Presiden RI telah mengajak petani untuk berswasembada padi mulai tahun 2015 dan paling akhir tahun 2017, dengan ditandai tidak ada impor beras lagi. Salah satu masalah yang dihadapi dalam pencapaian swasembada padi, yaitu belum terpenuhinya kebutuhan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi. Benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi pasti benih unggul yang merupakan salah satu faktor untuk menentukan keberhasilan budidaya tanaman. Benih padi merupakan salah satu sarana budidaya padi yang mempunyai pengaruh nyata dalam upaya peningkatan produksi dan mutu padi. Kelangkaan benih unggul padi seringkali dirasakan lingkungan petani, padahal proses produksi bisa dilakukan sendiri di lahan sawahnya. Dengan demikian perlu upaya untuk ketersediaan benih padi di lingkungan petani secara berkelanjutan. Pengembangan penangkaran benih oleh petani merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih bermutu dari varietas unggul padi di lingkungan petani. Namun masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam hal produksi benih padi. Sebagai pengetahuan awal, bagi petani yang ingin menjadi penangkar benih padi perlu memahami persiapan produksi benih padi berikut. Dalam budidaya untuk produksi benih padi, kegiatan persiapan yang paling penting sebelum memulai penanaman meliputi: pemilihan benih, penyiapan lahan, dan pembenihan. Pemilihan BenihBenih sumber yang akan digunakan untuk produksi benih padi dibutuhkan sebanyak 10 -20 kg per hektar dan harus dilakukan pemilihan dipilih benih yang baik. Caranya, benih padi sebelum disemai/ditebar terlebih dahulu direndam ke dalam larutan garam 3% atau direndam dalam larutan ZA (225 g ZA/l air), benih yang tenggelam menunjukkan benih yang baik. Benih yang baik sebelum ditebar, direndam selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam. Untuk daerah endemik hama penggerek batang gunakan perlakuan benih (seed treatment) dengan menggunakan insektisida Fipronil 50 ST, lalu benih siap ditanam. Perlakuan ini untuk mencegah hama pada stadia awal perkecambahan, merangsang pertumbuhan akar, memperkecil resiko kehilangan hasil, memelihara dan memperbaiki kualitas benih. Penyiapan Lahan Lahan sawah yang akan digunakan untuk memproduksi benih padi harus dipersiapkan dengan baik, agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi. Lahan sawah dipilih yang subur, dijamin air tersedia, bebas dari kekeringan dan banjir, tanahnya terbuka dan tidak tertutup oleh bangunan atau pohon-pohon yang besar, serta mudah dijangkau (tersedia fasilitas transportasi). Dalam penyiapan lahan sawah, seharusnya mencapurkan jerami busuk dengan pupuk kandang dan dibiarkan teraduk saat tanah diolah . Hal ini dilakukan untuk membuat tanahnya semakin subur dan tidak mudah cepat kering. Pengolahan tanah harus sempurna, dengan cara dibajak 2 (dua) kali. Setelah dibajak pertama, lahan digenangi selama 2 hari, lalu dikeringkan selama 7 hari. Selanjutnya dibajak kedua, lalu digenangi selama 2 hari dan dikeringkan lagi selama 7 hari. Terakhir tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah. Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pra-tumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari atau sesuai dengan anjuran. PersemaianPersemaian dipupuk dengan Urea, SP-36, dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/m2. Kemudian benih yang siap ditanam (kondisi baik dari hasil pemilihan dan perlakuan) tersebut di atas, ditebar pada lahan yang telah dipersiapkan dengan kerapatan 25 - 50 g/m atau 0,5 - 1 kg benih per 20 m2 lahan. Penaburan benih dilakukan secara merata lalu tutup dengan tanah, setelah itu tutup kembali tanahnya dengan dedaunan seperti daun padi yang sudah mongering atau menggunakan daun pisang. Penyiraman benih cukup dilakukan pada pagi hari dan sore saja. Setelah bibit padi berumur 15 - 21 hari dapat segera di tanam di lahan yang telah dipersiapkan. Lakukan penanaman padi dengan jarak tanam antar padi diusahakan jangan terlalu rapat agar pertumbuhan padi bisa maksimal. Jarak tanam dapat menggunakan sistem tegel (20 x 20 cm atau 25 x 25 cm atau 27 x 27 cm) dan/atau sistem legowo-2 (20 x 10 x 40 cm atau 25 x 12,5 x 50 cm atau 27 x 13,5 x 50 cm) tergantung tinggi tempat, kesuburan lahan dan varietas yang ditanam. Bibit ditanam pada kedalaman 1 - 2 cm. Sisa bibit yang telah dicabut diletakkan di bagian pinggir petakan, nantinya digunakan untuk menyulam. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam (HST) dengan bibit dari varietas dan umur yang sama. Setelah ditanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3 cm) selama 7 - 10 hari. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi petani yang ingin menjadi penangkar benih padi dan bagi penyuluh pertanian untuk memotivasi petani untuk menjadi penangkar benih padi (Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Teknik Produksi Benih Padi. Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi. 2014.2. Petunjuk Teknis Penangkaran Benih Padi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2009.3. Anonim. Penangkar Benih Padi Bermutu. Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia. 2009.