Loading...

PESTISIDA DAN PENGGUNAANNYA

PESTISIDA DAN PENGGUNAANNYA
APA SIH FORMULASI PESTISIDA ITU??OlehAyutia Ciptaningtyas Putri, S.SiPMHP Ahli PertamaHampir semua petani maupun masyarakatumum sudah mengenal pestisida. Akantetapi tahukah bahwa pestisida seperti yangkita dapatkan di kios-kios pestisida tidakdijual dalam bentuk murni, melainkan harusdiformulasikan terlebih dahulu agar mudahdiaplikasikan. Formulasi pestisida merupakancampuran yang homogen dan stabil daribahan aktif dan bahan tidak aktif sehingga produk lebih mudah dan lebih amandigunakan. Pestisida harus diformulasi untuk mempermudah penanganan dan aplikasidi lapangan, meningkatkan keselamatan bagi pengguna, konsumen dan lingkungan, meningkatkan efikasi pestisida di lapangan dan meningkatkan kestabilan produk. Bahan aktif adalah senyawa kimia atau bahan-bahan lain yang memiliki efekbiologi sebagai pestisida (meracuni, membunuh atau mempengaruhi kehidupanorganisme pengganggu tumbuhan). Bahan aktif murni sangat beracun, berbahaya, adayang tidak stabil, dan ada yang sulit (atau tidak aman) saat pengangkutan ataupunpenyimpanan. Untuk mengatasi masalah ini, produsen menambahkan bahan tidak aktif(inert) ke produk pestisida. Inert ditambahkan agar pestisida mudah digunakan, meningkatkan kinerja pestisida di lapangan, menyebarkan pestisida pada bidangsasaran, meningkatkan penetrasi pestisida pada sasaran, meningkatkan kestabilan danumur simpan produk pestisida. Bahan tidak aktif terdiri dari bahan pembantu (adjuvant) dan bahan pembawa(carrier). Adjuvant adalah senyawa lain yang karena kegunaannya dimaksudkan untukmembantu tercapainya tujuan penggunaan pestisida. Jenisnya antara lain, bahanpenyebar untuk meningkatkan daya sebar pestisida pada bidang sasaran, bahan peratauntuk memperbaiki daya merata pestisida pada bidang sasaran, bahan perekat untukmeningkatkan daya rekat, bahan pembasah untuk meningkatkan daya membasahi danbahan untuk membantu daya terobos (masuk) kedalam jaringan tanaman, umumnyadipakai pada herbisida yang sistemik. Bahan pembawa (carrier) digunakan untukmenurunkan konsentrasi produk pestisida, tergantung pada cara penggunaan yangdiinginkan. Bahan pembawa bisa berupa air, minyak, talk, bentonit, tepung diatome danpasir. Global Crop Protection Federation (GCPF; federasi perlindungan tanaman dunia, sekarang Croplife International) telah menyusun kode standart untuk menandaiberbagai macam formulasi pestisida. Secara umum formulasi pestisida dapatdigolongkan dalam 2 (dua) golongan yaitu formulasi cair dan formulasi padat. Formulasicair biasanya terdiri dari bahan aktif, pelarut dan bahan tambahan seperti pengelmusi, perata, dan perekat. Formulasi cair, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah :1. Emulsifiable Concentrate (EC), yaitu formulasi cair yang dibuat denganmelarutkan bahan aktif dalam pelarut tertentu dan dengan menambahkansatu macam atau lebih surfactant atau pengemulsi. Formulasi ini biasadigunakan dicampur dengan air dan akan segera menyebar berupa butir-butirsangat kecil yang tersebar dalam air. Kelebihan formulasi EC adalah konsentrasi tinggi yang berarti hargapersatuan berat bahan aktif relatif murah, dalam penggunaannyamemerlukan sedikit pengadukan dan sedikit meninggalkan "residu yangtampak" pada bidang sasaran. Sedangkan kelemahan formulasi EC adalahmudah menimbulkan overdosis karena kesalahan kalibrasi, resiko terjadinyafitotoksik lebih besar, mudah diserap kulit manusia dan kemungkinan korosif. 2. Water Soluble Concentrate (WSC), merupakan formulasi cair yang terdiri daribahan aktif yang dilarutkan dalam pelarut tertentu (organik) yang dapatbercampur dengan air itu sendiri. Formulasi ini mirip EC, tetapi jika dicampurair tidak membentuk emulsi, melainkan akan membentuk larutan homogen. 3. Aqueous Concentrate (AC), merupakan pekatan pestisida yang dilarutkandalam air. Formulasi ini umumnya berupa pestisida berbahan aktif dalambentuk garam yang memiliki kelarutan tinggi.4. Flowable (F), merupakan formulasi berbentuk konsentrasi cair yang sangatpekat. Jika dicampurkan air, sediaan ini akan membentuk suspensi (partiketpadat yang melayang dalam media cair). Kelebihan formulasi ini antara lain jarang menyumbat nosel, penanganan danaplikasinya mudah dilakukan dan tidak memercik. Sedangkan kelemahannyaantara lain membutuhkan pengadukan terus menerus dan seringmeninggalkan residu tampak pada bidang sasaran. 5. Ultra Low Volume (ULV), merupakan sediaan khusus untuk penyemprotandengan volume sedikit. Formulasi padat umumnya mengandung bahan aktif, bahan pembawa (carrier), pembasah dan perata. Formulasi padat, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah :1. Wettable Powder (WP) atau Dispersible powder (DP), merupakan sediaanberbentuk tepung kering yang halus, yang apabila dilarutkan dalam air akanmembentuk suspensi. Apabila bahan aktif berupa padatan, maka bahan aktiftersebut ditumbuk halus dan kemudian dicampur dengan bahan pembawainert yang sesuai, misalnya tanah liat. Besar partikel tepung biasanya tidaklebih besar dari 45 mikron. Kelebihan formulasi WP antara lain relatif murah, resiko fitotoksisitas lebihrendah dan kurang diserap oleh kulit. Sedangkan kelemahannya antara lainmenimbulkan debu ketika dituang, memerlukan pengadukan secara terus- menerus, bersifat abrasif dan bisa meninggalkan residu yang tampak padabidang sasaran. 