bisa mencapai lebih dari satu tahun.STRATEGI PENGENDALIANStrategi yang digunakan dalam pengelolaan hama tikus adalah pendekatan secara terpadu, baik secara institusi maupun teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan keadaan di lapang.Keterpaduan OrganisasiKeterpaduan secara institusi dilaksanakan dengan melibatkan semua instansi yang terkait seperti Instansi Penelitian Tanaman Pangan, Instansi Penelitian Tanaman Perkebunan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perkebunan, KUD, Pemerintah Daerah, pihak swasta, petani, dan masyarakat. Keterpaduan ini dimulai sejak sebelum adanya serangan tikus dalam bentuk pertemuan-pertemuan, koordinasi, rapat, diskusi, himbauan, dan bentuk-bentuk komunikasi. Pertemuan/komunikasi ini ditujukan untuk penyamaan persepsi, pembentukan gugus tugas serta pembagian kerjanya, perencanaan operasionalpengendalian dan jadwalnya, penyediaan sarana pengendalian yang diperlukan (alat, bahan, rodentisida, dll.) berikut anggarannya, operasional gerakan pengendalian dilapang, serta evaluasi hasil setiap tahap pengendalian.Keterpaduan Teknik PengendalianKeterpaduan teknik pengendalian adalah penerapan secara terpadu (PHT) berbagai cara pengendalian yang saling menunjang baik sekaligus, berurutan, maupun bertahap agar diperoleh hasil pengendalian yang maksimal, stabil, efektif, efisien serta berwawasan lingkungan. PHT ini harus berdasar pada hasil pemantauan sebelumnya dan terkait juga dengan tingkat pertumbuhan tanaman (padi, palawija, tebu, dll.) di lapang. Dengan mengetahui pola dan potensi perkembangan tikus di daerah ekosistem pertanian tertentu, maka pengendalian tikus secara terpadu dapat dipersiapkan dengan baik. Untuk mengetahui pola perkembangan-biakan, maka sistem pemantauan populasi tikus diperlukan sejak awal. Oleh karena itu upaya pemantauan yang serius merupakan kunci keberhasilan pengendalian secara terpadu. Adapun teknik-teknik pengendalian yang dapat diterapkan secara terpadu dalam pengendalian hama tikus, antara lain adalah : tanam serempak, sanitasi lingkungan, pengendalian secara mekanis dan biologis, pengendalian secara kimiawi (pengumpanan beracun, pengasapan beracun). Pengendalian juga diarahkan ke daerah yang merupakan konsentrasi populasi tikus saat kondisi lahan sawah belum tersedia makanan bagi tikus. Oleh karena itu sanitasi, pemasangan umpan beracun, maupun fumigasi untuk daerah-daerah tersebut juga perlu dilakukan.UPAYA PENGENDALIAN YANG BISA DILAKUKAN SAAT INI1. Pelaksanaan pemantauan lebih digalakkan terutama pada kebun-kebun tebu yang berbatasan dengan lahan padi yang akan dipanen. 2. Sanitasi lingkungan yang bisa merupakan sarang-sarang tikus, juga gulma yang ada dalam kebun tebu.3. Pihak PG. agar segera berkoordinasi dengan petani padi maupun tebu serta instansi lain yang terkait, guna persiapan menghadapi serangan tikus diawal musim hujan sekaligus yang merupakan akhir musim panen padi.4. Segera melakukan pengendalian secara gropyokan dan penggalian liang-liang tikus dengan bantuan anjing geladak terutama pada pematang-pematang sawah dan tebu, sekitar saluran irigasi, dan sekitar rumpun bambu. Konsentrasi kegiatan diarahkan pada daerah yang sudah diketahui banyak ditemukan liang tikus yang aktif. Cara gropyokan ini memang sangat tepat dilakukan pada saat ini, karena bersamaan dengan masa padi bunting berarti musim tikus beranak, jadi liang tikus banyak berisi cindil yang belum bisa berlari cepat. Di samping itu, perburuan tikus yang lari ke lahan tebu akan mudah karena tebu masih muda sehingga tidak menyulitkan petugas peng-gropyok mengejar tikus-tikus tersebut.5. Pengendalian menggunakan sistem emposan asap beracun untuk saat ini cukup efektif bila dilakukan di pematang-pematang sawah atau tepi saluran irigasi dimana dijumpai banyak liang tikus yang aktif, namun tidak akan efektif bila dilakukan pada lahan tebu karena tanahnya kering dan pecah-pecah. Sistem emposan pada lobang/liang tikus di pematang sawah saat ini efektif karena populasi tikus kecil dominan di dalam liang, sehingga hasil pengendalian berupa penekanan populasi tikus akan sangat nyata.Penyediaan rodentisida, baik yang berupa racun akut maupun racun antikoagulan. Namun demikian aplikasi rodentisida ini baru bisa dilaksanakan pada saat setelah tanaman padi dipanen, jadi tidak pada saat ini. Apabila rodentisida tersebut dipasang saat ini pasti tidak akan efektif, karena masih banyak tersedia cukup makanan berkarbohidrat yang lebih menarik bagi tikus di lapang yakni berasal dari tanaman padi. Penggunaan rodentisida racun akut (misal : zink phosphide, temix) hanya disarankan sebanyak maksimum 2 kali penaburan di awal gerakan terutama di daerah yang diketahui populasi tikusnya cukup tinggi. Hal ini untuk menghindarkan terjadinya tikus jera umpan tersebut. Langkah selanjutnya menggunakan racun antikoagulan (misal : brodifacoum). Apabila menggunakan racun antikoagulan pada musim hujan, maka lebih disarankan memakai yang sudah dalam bentuk kubus / blocks (misal : Klerat RMB). Hal ini untuk menghindari kehilangan rodentisida terbawa oleh aliran air hujan.