Loading...

PERSIAPAN LAHAN TANAMAN KRISAN

PERSIAPAN LAHAN TANAMAN KRISAN
Tanaman krisan dapat dibudidayakan secara komersial yaitu ditanam dalam pot, polibag atau wadah lainnya baik dalam rumah kaca maupun dilahan terbuka.Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan secara monokultur maupun secara tumpang sari. Budidaya tanaman krisan secara monokultur dilahan yaitu dengan cara mempersiapkan lahan terlebih dahulu, setelah lahan diolah dan siap untuk ditanam kemudian menentukan jarak lubang tanam. Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7. Dan krisan dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat 700 – 1200 m dpl, suhu udara untuk pertumbuhan (siang : 20-28 oC dan malam : 15-20 oC), kelembaban udara selama pertumbuhan awal 90 -95 %, dan setelah tanam, tingkat keasaman tanah pH 6,2 – 6,7 dan EC o,* mS/cm – 1mS/cm. Selanjutnya daerah sentra produsen krisan di Indonesia diantaranya adalalah: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara). Peluang mengembangkan budidaya krisan potong untuk memenuhi kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri akan tetap terbuka luas seiring permintaan bunga potong krisan yang semakin meningkat. Apabila ingin mengembangkan budidaya bunga potong khususnya krisan ada baiknya untuk memahami betul tentang pengenalan tanaman krisan karena pemeliharaannya yang tergolong gampang-gampang susah adapun yang harus diperhatikan diantaranya adalah 1. Melakukan pengecekan ke lokasi lahan yang dijadikan pilihan untuk budidaya tanaman krisan. 2. Mengecek fisik tanah untuk mengetahui porositas atau keremahan tanah. Jenis tanah yang baik adalah yang berpasir dan kaya akan bahan organik. 3. Melihat kondisi dranase, kelancara pembuangan air, kemungkinan tergenan air atau kebanjiran. Kalau dranase kurang baik maka perlu diperbaiki dranasenya sehingga tidak banjir. Melakukan uji kadar air agar mengetahu kandungan air tidak tercemar logam berat atau limbah beracun. 4. Mengukur pH tanah yang baik adalah 6-7 . bila terlalu rendah perlu penambahan kapur dolomit atau memilih lokasi yang lebih cocok sesuai pHnya. 5. Mencari informasi ke Dinas pertanian terdekat tentang lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman krisan yaitu lahan yang bebas dari patogen penyebab busuk akar, bercak dan busuk daun. 6. Pengecekan data curah hujan 10 tahun terakhir, bila minimum 112 mm/bulan dan tidak terlalu tinggi curah hujannya, lahan tersebut cocok untuk budidaya krisan. 7. Cek riwayat penggunaan lahan kepada petugas pertanian atau penduduk/petani sekitar lahan 8. Cek peruntukan lahan dengan rujukan RUTR dan RDTRD di tata kota. Sebaiknya menggunakan lahan yang sesuai dengan RUTR dan RDTRD untuk menghindari penggusuran. 9. Cek ketersediaan sarana jalan penghubung ke lahan usahatani untuk memudahkan transportasi atau pengangkutan. Bila sulit dijangkau dengan alat transportasi, sebaiknya dipertimbangkan 10. Kumpulkan informasi lain yang mendukung, ketersediaan tenaga kerja lokal yang cukup dan murah. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara; Pembersihan lahan, pembajakan atau penggarpuan sedalam 30 cm dilakukan dua kali keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yg kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma agar dapat menghasilkan olahan tanah yang gembur dan subur. Bila tanah yg mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan kemudian tanah diolah ulang agar tercampur dengan merata. Penambahan Bahan Organik dengan : Pupuk Kandang: 6 - 8 m3/ 500m2- Sabut Kelapa : 70 – 100 karung (7 m3) / 500m2 - Sekam Padi : 70 – 100 karung (7 m3) / 500 m2, Kapur : 100 -200 kg / 500 m2, Bagas tebu (ampas tebu), Pupuk hijau, Selanjutnya dibentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm. Pasang drip irigasi pasang jaring & springkle/irigasi curah. Selain itu tanaman krisan dapat dibudidayakan dalam pot, polibag atau wadah lainnya, media pot yang digunakan bisa menggunakan sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah dan sekam padi (1:1). Cara pengisian media tanaman dalam pot yaitu dengan cara memasukkan media dalam pot sebanyak 2/3 bagian dari tinggi pot, selanjutnya media tanaman dalam pot siap untuk ditanami krisan Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Bacaan Ditjen Horti, SOP Budidaya krisan