Loading...

Pestisida Nabati

Pestisida Nabati
Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari ekstrak tumbuhan seperti akar, daun, batang, bunga, buah atau biji. Ekstrak tumbuhan tersebut memiliki fungsi sebagai racun perut, racun kontak, penolak, penarik, antifertilitas (penghambat reproduksi), penghambat pertumbuhan dan bentuk lainnya. Pestisida nabati memiliki cara kerja yang unik baik secara tunggal maupun perpaduan berbagai cara kerja. Pestisida nabati tidak selalu mematikan hama, namun dapat bekerja sebagai pengusir atau perangkap hama sasaran (BPTP Jambi, 2008). Efektivitas penggunaaan pestisida ini dipengatuhi oleh beberapa faktor diantaranya komposisi tumbuhan, bahan aktif, teknik, dan jumlah yang digunakan dalam campuran formula serta kondisi cuaca dan waktu aplikasi. Penggunaan pestisida nabati di Indonesia bukan hal yang baru. Nenek moyang kita telah menggunakannya secara turun-temurun dan merupakan kearifan lokal atau pengetahuan asli masyarakat, sebagaimana halnya penggunaan akar tuba untuk menangkap ikan dan mengendalikan hama, perasan daun tembakau untuk membunuh lintah, penggunaan daun suren di pematang sawah untuk menghalau hama walang sangit, dan lainnya. Penggunaan pestisida nabati sangat disarankan dalam manajemen pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Hal ini tentu karena kelebihan yang dimiliki pestisida nabati. Beberapa keunggulan pestisida nabati (1) pestisida jenis ini dapat terurai dalam jangka waktu singkat dari pada bahan alternatif sintetisnya; (2) terdapat banyak sumber tumbuhan penghasil bahan aktif; (3) toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relatif lebih aman pada manusia; (4) memiliki rentang pengendalian (cara kerja) yang luas dan bersifat selektif; (5) relatif tidak menimbulkan kekebalan terhadap hama (6) dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida sintetis dan (7) tidak meracuni dan merusak tanaman, (Setiawati, W. et al., 2008). Pestisida ini juga tidak menimbulkan resistensi pada OPT sasaran karena sifatnya yang mudah terurai di lingkungan. Selain kelebihan yang telah disebutkan di atas, pestisida nabati terbuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita dan cukup mudah didapatkan. Selain itu, pestisida nabati dapat diproduksi menggunakan peralatan yang relatif sederhana sehingga petani dapat membuatnya secara mandiri dalam skala rumah tangga. Oleh karena itu, penggunaan pestisida jenis ini mampu mengurangi biaya input pertanian sehingga dapat meningkatkan margin keuntungan petani. Masih menurut Setiawati, W. et al., (2008), selain kelebihan yang telah disebutkan di atas, pestisida ini juga memiliki beberapa kekurangan. kekurangan penggunaan pestisida nabati tersebut antara lain: (1) cepat terurai, sehingga aplikasinya harus lebih sering dan volume lebih banyak; (2) daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan serangga/memiliki efek lambat); (3) kapasitas produksinya masih rendah dan belum dapat dilakukan dalam jumlah massal (bahan tanaman untuk pestisida nabati belum banyak dibudidayakan secara khusus); (4) ketersediaannya di toko-toko pertanian masih terbatas dan (5) kurang praktis serta tidak tahan disimpan dalam waktu lama. Kelemahan lain adalah bahan aktif yang berasal dari bahan alami lebih sensitif terhadap sinar matahari, sehingga perlu dilakukan pengembangan dan inovasi produk penunjang seperti penambahan bahan aditif perekat/pelekat/pelindung yang kompatibel dan aman bagi lingkungan (Astuti dan Widyastuti, 2016). Penambahan bahan pengemulsi tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterlarutan bahan aktif yang terkandung pada organ tumbuhan. Hal ini karena sebagian besar senyawa organik nabati tidak polar sehingga sukar larut dalam air. Bahan nabati alami juga terkandung dalam kadar rendah, sehingga untuk mencapai efektivitas yang memadai diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyak (Martono, 1997). Selain kelebihan dan kekurangan pestisida nabati di atas, dari segi sosial dan budaya penggunaan pestisida nabati di kalangan petani masih kurang masif. Hal tersebut disebabkan kemampuan pestisida nabati dalam mematikan OPT tidak berdampak secara instan atau dengan kata lain daya bunuh rendah dan perlu pengaplikasian yang lebih sering sehingga animo petani kurang (Sutriadi, et al, 2019). Penggunaan pestisida nabati memiliki manfaat langsung maupun tidak langsung bagi petani dan konsumen. Penggunaan pestisida nabati dalam produksi pangan mampu mengurangi pencemaran bahan makanan sedangkan bagi petani juga dapat meningkatkan kualitas produk dan harga produk yang dihasilkan. Pengendalian OPT menggunakan pestisida nabati lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida berbahan aktif sintetis. Bahan alami yang digunakan unutk membuat pestisida ini mudah terurai (biodegradable) dan tidak meninggalkan residu pada tanaman, areal perairan, maupun tanah sehingga tidak mencemari lingkungan. Pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Hal tersebut menjadikan penggunaan pestisida nabati sebagai salah satu solusi ramah lingkungan dalam rangka menekan dampak negatif akibat penggunaan pestisida kimia sintetis yang berlebihan (Balintan, 2014). Selain itu penggunaan pestisida ini dalam jangka waktu yang lama tidak menyebabkan penurunan kualitas air permukaan, maupun pencemaran pada tanah dengan sifatnya yang mudah terurai. Hal ini juga tentu menjadikan bahan pangan dari pertanian yang mengunkan pestisida jenis ini menjadi lebih aman dan terhindar dari residu bahan kimia. Berkurangnya pencemaran pada bahan pangan ini sudah dibuktikan oleh Kardinan (2009) dimana hasil penelitianya menunjukkan penggunaan pestisida nabati dalam produksi pangan mampu mengurangi pencemaran bahan makanan. Budidaya tanaman pertanian yang menggunakan pestisida nabati dalam pengelolaanya akan menghasilkan bahan makanan yang lebih sehat, aman dikonsumsi, serta terhindar dari potensi terpapar cemaran bahan kimia. Sedangkan dari sisi ekonomi manfaat yang didapat petani adalah peningkatan kualitas produk sehingga dapat meningkatkan harga produk pertanian yang dihasilkan. Selain kualitas produk, penggunaan bahan alami juga dapat penghematan biaya input produksi. Sementara itu, jika petani mampu melakukan komersialisasi pestisida nabati dalam bentuk produk siap pakai maka tentu akan menambah pendapatan petani. (/PUR)