Memasuki hari kedua kegiatan PEDA KTNA XV Tingkat Provinsi NTT di Mbay, Kabupaten Nagekeo, para peserta mengikuti kegiatan kunjungan lapangan. Salah satu rutenya adalah Balai Penyuluhan Pertanian Rendu Kecamatan Aesesa Selatan, Kawasan Agroforestry dan Peternakan SMK Pembangunan Pertanian St. Isidorus Boawae, Kawasan Perkebunan sepanjang Jalan Boawae - Mauponggo, Kampung Agropolitan Sawu Obo Kecamatan Mauponggo dan Kampus Politani St. Wilhelmus Boawae. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Wolfgang Lena, SP.M.Si menyatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk mengarahkan para peserta belajar dan menyaksikan pembangunan pertanian, kehutanan dan obyek agrowisata untuk menumbuhkan motivasi, memperluas wawasan dan menambah pengetahuan dalam berbagai aspek pembangunan.BPK Rendu Desa Tengatiba Kecamatan Aesesa Selatan adalah titik perhentian pertama. Untuk menggugah pola pikir para peserta diajak melihat kondisi alam yang marginal. Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Yohanes Tay Ruba, yang turut serta dalam rombongan, menyatakan bahwa perjalanan tersebut merupakan sejarah tersendiri bagi masing-masing peserta maupun tuan rumah. "Kawasan Rendu bisa menjadi sumber oksigen bagi Kota Mbay," ungkapnya menantang. Dilanjutkan pula bahwa lahan kritis akan menjadi potensi besar pertanian jika diupayakan dengan kerja, kerja dan kerja. Salah satunya dengan menanam pohon-pohon industri dan tanaman perkebunan. Kegiatan di tempat ini selesai dengan penanaman mangga oleh setiap perwakilan kabupaten/kota. Berikutnya rombongan berarak menuju Boawae. Yang pertama dikunjungi adalah salah satu peternakan ayam broiler milik masyarakat sebelum akhirnya berhenti lagi di Kompleks Agroforestry milik SMK-PP St. Isidorus Boawae tidak jauh dari situ. Romo Edy Dopo, Pr selaku Kepala Sekolah menyambut antusias kunjungan tersebut dengan berbagai hidangan pangan lokal. Di tempat ini pula, Bupati Nagekeo, Drs. Elias Djo, yang menyusul rombongan tidak lama kemudian, berkesempatan meresmikan Laboratorium Lapangan Agrobisnis Terpadu milik lembaga pendidikan insan pertanian tertua di NTT tersebut. Kampung Agropolitan Sawu Obo di Kecamatan Mauponggo menjadi titik kunjungan berikutnya. Komoditi perkebunan dan perhutanan menjadi perhatian utama bagi peserta di bagian tengah dan selatan daerah ini. Setibanya di gerbang utama kampung, rombongan disambut dengan tari-tarian dan musik tradisional bertepatan dengan ritual adat Yobo – Yindi yang baru saja selesai. Bupati Nagekeo menyatakan bahwa realitas kampung tersebut menjadi roh yang terkandung dalam Visi Bupati Tahun 2013 – 2018.Jamuan makan menjadi kenangan istimewah sekaligus menutupi kunjungan. Sebelum kembali ke Mbay para peserta juga mengunjungi lokasi pengolahan hasil perkebunan dan singgah di Kampus Politeknik St. Wilhelmus Boawae. Para peserta menyatakan sangat puas dengan kegiatan ini dan berniat menularkan kebaikan-kebaikannya ke tempat masing-masing.(Ignasius S.)