2. Soluble Powder (SP), formulasi ini hampir sama dengan formulasi WP, tetapibahan aktif maupun bahan pembawa dan bahan lainnya dalam formulasi inidapat langsung larut dalam air membentuk larutan homogen. 3. Granular (G), merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi bahan aktifrendah. Dalam formulasi ini, bahan aktif dicampur dengan dilapisi oleh ataumenempel pada bagian luar dari bahan pembawa yang inert, seperti tanahliat, pasir, atau tongkol jagung yang ditumbuk. Formulasi granular digunakanlangsung dengan menebarkannya tanpa dicampur dengan bahan pengencer.Kelebihan formulasi granular antara lain siap pakai sehingga tidak perlumencampur, tidak memerlukan drift, tidak berdebu, dan tidak memercik, tidakmudah diserap kulit dan tidak memerlukan alat aplikasi yang rumit. Sedangkan kelemahannya antara lain lebih mahal, memerlukan pengolahantanah setelah penaburan dan memerlukan kondisi tertentu agar aktif. 4. Dust (D), pestisida dalam bentuk debu terdiri dari bahan pembawa yangkering dan halus, yang mengandung bahan aktif 1 -10 persen, ukuranpartikelnya berkisar lebih kecil dari 75 mikron. Formulasi ini biasanyadigunakan dengan alat khusus yang disebut duster, aplikasinya tanpadicampur dengan bahan lain dan dimanfaatkan untuk mengatasi pertanamanyang berdaun rimbun/lebat, karena partikel debu dapat masuk keseluruhbagian pohon. 5. Water Dispersible Granule (WDG) atau Dry Flowable (DF), merupakansediaan berbentuk butiran mirip granular tetapi penggunaannya sangatberbeda harus diencerkan terlebih dahulu dengan air dan digunakan dengancara disemprotkan. Kelebihan formulasi ini antara lain pengukuran danpencampurannya mudah dan resiko bagi keselamatan pengguna lebih kecil(tidak memercik dan tidak berbau). Setiap pestisida harus diberi pembungkus/wadah dan label dalam bahasaIndonesia yang berisi keterangan-keterangan yang dimaksud, sesuai dengan SuratKeputusan Menteri Pertanian No. 429/Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan- ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida. Adapun prinsip pemberian nama dagang formulasi pestisida yang tertera dalam labelsebagai berikut :1. Jika diformulasikan dalam bentuk padatan, angka di belakang nama dagangmenunjukkan kandungan bahan aktif dalam persen. Sebagai contohInsektisida Furadan 3GR berarti insektisida ini mengandung bahan aktifkarbofuran 3% dan diformulasikan dalam bentuk GR (butiran). Jika kemasanjual Furadan adalah 2 kg, maka kandungan bahan aktifnya 60 gram dalamtiap kemasan 2 kg dan sisanya 1,94 kg adalah bahan pembawanya.2. Jika formulasinya dalam bentuk cair, angka di belakang nama dagangmenunjukkan jumlah gram bahan aktif untuk setiap liter produk. Sebagaicontoh Insektisida Decis 25 EC berarti kandungan bahan aktif deltametrin 25gram dalam setiap liter produk Decis 25 EC. 3. Jika produk tersebut mengandung lebih dari satu macam bahan aktif makakandungan bahan-bahan aktifnya dicantumkan semua dan dipisahkandengan garis miring. Sebagai contoh, Insektisida Sankill 530/60 EC berartimengandung bahan-bahan aktif klorpirifos 53 % dan sipermetrin 6 % dandiformulasikan dalam bentuk EC. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 39/Permentan/SR.330/7/2015tentang Pendaftaran Pestisida, setiap pestisida yang akan diedarkan di Indonesia harusdilakukan serangkaian uji untuk memastikan pestisida yang beredar relatif amandigunakan. Daftar Pustaka :Anonim, 2010, Pengenalan Formulasi dan Alat Aplikasi Pestisida, http://bpplentengsumenep.blogspot.co.id/2010/12/pengenalan-formulasi-dan-alat- aplikasi.html diakses tanggal 18 Oktober 2017Anonim, Pesticed Formulations, https://www.extension.umn.edu/agriculture/pesticide- safety/ppat_manual/Chapter%204.pdf diakses tanggal 18 Oktober 2017Djojosumarto P, 2000, Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian, Yogyakarta: PenerbitKanisiusEko heri purwanto, 2012, formulasi pestisida, http://masechoamcp.blogspot.co.id/2012/12/formulasi-pestisida.html diaksestanggal 10 Oktober 2017Panut Djojosumarto, 1993, Pestisida dan Aplikasinya, Jakarta: Penebar swadayaRohmadiyanto, 2015, Pengenalan Formulasi Bentuk dan Jenis Pestisida, https://www.scribd.com/doc/315780105/pengenalan-formulasi-bentuk-dan-jenis- pestisida diakses tanggal 18 Oktober 2017Rudy C tarumingkeng, 2001, Pestisida dan Penggunaannya, http://rudyct.tripod.com/TOX/PESTISIDA.htm diakses tanggal 10 Oktober 2017Sastroutomo SS, 1992, Pestisida: Dasar-dasar dan Dampak Penggunaanny