Budaya masyarakat kita sangat lekat dengan budaya asli nenek moyang kita, selain juga dipengaruhi oleh budaya yang datang dari luar seperti dari budaya dari Timur Tengah, Cina, dan budaya Barat. Budaya kita cukup berpengaruh dalam menentukan kalender waktu penyelenggaraan pesta atau hari-hari besar seperti pernikahan, dll. Kalender waktu tertentu ini sangat menentukan permintaan bunga potong, termasuk Krisan. Kalender waktu tertentu ini sangat terkait dengan permintaan bunga potong. Selain berdasarkan kalender waktu tertentu ini, segmen pasar Krisan merupakan salah satu faktor penting dalam strategi pemasaran. Penggunaan Krisan sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi maupun gaya hidup konsumen. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang akan cenderung semakin tinggi pula tingkat prestisenya. Hal ini cenderung mendorong menggunakan bunga Krisan yang berkualitas tinggi dan penggunaan jumlah Krisan yang semakin banyak. Permintaan bunga juga akan ramai pada hari-hari raya atau hari-hari besar yang banyak diperingati masyarakat dengan menggunakan rangkaian bunga, seperti Natal, Idul Fitri, Imlek, Cap Gomeh, Valentine Day, hari kemerdekaan Republik Indonesia, dll. Begitu juga permintaan bunga untuk rangkaian bunga atau dekorasi pada acara launching atau berbagai momen menarik lainnya. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya gaya hidup masyarakat, terutama masyarakat ekonomi menengah dan atas tersebut merupakan pasar potensial untuk permintaan bunga potong, khususnya Krisan. Krisan di Pasar GlobalNegara pengekspor Krisan terbesar di dunia adalah Belanda dengan nilai ekspor 283.582.000 Euro atau setara dengan Rp. 283.582.000 atau setara dengan Rp. 3.737.610.760.000. Belanda menguasai pasar ekspor terbesar dunia yaitu 96% dari total ekspor dunia. Pengekspor Krisan terbesar kedua yaitu Belgia dan pengekspor Krisan ketiga dari Austria. Ada lima negara pengimpor bunga Krisan terbesar di dunia yaitu Inggris, Rusia, Jerman, Perancis, dan Italia. Sedangkan Asia mengimpor Krisan baru 0,61% dari total perdagangan Krisan dunia. Pasar potensial terbesar untuk Asia yaitu Jepang. Menurut hasil riset pasar Krisan di Jepang pada awal tahun 2012, menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi Krisan Potong tahunan di Jepang mencapai lebih dari 2 miliar tangkai atau lebih daru 30% dari total konsumsi bunga potong. Pasar Krisan Jepang belum digarap serius. Selama ini ekspor Krisan potong dari Indonesia antara lain PT. Alam Indah Bunga Nusantara dan eksportir benih Krisan yaitu PT. Transpalant Indonesia. Kualitas Krisan yang dikirim ke Jepang cukup tinggi yaitu grade AA dengan quality control yang sangat ketat. Selain peluang ekspor ke Jepang, terdapat peluang ekspor Krisan dan negara-negara Timur Tengah dan Korea dengan syarat mutu yang terlalu ketat. Permintaan ekspor ke Korea belum dapat dipenuhi walaupun para buyer telah menawarkan ke berbagai produsen dan petani di berbagai sentra Krisan. Yang perlu diperhatikan untuk ekspor adalah mutu yang baik dan stabil, serta kontinuitas ketersediaan produk. Selain itu, bagi para eksportir pemula, akan lebih baik dirintis melalui kerjasama sebagian eksportir yang sudah berpengalaman. Segmen Pasar Business to BusinessPeluang pasar menurut segmen Business to Business, dikelompokkan bisnis dekorator (45%), florist (40%), hotel (10%), dan rumah tangga (5%). Pada segmen pasar Business to Business, Krisan merupakan bahan/bagian atau barang modal untuk produk suatu usahanya. Dengan demikian, kualitas yang baik, harga tidak tinggi, dan bersaing serta kontinuitas pasokan menjadi tuntutan mereka, namun pembelian akan relatif banyak dan kontiniu. Segmen Pasar Menurut Rantai PasarSegmen pasar Krisan menurut rantai pasar, dapat dikelompokkan dalam segmen pedagang pengumpul, agen, distriburtor, pedagang pengecer/retail, atau pengecer. Bila pilihan segmen pasar ke pengecer, permintaan relatif sedikit dan tidak sekaligus walaupun harga lebih tinggi per satuannya, namun relatif lambat sehingga menanggung resiko produk tidak laku atau rusak. Sedangkan apabila segmen pasar kepada agen/distributor, produsen dapat menjual dalam jumlah banyak dan sekaligus, namun harga persatuan relatif rendah dan resiko tidak terjual kecil. Tidak sedikit pembelian dilakukan dengan sistem ijon atau dibeli dengan cara borongan sebelum waktu panen dengan harga relatif murah, kurang dari harga standar yang ada. Hanya saja perlu diwaspadai dan selektif dalam memilih agen/distributor karena terkadang barang atau produk dibawa duluan dan akan dibayar belakangan. Bahkan ada kemungkinan tidak dibayar karena beberapa perilaku pedagang yang nakal. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Nilai Jual Krisan PotongBeberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam usaha Krisan potong yang cukup mempengaruhi dan menentukan nilai jual Krisan potong termasuk tingkat keuntungan dan kelangsungan usaha, antara lain (1) mutu (grade AA, A, B, dan grade C), (2) perlakuan pascapanen (pembersihan 5%, grading 10%, dan packaging 85%, (3) biaya transportasi (kebun ke packing house 20%), packing house ke konsumen 80%, (4) rantai pasar (tingkat petani produsen, pengumpul, grosir, pengecer), (5) tipe krisan (spray dan standar), (6) varietas, (7) biaya tenaga kerja, (8) biaya sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), (9) biaya prasarana (rumah produksi, listrik, instalasi air), (10) jumlah pesaing, (11) tujuan pemasaran, (12) segmen pasar yang dituju, (13) efisiensi produksi, dan (14) luasan lahan produksi, dan lain-lain. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan