Dunia sedang hangat mendiskusikan perubahan iklim yang ditandai oleh pemanasan global akibat peningkatan kadar karbondioksida (CO2) atmosfer. Tentunya hama dan penyakit tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim tersebut. Karena keberadaan hama dan penyakit sangat dipengaruhi dinamika iklim.Hingga saat ini belum ada penelitian komprehensif tentang hubungan perubahan iklim dan hamapenyakit di lapangan. Namun, tanda-tanda di lapangan menunjukkan kaitan kuat antara masalah hama dan penyakit dengan perubahan iklim yang terjadi. Dalam tiga tahun terakhir terjadi beberapa perubahan persoalan hama dan penyakit di Indonesia, terkait peningkatan dan penurunan serangan hama/penyakit.Pada kondisi ini berdasarkan penelitian Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr.Direktur Klinik Tanaman IPB (2007)hama-penyakit menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar. Penyakit yang meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir adalah penyakit kresek pada padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae, virus Gemini pada cabai dan tomat, serta hama Thrips pada cabai. Virus gemini pada tanaman cabai dan tomat merupakan contoh lain yang fenomenal. Lima tahun lalu virus ini bukan penyakit penting. Tetapi kini menjadi penyakit paling merusak hampir di semua sentra cabai dan tomat di Pulau Jawa (seperti Bogor, Cianjur, Brebes, Wonosobo, Magelang, Klaten, Boyolali, Kulonprogo, Blitar, dan Tulungagung). Data dari Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura Departemen Pertanian juga menunjukkan peningkatan serangan dalam tiga tahun terakhir. Penyakit ini menyebabkan daun menguning dan sedikitnya produksi buah. Epidemi penyakit ini salah satunya ditentukan oleh dinamika populasi serangga vektor, yaitu kutu kebul (Bemisia tabaci). Suhu yang tinggi dan kemarau yang panjang mendukung perkembangan kutu kebul.Dunia sedang hangat mendiskusikan perubahan iklim yang ditandai oleh pemanasan global akibat peningkatan kadar karbondioksida (CO2) atmosfer. Tentunya hama dan penyakit tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim tersebut. Karena keberadaan hama dan penyakit sangat dipengaruhi dinamika iklim. Fakta tersebut menunjukkan adanya kaitan perubahan iklim—seperti peningkatan suhu—dengan masalah hama dan penyakit di Indonesia. Namun, untuk memahami masalah secara menyeluruh perlu pengkajian khusus dan dalam tentang dampak iklim terhadap perubahan hama dan penyakit. Sehingga dapat dirumuskan langkah antisipasi yang tepat, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.Untuk menghadapi perubahan iklim dalam kaitannya dengan perkembangan hama dan penyakit tanaman, diperlukan beberapa langkah. Pertama, melakukan kajian komperehensif dampak perubahan iklim terhadap hama dan penyakit tanaman, untuk menentukan langkah yang tepat bagi pemerintah maupun petani.Kedua, mengembangkan teknik budi daya yang sesuai, sehingga tanaman lebih sehat dan tahan terhadap hama/penyakit. Teknologi diarahkan untuk mengatasi kekeringan maupun banjir akibat perubahan iklim. Salah satunya dengan pengaturan waktu tanam dan penggunaaan varietas lokal. Walaupun secara umum varietas jagung lokal—seperti di Bojonegoro—produksinya tidak tinggi, tetapi sangat tahan kekeringan. Saat musim kemarau dan tidak ada irigasi, tidak satupun varietas jagung hibrida bisa tumbuh. Namun varietas lokal tetap tumbuh dan berproduksi. Sayangnya saat ini varietas lokal tersebut hampir punah.Kacang tunggak di daerah yang sama juga mampu bertahan terhadap kekeringan luar biasa. Varietas-varietas padi lokal yang tahan kering dan tahan salinitas (kadar garam) tinggi juga ada. Budi daya padi dengan teknik gogo rancah, yaitu penanaman dengan cara kering pada awal (penugalan benih) dan baru digenangi pada umur 30 harian, juga merupakan upaya pemanenan air secara optimal di daerah yang musim hujannya pendek. Penanganan yang lebih ramah lingkungan dalam pengendalian hama dan penyakit penting dilakukan melihat indikasi makin beratnya serangan beberapa hamadan penyakit akhir-akhir ini. Penanganan sembarangan dengan pestisida kimia bisa memicu ledakan hama/penyakit yang lebih besar. Menggunakan varietas tahan, mulsa organik, pengendalian hama/penyakit secara mekanik (pemungutan hama/penyakit), penggunaan pestisida nabati, dan agen pengendali hayati, bisa mengurangi kerusakan lingkungan.Yang terpenting adalah peningkatan pemahaman agroekosistem oleh petani sehingga lebih jeli mengamati dan menyikapi perubahan. Kemampuan petani untuk mengenali, menganalisis, dan memutuskan suatu tindakan merupakan kunci keberhasilan adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim, khususnya kaitannya dengan hama dan penyakit tanaman. Pendekatannya bisa berupa Sekolah Lapangan, baik sekolah lapangan iklim maupun pengendalan hama terpadu.